Medan (SIB)- Gubsu HT Erry Nuradi dan Kepala OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Kantor Regional (KR) Sumatera Bagian Utara, Ahmad Soekro Tratmono mengkritik kinerja Bank Sumut yang dinilai belum signifikan.
"Pak Soekro OJK Orang Jawa, dia kalau marah gak nampak kita, padahal banyak disampaikan tadi berupa kritik dan saran agar Bank Sumut ke depan ada perbaikan",ujar Gubsu.
Ia menyampaikan hal itu pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan( RUPS) dan RUPS LB (Luar Biasa) PT Bank Sumut Tahun Buku 2015 di Gedung Bank Sumut Lantai 10 Jalan Imam Bonjol Medan, Sabtu siang (4/6).
Acara itu dihadiri Ketua Komisi C DPRD Sumut Salim Ritonga, para pemegang saham yakni bupati dan wali kota di Sumut dan direksi Bank Sumut.
Kritik lain Kepala OJK Sumbagut Soekro yang diungkapkan Gubsu yakni soal laba besar Bank Sumut tahun 2013 yang mencapai Rp 531 miliar, padahal saat itu bank ini masih belum memiliki direktur utama dan pengurusnya banyak belum lengkap. "Namun laba sekarang ini menurun jauh dibanding laba tahun 2013",ujar Erry.
Sesuai data yang diperoleh, laba Bank Sumut tahun terakhir ini hanya mencapai Rp 464,93 miliar.
Jadi, ungkap Gubsu, kalau didalami apa yang diungkapkan Kepala OJK Soekro,perlu dicermati apakah Bank Sumut lebih baik ketika direksinya tidak ada, ketimbang lengkap seperti sekarang ini. "Tentu ini menjadi pertanyaan bagi kita",ungkap Gubsu.
Juga soal aset Bank Sumut,kata Gubsu, yang diungkapkan Kepala OJK tahun 2015 tercatat sebesar Rp24,13 triliun, atau hanya naik 3,14 % dari tahun 2014 yang sebesar Rp23,3 triliun.Juga DPK (Dana Pihak Ketiga) meningkat 2,71 %.
Diakui Gubsu, memang ada keberhasilan yang dicapai Bank Sumut dan banyak yang bisa dipuji. "Tapi yang kita bahas di RUPS ini bukan pujian saja, tetapi banyak hal-hal lain yang perlu dikoreksi, bagaimana memicu dan memacu Bank Sumut agar benar-benar menjadi bank kebanggaan bagi kita semua. Menjadi Bank Pembangunan Daerah terbaik di Indonesia", kata Gubsu.
Di sisi lain, Gubsu menyinggung bank-bank daerah lain bisa ekspansi ke Sumut dengan membuka cabang seperti Bank Jawa Barat(BJB), Bank DKI, Bank Aceh dan Bank Banten. Sementara Bank Sumut baru ekspansi ke Jakarta.
"Kenapa bank-bank dari propinsi lain bisa ekspansi ke mari, sementara Bank Sumut tidak melakukan ekspansi misalnya ke Batam, Riau dan lainnya.? Padahal orang Sumut banyak di mana-mana. Kenapa Bank Sumut tidak mencoba melakukan ekspansi ke berbagai propinsi lain di Indonesia? " Tentunya Bank Sumut harus melakukan ekspansi dengan aturan yang ada.Jangan pula bank lain menjadi tuan rumah di Sumut", kata Gubsu.
Mengenai NPL Bank Sumut, yang disebut Gubsu masih pada posisi tidak diperbolehkan di atas 5 %, hendaknya menjadi catatan tersendiri direksi untuk bisa menekan NPL tentu tidak dengan cara gampang misalnya dengan write off tetapi dengan melakukan penagihan kredit bermasalah yang masuk dalam NPL tersebut.
"Dengan mengandalkan write off akan mengurangi laba Bank Sumut dan write off merupakan pilihan terakhir . NPL tertinggi ada di sektor syariah," sebutnya.
Gubsu Erry Nuradi berharap, wali kota/bupati mendukung penuh kemajuan Bank Sumut dengan terus meningkatkan saham semaksimal mungkin. Bahkan juga harus sudah melakukan penempatan dana pemerintah yang ada di kabupaten/kota ke Bank Sumut.
"Penambahan modal menjadi keharusan untuk memperkuat Bank Sumut," imbuhnya.
Gubsu berharap Bank Sumut harus mempunyai modal kuat, harus mendorong fungsi intermediasi, memasuki pasar yang tersedia, menjalankan fungsi GCG dan meningkatkan kredit produktif yang aman. Kalau dana-dana Bank Sumut ke BI hanya mendapat keuntungan sedikit dan siapa pun bisa melakukannya. Maka OJK dan DPRD harus siap memberi dukungan penyertaan saham dan Bank Sumut harus menyambut ini dengan baik",ujar Gubsu.
Share
Sebelumnya Kepala OJK KR 5 Sumbagut Soekro, meminta manajemen PT Bank Sumut meningkatkan "share" BPD itu yang pada 2015 masih tetap di kisaran 10an % dari total aset perbankan Sumut.
Share Bank Sumut di 2015 memang belum berubah banyak dari 2014. Padahal, katanya, sebagai bank daerah yang sudah lama beroperasi harusnya bisa lebih besar share-nya dan itu harus mendapat perhatian semua manajemen dan pemegang saham.
Menurut Soekro, selain "share" yang masih rendah, yang perlu diperhatikan adalah belum berperan maksimalnya bank itu dalam penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit.
Untuk itu, kata dia, perlu komitmen kuat untuk menjadikan Bank Sumut sebagai BPD yang memiliki daya saing tinggi, kuat dan berperan besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Komitmen kuat bukan hanya dari jajaran direksi tetapi juga pemegang saham yakni para bupati/wali kota se Sumut.
Penambahan modal,katanya, salah satu yang juga sangat penting untuk penguatan Bank Sumut
Direksi Bisnis dan Syariah
Dalam keterangannya pada wartawan Gubsu mengatakan, jabatan Komisaris Independen segera diisi Hendra Arbie pengusaha muda Medan. Namun untuk Komisaris Utama (Komut)Bank Sumut masih kosong dan kini nama-nama calon Komut sedang diproses OJK Pusat. Hal ini dibenarkan Kepala OJK Ahmad Soekro.
Soal jabatan Direktur Bisnis dan Syariah Bank Sumut sudah lama lowong,maka banyak pemegang saham meminta PSP(Pemegang Saham Pengendali )Bank Sumut Gubsu Erry Nuradi segera menetapkan nama-nama calon ke OJK Pusat."Kami ingin jabatan direksi ini segera diisi"ujar Bupati Tapanuli Selatan Syahrul Effendy Pasaribu SH kepada wartawan di acara itu.
Dikatakan, sebelumnya ada 5 calon diajukan ke PSP untuk jabatan direksi tersebut. Namun dari 5 ini 3 lolos hasil seleksi KRN(Komite Remunirasi Nominasi) beranggotakan 3 orang yakni Komisaris Independen Bank Sumut sebagai Ketua, Komisaris Biasa sebagai anggota dan salah seorang Pimpinan Divisi Bank Sumut.
(A2/c)