Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 29 Juni 2026

China Masih Jadi Raja Eksportir Kayu dan Furnitur Dunia

* Pengusaha Mebel RI Masih Keluhkan Biaya dan Birokrasi Dokumen Kayu
- Rabu, 12 Maret 2014 20:03 WIB
600 view
 China Masih Jadi Raja Eksportir Kayu dan Furnitur Dunia
Jakarta (SIB)- Negara tirai bambu China masih menjadi pengekspor terbesar produk kayu dan furnitur di seluruh dunia. Ekspor negara tersebut mampu menguasai 30% dari total ekspor produk kayu ke seluruh dunia.

"Dari total perdagangan kayu ke seluruh dunia sebesar US$ 112 miliar, sebesar US$ 40 miliar itu dikuasai oleh China," ungkap Ketua Asosiasi Mebel Kerajinan Indonesia (AMKRI) Sunoto saat membuka acara International Furniture Expo 2014, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/3/2014).

Sementara Indonesia yang mempunyai bahan baku kayu cukup banyak, hanya menempati posisi ke-13 negara pengekspor produk kayu terbesar di dunia. Ekspor produk kayu Indonesia per tahun mencapai US$ 1,7 miliar.

Dari jumlah itu, Indonesia masih kalau jauh dengan negara Vietnam dan Malaysia. Ekspor produk kayu Vietnam per tahun mencapai US$ 4 miliar, sedangkan Malaysia mencapai US$ 2,4 miliar. Ditargetkan di 2015, ekspor produk kayu Indonesia mencapai US$ 5 miliar.

"Kita menargetkan untuk menyalip Malaysia dan Vietnam atau negara lainnya. Target kita seperti yang diutarakan Pak Gita (Gita Wirjawan Mantan Menteri Perdagangan) di tahun 2015 ekspor mencapai US$ 5 miliar," tuturnya.

Di pihak lain kata Sunoto, pengusaha mebel di Indonesia mengeluhkan birokrasi yang berbelit-belit dan besarnya biaya mengurus dokumen sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK). "Untuk usaha kecil dan menengah, biaya antara Rp 20-50 juta terlalu mahal," kata Sunoto.

Dari sekitar 5.000 pengusaha mebel di Indonesia, kata dia, baru sekitar 700 yang telah memiliki SVLK.  Kebanyakan berasal dari kalangan pengusaha berskala menengah atau besar.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjelaskan, dengan dokumen SVLK yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan, pengusaha mendapat berbagai keuntungan saat mengekspor produknya ke Eropa. "Kita sudah meratifikasi perjanjian, di mana Eropa telah mengakui SVLK Indonesia, banyak sekali insentif yang bisa didapat," ujarnya.

Lutfi menyebut produk olahan hasil hutan, termasuk mebel yang dilengkapi dokumen SVLK, hanya dikenai bea masuk sebesar 2 persen di Eropa. Biaya tersebut, serta berbagai ongkos lain termasuk bongkar muat pelabuhan, masih diberi insentif berupa potongan 8 persen. "Bandingkan dengan produk dari negara lain seperti Cina yang belum punya SVLK, bea masuknya 86 persen," ujarnya.

Keuntungan tersebut dinilai cukup signifikan mengingat beberapa negara di Eropa, seperti Inggris dan Perancis, termasuk pasar mebel utama Indonesia, selain Amerika Serikat dan Jepang. Untuk diketahui, total ekspor mebel kayu Indonesia tahun lalu mencapai US$ 1,2 miliar, sementara yang berbahan rotan nilainya mencapai US$ 219,8 juta.

Di Asia, negara yang telah menerapkan SVLK dan diakui Uni Eropa hanya Indonesia. Anehnya, ekspor mebel Indonesia masih kalah dengan Vietnam, yang nilai ekspor US$ 4 miliar per tahun dan Malaysia yang mencapai US$ 2,4 miliar per tahun. Hingga kini, penguasa pasar ekspor produk kayu di dunia adalah Cina dengan nilai ekspor US$ 40 miliar. (detikfinance/tempo.co/d)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru