Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 Juli 2026

Dorong Ekspor Melati, Petani Dipinjami Lahan Perhutani

- Kamis, 27 Maret 2014 21:04 WIB
487 view
  Dorong Ekspor Melati, Petani Dipinjami Lahan Perhutani
Slawi (SIB)- Pemerintah akan mendorong Kabupaten Tegal menjadi sentra produksi melati untuk pasar ekspor. Menteri Pertanian Suswono mengatakan pemerintah menyediakan lahan Perhutani agar dimanfaatkan petani untuk ditanami melati. "Biar ekspornya bisa menjangkau Cina yang penduduknya mencapai 1,5 miliar orang," katanya saat meresmikan rumah pengepakan melati Alamanda Sejati Utama di Tegal, Rabu (26/3).

Bupati Tegal Enthus Susmono mengatakan ekspor bunga melati dari Tegal sebesar 3-4 ton per hari. Tujuan ekspornya ke Malaysia, Thailand, dan Singapura. "Saat hari besar keagamaan, ekspor bunga melati bisa mencapai 8-9 ton," katanya.

Sebagai salah satu sentra produksi melati di Jawa Tengah, Kabupaten Tegal memiliki tiga kecamatan penghasil melati, yaitu Kramat, Suradadi, dan Warureja. Dari tiga kecamatan di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa itu, total luas lahan melati 371,3 hektare. Data Direktorat Pemasaran Internasional Kementerian Pertanian menunjukkan produksi melati di Tegal pada 2013 mencapai 9.456 ton.

Menurut Suswono, petani tidak akan pernah bisa kaya kalau hanya memiliki lahan seluas seperempat bahu (sekitar 1.660 meter persegi). "Mau diolah bagaimanapun juga hasilnya segitu saja terus," ujarnya. Selain menyediakan lahan Perhutani untuk dipinjam petani, Suswono juga menawarkan transmigrasi. "Syarat petani bisa sejahtera minimal punya lahan 2 hektare," ujarnya.

Sementara itu, hujan yang masih terus mengguyur hingga akhir Maret menyebabkan produksi bunga melati di Kabupaten Tegal menurun drastis. "Biasanya dalam sehari bisa panen 300 kilogram melati. Akhir-akhir ini hanya 15 kilogram melati," kata Wiryono, 40 tahun, seorang petani melati di Desa Maribaya, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.

Meski produksi melati merosot, harganya tidak terdongkrak. Sebab, fluktuasi harga melati tergantung pada permintaan pasar di luar negeri. Saat ini harga bunga melati Rp 17.000 per kilogram.

Selama tujuh tahun menjadi petani melati, Wiryono pernah mengalami harga tertinggi, yakni Rp 300.000 per kilogram. Sedangkan harga terendah selama ini yakni Rp 6.000 per kilogram.

Merosotnya produksi melati di Desa Maribaya juga berimbas pada menurunnya penghasilan para buruh petik. "Sekarang per hari hanya dapat dua ons saja," kata Sadiyah, 58 tahun. Untuk tiap satu kilogram melati yang dipetik, Sadiyah mendapat upah Rp 6.000. (Tempo.co/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru