Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Sayur Mayur Picu Inflasi Sumut

- Sabtu, 14 Juni 2014 13:25 WIB
473 view
 Sayur Mayur Picu Inflasi Sumut
Medan (SIB)- Pada Mei 2014, Sumatera Utara mengalami inflasi sebesar 0,43 persen, utamanya dipicu  naiknya harga sejumlah komoditi sayur mayur, terutama tomat buah di empat kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yakni Medan, Sibolga, Pematangsiantar dan Padangsidempuan.

"Andil inflasi  tomat buah cukup besar di empat kota IHK Sumut," kata Ir Win Koesdiatmono, MSc, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut kepada wartawan di kantornya Jumat (13/6), didampingi Kabid Statistik Distribusi Bismark S Pardamean serta Kepala Seksi Diseminasi dan Layanan Statistik Pendi Dewanto.

Win menjelaskan, pada Mei 2014 tiga kota IHK Sumut mengalami inflasi yakni Sibolga sebesar 0,96 persen, Pematangsiantar 1,61 persen dan  Medan 0,30 persen. Sedangkan Padangsidempuan mengalami deflasi sebesar 0,14 persen.

Di Medan, jelasnya, harga tomat naik hingga 60,44 persen sehingga memberikan andil inlfasi 0,0516. Sedangkan tiga kota IHK andilnya tertinggi yakni di Sibolga mencapai 0,9523, Pematangsiantar andilnya 0,8364 dan Padangsidempuan 0,1193.

Win mengakui inflasi yang terjadi pada Mei 2014 di Sumut ini umumnya dipicu kenaikan harga sayur mayur dan buah-buahan. Selain tomat buah, pemicu inflasi lainnya adalah kenaikan harga cabai merah, bawang merah, kangkung, wortel, kentang, jeruk dan pisang.

Menurut dia, terjadinya inflasi pada Mei 2014 menyebabkan laju inflasi kumulatif (bulan Mei 2014 terhadap Desember 2013) masing-masing kota yakni Sibolga 1,35 persen, Pematangsiantar 1,89 persen, Medan 0,71 persen dan Padangsidempuan 0,24 persen. Sementara itu inflasi kumulatif Sumut sebesar 0,82 persen.

Terjadinya inflasi pada Mei 2014 juga menyebabkan laju inflasi year on year (yoy) masing-masing kota yakni Sibolga 6,18 persen, Pematangsiantar 9,53 persen, Medan 6,87 persen dan Pematangsiantar 6,08 persen. Inflasi yoy Sumut 7,06 persen.

Khusus di Medan, Win menyebut terjadinya inflasi pada Mei 2014 dipengaruhi oleh kenaikan harga pada beberapa komoditas antara lain cabe merah, bawang merah, rokok putih, wortel, tomat buah, kontrak rumah dan kangkung.

Ketua Tim Kerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut yang juga Kepala Divisi Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Wilayah IV Sumut-Aceh Mikael Budisatrio kepada wartawan menambahkan TPID Sumut senantiasa mewaspadai kenaikan harga pangan khususnya menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Ia mengakui adanya kenaikan harga tomat, cabe merah maupun bawang merah yang signifikan di pasar saat ini dan memicu inflasi masih kecil. Cuma TPID terus memantau distribusi komoditi sayur mayur itu di pasaran.

Sebab menurut Mikael, produksi cabe merah di Sumut cukup. Cuma harganya naik jelang Ramadhan ini di pasaran masih terus dicari dimana penyebabnya. Komoditi yang mampu memicu inflasi bukan dari penawaran dan permintaan (supply and demand) melainkan dari distribusi yang merata di masyarakat. Selain itu, TPID tetap melakukan koordinasi penguatan kerjasama di daerah.

"Hanya perlu kerjasama antar daerah, kemudian mengkordinir suplai di Kota Medan. TPID akan bahas antisipasi kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri," kata Mikael.

TPID dan BPS juga mengantisipasi ke depan ada liburan, hari raya, awal tahun sekolah ditambah iklim yang panas tiba-tiba hujan. Masing-masing TPID tetap melakukan upaya agar inlfasi tidak naik. TPID di daerah diberikan kewenangan untuk bisa intervensi pasar karena punya budget khusus. (A3/h)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru