Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Harga Minyak Anjlok 30 persen karena Perang Harga

* BI: Deglobalisasi Makin Nyata
Redaksi - Selasa, 10 Maret 2020 18:10 WIB
101 view
Harga Minyak Anjlok 30 persen karena Perang Harga
liputan6.com
Ilustrasi
Riyadh (SIB)
Harga minyak jatuh 30 persen di Asia pada Senin (9/3) karena adanya awal dari perang harga. Pengekspor minyak utama Arab Saudi memangkas harga minyak pada akhir pekan setelah gagal meyakinkan Rusia pada Jumat (6/3) untuk mendukung penurunan produksi yang tajam.

Kartel minyak OPEC dan sekutunya, Rusia, sebelumnya bekerja bersama dalam pembatasan produksi. Dilansir di BBC, Senin (9/3) disebutkan, acuan berjangka minyak Brent anjlok ke level terendah 31,02 dolar AS per barel pada Senin, di pasar energi volatile.

Harga minyak telah jatuh sejak Jumat, ketika 14 anggota OPEC yang dipimpin Arab Saudi bertemu dengan sekutu-sekutunya Rusia dan anggota non-OPEC lainnya. Mereka bertemu untuk membahas bagaimana menanggapi penurunan permintaan yang disebabkan oleh penyebaran virus corona.

Tetapi kedua pihak gagal menyepakati langkah-langkah untuk memotong produksi sebanyak 1,5 juta barel per hari. Hal itu menyebabkan Brent turun di bawah dolar AS per barel pada Jumat.

Dengan produksi minyak global sekarang jauh melampaui permintaan, analis minyak Martjin Rats dari Morgan Stanley mengatakan, anggota OPEC sekarang diharapkan untuk memompa lebih banyak minyak untuk menangkap pangsa pasar.

"Mengingat negara-negara OPEC sekarang memiliki insentif yang sangat sedikit untuk menahan produksi, pasar minyak terlihat kelebihan pasokan yang tajam," kata Rats.

Secara keseluruhan, terakhir kalinya harga minyak berada di level ini yakni pada Januari 2016, dan mendekati level terendah 16 tahun. Analis energi Vandana Hari, dari perusahaan riset Vanda Insights, mengatakan pasar terkejut dengan ketidaksepakatan mengenai pengurangan produksi antara OPEC dan Rusia, yang dikalahkan AS tahun lalu sebagai produsen top dunia.

"Runtuhnya aliansi OPEC / non-OPEC merupakan kejutan besar bagi pasar minyak, dan itu disertai dengan tantangan tambahan bahwa kita tidak memiliki gambaran lengkap tentang apa yang ada di depan," kata Hari.

Deglobalisasi Semakin Nyata
Penurunan harga minyak ini ditanggapi oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Menurutnya kondisi ini semakin menunjukkan tren era globalisasi di dunia semakin menurun.

“Dunia sedang hadapi penurunan globalisasi dan begitu cepatnya digitalisasi,” ujarnya saat acara Penandatangan Nota Kesepahaman Bank Indonesia, Kemenaker dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (9/3).

Perry mengatakan, sejak awal Februari kondisi perekonomian global terus mengalami tantangan seperti perang perdagangan antara Amerika Serikat dengan negara-negara mitra dagang utamanya, khususnya China. Kemudian terbaru penyebaran virus corona yang mengancam ekonomi global.

“Perang dagang awal Februari ada secerca harapan, ada sinar sedikit, merebak di pelangi tapi begitu muncul, redup kembali dengan corona. Corona sebar ke AS, Italia dll. Malam ini, pagi ini, kita dihentakan dengan perang oil, perang minyak yang kemudian membuat harganya turun dari 60 jadi 30. Ini contoh penurunan globalisasi,” jelasnya. (CNNI/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru