Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026
Kepala KPPU Wil.I Medan, Ridho Pamungkas

Tingginya Inflasi di Kota Gunungsitoli Dipengaruhi Gangguan Distribusi Pasokan Barang dan Jasa

Rickson Pardosi - Selasa, 03 Februari 2026 15:07 WIB
139 view
Tingginya Inflasi di Kota Gunungsitoli Dipengaruhi Gangguan Distribusi Pasokan Barang dan Jasa
Ist/SNN
Ridho Pamungkas

Medan(harianSIB.com)

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Kota Gunungsitoli mencatat tingkat inflasi yang sangat tinggi dibandingkan wilayah lain di Sumatera Utara dan nasional dalam beberapa periode terakhir, yang dipengaruhi terutama oleh gangguan distribusi pasokan barang dan jasa akibat bencana dan keterbatasan logistik ke wilayah kepulauan seperti Nias.

Kepala KPPU Wilayah I Medan, Ridho Pamungkas menyebutkan, bahwa secara lokal lonjakan harga barang dan jasa berimplikasi langsung pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang mengalokasikan porsi pendapatan terbesar untuk konsumsi pokok.

Ini dapat menekan permintaan domestik untuk barang dan jasa lokal, memengaruhi aktivitas sektor usaha mikro dan kecil menengah yang banyak tergantung pada konsumsi rumah tangga.

Ketika harga kebutuhan pokok naik tajam, konsumsi sektor lain seperti jasa dan perdagangan retail, cenderung terkoreksi turun karena daya beli masyarakat tertekan.

Baca Juga:
Walaupun inflasi di satu kota belum tentu langsung berdampak material terhadap angka inflasi nasional secara agregat, fenomena inflasi tinggi di daerah tertentu mencerminkan tantangan distribusi dan ketahanan pasokan di Indonesia, khususnya untuk wilayah kepulauan dan 3T.

"Ini memberi sinyal bahwa kebijakan penanganan inflasi perlu bersifat fleksibel dan terdesentralisasi, dengan perhatian khusus pada ketahanan pangan dan logistik antarwilayah agar gejolak harga lokal tidak meluas dan menambah tekanan inflasi nasional," jelas Ridho di Medan, Selasa (3/2/2026).

Dari Perspektif Persaingan Usaha, Inflasi yang tinggi juga berkaitan dengan struktur pasar lokal. Ketika distribusi terganggu dan pasokan komoditas terbatas, kekuatan pasar pelaku usaha tertentu bisa meningkat, yang berpotensi memperlebar margin harga di luar kenaikan biaya produksi yang wajar.

Dalam situasi seperti ini, persaingan usaha yang efektif sangat penting untuk mencegah praktik-praktik yang tidak sehat, seperti penetapan harga yang tidak kompetitif atau kolusi harga antar pelaku usaha.

Penguatan mekanisme persaingan yang sehat akan membantu menjaga agar kenaikan harga di pasar tetap mencerminkan biaya produksi dan distribusi yang sebenarnya, bukan perilaku anti-kompetitif yang memanfaatkan gangguan pasokan.

Dengan demikian, kebijakan persaingan usaha, pengawasan pasar selama periode gejolak harga, serta koordinasi antarlembaga untuk memastikan ketahanan pasokan dan akses pasar yang adil memiliki peran strategis dalam meredam dampak inflasi ekstrem di daerah seperti Gunungsitoli.

Seperti diketahui, Kota Gunungsitoli mengalami Inflasi 8,68 persen, tertinggi di Sumut. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut mencatat inflasi tahunan (year on year/ y-on-y) sebesar 3,8 persen pada Januari 2026 dan indeks harga tahunan (IHK) 111,4.(**)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait

Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/theme/detail.php on line 406
komentar
beritaTerbaru