Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2014 Hanya 5,12%, Terendah Sejak 2009

- Rabu, 06 Agustus 2014 13:32 WIB
246 view
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2014 Hanya 5,12%, Terendah Sejak 2009
Jakarta (SIB)- Ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 5,12% pada kuartal II-2014. Bila melihat secara tahunan atau year on year (yoy), capaian ini merupakan yang terendah sejak 2009.

"Secara yoy, terendah sejak 2009," ungkap Suhariyanto, Deputi Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/8).

Saat itu, kata Suhariyanto, Indonesia tengah dalam pengaruh krisis ekonomi global. Pada 2009, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran 4%.
Selepas 2009, perekonomian Indonesia pulih dan mampu mencetak pertumbuhan di atas 6%. Namun, ekonomi kembali melambat memasuki 2013 dengan catatan pertumbuhan 5,78%.

"Jadi yang kali ini memang terendah sejak 2009. Kalau 2009 beda, karena saat itu tengah krisis," tutur Suhariyanto.

Bisa Tumbuh Tinggi Kalau Subsidi BBM Dikurangi
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi selalu menjadi target pemerintah setiap tahunnya.

Diharapkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Namun untuk mencapai target tersebut tidak mudah. Bahkan saat ekonomi sudah tumbuh tinggi pun harus dipastikan dalam kondisi yang sehat dan berkualitas.
"Kalau ingin pertumbuhan yang tinggi, harus kurangi anggaran untuk subsidi BBM (bahan bakar minyak). Misalnya dengan kenaikan harga," kata Suhariyanto.
Anggaran subsidi BBM masuk dalam kelompok belanja pemerintah.

Namun hanya terhitung sebagai anggaran yang konsumtif, bukan belanja produktif. Padahal, ratusan triliun rupiah dianggarkan untuk subsidi BBM.

"Kalau anggaran itu di BBM semua, berarti pemerintah nggak bisa bergerak. Belanja yang produktif seperti infrastruktur dan kesehatan, yang merupakan pendorong pertumbuhan, tidak bertambah," jelasnya.

Bila subsidi BBM dialihkan ke belanja yang lebih produktif, Suhariyanto optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai lebih dari 6%. Tidak hanya itu, neraca perdagangan dan transaksi berjalan juga akan lebih sehat.

"Selain ekonomi tumbuh, kan juga sehat. Impor minyak pasti tidak besar lagi," ujarnya.

Suhariyanto menegaskan, kebijakan ini harus diambil oleh pemerintahan mendatang.

Menurutnya, sudah jelas subsidi BBM tidak dinikmati oleh mereka yang membutuhkan yaitu masyarakat miskin.

"Siapapun pemerintahnya, harus mengurangi subsidi BBM," tukasnya. (dtf/i) 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru