Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Dirut Bulog Ingin Masyarakat Konsumsi Singkong dan Kentang

- Jumat, 25 Juli 2014 15:16 WIB
346 view
Dirut Bulog Ingin Masyarakat Konsumsi Singkong  dan Kentang
Jakarta (SIB)- Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan masyarakat Indonesia semestinya mulai mengurangi ketergantungan terhadap beras dan gandum. Caranya adalah dengan mengonsumsi beragam bahan pangan pokok lain, seperti gadung, singkong, kentang, dan ubi jalar. "Jadi tidak semata bergantung pada beras," katanya saat ditemui di kantornya, Rabu (23/7/2014).

Masyarakat Indonesia sudah sangat bergantung pada beras dan gandum. Meski gandum tak dapat diproduksi di Indonesia, konsumsi bahan pangan ini mencapai 7,2 juta ton per tahun. "Kalau ada bencana, yang pertama kali menjadi pangan darurat adalah mie instan yang murni terbuat dari gandum. Pola pikir seperti ini harus diubah," katanya.

Sutarto mengatakan, saat kecil, dia sudah terbiasa mengonsumsi ubi rebus. Sekitar pukul sembilan pagi, dia sarapan dengan ubi rebus. Dia makan siang dengan nasi. Lalu pada sore hari dia kembali mengonsumsi ubi rebus sebagai camilan dan makan malam kembali dengan nasi. "Dengan begitu, makan nasinya jadi sedikit karena sudah kenyang dengan ubi," katanya.

Selama ini, kata Sutarto, masyarakat Indonesia terbiasa dengan pola pikir beras adalah menu utama. Dia juga ingin masyarakat mendidik anak-anak dengan mengonsumsi berbagai pilihan pangan yang berlimpah ruah di bumi Indonesia. "Saya juga ingin kebun sekolah di sekolah dasar kembali digalakkan. Dari situ, anak-anak mulai belajar menanam singkong, ubi, dan lain-lain," kata dia.

Perum Bulog menyatakan akan mengimpor 50 ribu ton beras dari Vietnam yang akan tiba di Tanah Air pada akhir Juli ini. Impor ini terpaksa dilakukan karena Badan Pusat Statistik mengeluarkan Angka Ramalan I 2014 yang menyatakan produksi beras akan mencapai 69,87 juta ton atau turun 1,98 persen dibanding tahun lalu yang sebanyak 71,28 juta ton. Perkiraan produksi ini pun lebih rendah 4,48 persen dibanding target produksi pemerintah sebesar 73 juta ton. (Tempo.co/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru