Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Maret 2026
Dijadwalkan ke Karo 23-24 Januari

SBY Minta PNBP Lebih Aktif Tangani Pengungsi Sinabung

*Meletus Lagi, Pengungsi Bertambah Capai 26 Ribu Jiwa, *Parlindungan : Pantas Jadi Bencana Nasional
- Kamis, 16 Januari 2014 13:59 WIB
658 view
SBY Minta PNBP Lebih Aktif Tangani Pengungsi Sinabung
SIB/Sony Purba
SERAHKAN BANTUAN : Sekda Pemprovsu H Nurdin Lubis saat menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Bupati Karo, Rabu (15/1).
Jakarta (SIB)- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memerintahkan BNPB untuk lebih aktif membantu pengungsi Gunung Sinabung. Hal itu langsung disampaikan SBY kepada Kepala BNPB Syamsu Maarif di Kantor Presiden.

"Beliau memerintahkan saya untuk lebih aktif lagi untuk membantu masyarakat di sana," ujar Syamsu di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (15/1).

Selain menerima arahan, Syamsu juga menerangkan situasi terakhir Gunung Sinabung kepada Presiden SBY. Menurutnya, saat ini aktivitas Gunung Sinabung masih fluktuatif.

"Iya ini laporan terakhir. Kemudian ancaman lahar dingin cukup besar. Lalu, saat ini masih fluktuatif ya," ujar Syamsu.

Syamsu meminta warga agar mengosongkan wilayahnya dalam radius 5 km dari puncak Gunung Sinabung.

"Jadi tadi sempat disampaikan kolomnya saja sudah sampai 7 km. Kemudian radius 5 km harus dikosongkan," ujar Syamsu.

23-24 Januari

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan  mengunjungi daerah bencana Gunung Sinabung, Kab Karo, Sumatera Utara selama 2 hari, Kamis dan Jumat (23-24/1)  mendatang.

“Sehari  menginap di Karo, Presiden RI akan melakukan kunjungan untuk memantau penanganan bencana dan pengungsi termasuk memberikan bantuan di daerah tersebut,” ungkap Sekda Provinsi  Sumut H Nurdin Lubis di sela-sela memberikan bantuan  di Posko Tanggap Darurat Erupsi Sinabung, Rabu (15/1).

Kedatangan Sekda Prop Sumut itu didampingi Kepala BPBD Sumut Asren Nasution, Kadis Sosial Drs Alexius Purba dan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprovsu.

Ia  disambut Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti dan Komandan Tanggap Darurat  Erupsi Sinabung, dr Sabrina br Tarigan. Menurut  Nurdin Lubis,  koordinator kedatangan Presiden RI itu, langsung dipimpin Pangdam I/BB dibantu Muspida.

 Ia juga mengkritisi kebijakan Bupati Karo, selama ini seharusnya komandan tanggap darurat erupsi Sinabung dipimpin langsung Bupati Karo sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan  yang berlaku, selebihnya perangkat lainnya pendukung saja.

“Ini masukan dan arahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat. Dan Bupati Karo sebaiknya mengimplementasikannya,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab Karo sudah di evaluasi Gubsu dan telah disetujui. “Legislatif dan eksekutif di daerah ini dapat bekerja sama dengan baik dalam membuat BPBD di daerah ini. Diharapkan segera dibentuk struktur organisasi BPBD di daerah ini dan kalau bisa sebelum kedatangan Presiden RI ke daerah ini, BPBD Kab Karo sudah terbentuk,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Sekda Pemprovsu  menyerahkan bantuan materi sebesar Rp 33.500.000 yang berasal dari para PNS di lingkungan Sekretariat Pemprovsu kepada Bupati Karo.

Di samping itu, ia juga menyerahkan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  secara simbolis beras sebanyak 28 ton. Bantuan ini  berdasarkan surat permohonan dari Bupati Karo ke Pemerintah Pusat.

“Pemerintah Pusat konsern dengan masalah erupsi Sinabung,” pungkasnya. 

Sementara itu Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti mengucapkan terima kasih atas bantuan berupa material dan morilnya. “Soal adanya berita tentang lambatnya penanganan pengungsi Sinabung dari Pemkab Karo selama ini tidak benar. Saya tetap bertanggungjawab penuh dalam penanganan pengungsi Sinabung,” ungkapnya.

Diharapkan Jadi “Setawar Sedingin”

Ketua DPRD Sumut H Saleh Bangun berharap rencana kunjungan Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) ke Kabupaten Karo untuk melihat langsung kondisi para pengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung hendaknya bisa jadi “setawar sedingin” bagi 25 ribu lebih pengungsi yang sudah sangat menderita dan “terluka” bhatinnya, karena sudah 4 bulan di pengungsian.

Harapan itu diungkapkan Ketua DPRD Sumut H Saleh Bangun didampingi Ketua Komisi A Layari Sinukaban SIP kepada wartawan, Rabu (15/1) di DPRD Sumut, terkait rencana kunjungan Presiden SBY ke Kabupaten Karo untuk melihat secara langsung kondisi pengungsi erupsi Gunung Sinabung.

“Kita berharap, kedatangan Presiden SBY akan membawa solusi dalam mengatasi masalah yang dihadapi para pengungsi, karena masyarakat Karo sudah sekitar 4 bulan terombang-ambing dalam pengungsian tanpa kepastian,” ujar Saleh Bangun sembari menyatakan kunjungan SBY muncul dari rasa tanggung jawab sebagai Presiden RI, bukan memanfaatkan tahun politik ini sebagai pencitraan.

Menurut Saleh Bangun yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Sumut itu, kunjungan pejabat pemerintah ke Tanah Karo yang saat ini sedang dilanda erupsi Gunung Sinabung, termasuk Presiden SBY sangat diharapkan dan dinanti-nantikan masyarakat Karo, karena selama ini para pengungsi seolah-olah tidak diperhatikan.

“Rencana Presiden SBY ke Karo untuk menolong, baik sebagai Presiden maupun pejabat lainnya, akan membawa setawar sedingin, karena 25.000 lebih pengungsi sudah berbulan-bulan menderita dan mulai bosan di pengungsian tanpa kepastian,” ujar Saleh sembari menyatakan, dengan kedatangan SBY hendaknya ada solusi yang bisa dilakukan pasca erupsi untuk menormalkan infrastruktur.

Apalagi, kata Saleh yang juga anggota dewan Dapil Binjai dan Langkat ini, sejak terjadinya erupsi Gunung Sinabung, areal pertanian dan rumah-rumah penduduk mengalami kehancuran, termasuk  produksi holtikultura “rontok” diterjang debu erupsi. Diharapkan pemerintah sudah punya solusi untuk menormalkan kembali agar produksi holtikultura kembali jadi andalan Sumut.

Menurut Saleh Bangun, dari hasil kunjungannya ke Kabupaten Karo akhir pekan lalu, setidaknya ada 4 desa yang mengalami kerusakan yang sangat parah, seperti Desa Sigaranggarang, Desa Naman Teran, Desa Kebayaken dan Desa Kutambelin. Selain rumah-rumah penduduk yang hancur diterjang hujan debu bercampur kerikil, juga areal pertanian mereka juga telah tertimbun lumpur dan batu.

Relokasi

Bahkan akibat rusak parahnya rumah dan areal pertanian masyarakat, tambah Layari Sinukaban, warga masyarakat yang berada di kaki Gunung Sinabung kelihatannya sudah bersedia direlokasi ke daerah lain, karena untuk bertahan di desa mereka kelihatannya tidak memungkinkan lagi, sebab rumah dan areal pertanian sudah “hancur-lebur” dipenuhi lumpur erupsi Gunung Sinabung.

“Di sini kita harapkan peran pemerintah untuk memikirkan rencana relokasi para pengungsi ke daerah lain yang dianggap memadai dengan menyediakan tempat tinggal bagi pengungsi maupun lahan pertanian untuk memulai bercocok tanam,” tegas Layari sembari berharap kepada pemerintah bergerak cepat memberikan yang terbaik kepada masyarakat, jangan malah membiarkannya dengan ketidak-pastian.

Pengungsi bertambah Capai  26 Ribu Jiwa
Intensitas vulkanik Gunung Sinabung masih menunjukkan aktivitas tinggi.  Gempa hybrid 41 kali,  gempa vulkanik 6 kali, amplituda maksimum 4 mm, erupsi 15 kali dan lama gempa 70-282 detik, Rabu (15/1).

Tremor masih menerus sehingga diprediksi Gunung Sinabung masih akan meletus.  Status Awas (level IV) masih ditetapkan dengan radius 5 km dan 7 km di sisi tenggara selatan harus kosong dari penduduk.

Demikian disampaikan petugas pos pemantau Gunung Sinabung di Simpang Empat, Armen Putra yang dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (15/1) sore.

Di tempat terpisah Ketua Media Center Erupsi Sinabung, Jhonson Tarigan, Rabu (15/1) menyatakan jumlah pengungsi Sinabung terus bertambah,  sebanyak 26.174 jiwa atau 8.161 kepala keluarga. Para pengungsi ini ditampung di 39 titik posko pengungsian yang ada di Karo. Dari 26.174 pengungsi ada 1.226 jiwa lansia, 180 jiwa ibu hamil dan 617 balita. Para pengungsi ini berasal dari 27 desa dan 2 dusun yang ada di Kabupaten Karo.

Ia memaparkan para pengungsi berasal dari 26 desa dan 2 dusun. Mereka masing-masing asal dari Desa Suka Meriah, Guru Kinayan, Selandi Lama, dan Desa Cimbang, Kecamatan Payung. Desa Berastepu, Sibintun, Gamber, Kuta Tengah, Jeraya, Pintu Besi, Tiga Pancur, Kecamatan Simpang Empat.

Kemudian Dusun Lau Kawar, Desa Bakerah, Simacem, Kuta Rayat, Sigaranggarang, Naman, Kuta Mbelin, Kebayakan, Kuta Tonggal Sukanalu dan Desa Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran. Selanjutnya Desa Tiganderket, Mardinding, Temberun, Perbaji, Kuta Mbaru dan Desa Tanjung Morawa Kecamatan Tiga Nderket.

Sehari sebelumnya, jumlah pengungsi ada sebanyak 26.088 jiwa atau 8.103 kepala keluarga yang berada di 38 titik pengungsian. Ada penambahan 86 jiwa pengungsi atau 58 kepala keluarga. Titik pengungsian bertambah satu dari 38 titik menjadi 39 titik. Titik pengungsian baru tersebut adalah Posko Maka Mehuli yang berada di Jalan Samura Kabanjahe dengan jumlah pengungsi sebanyak 42 KK atau 122 jiwa. Para pengungsi ini berasal dari Gung Pinto.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Karo hingga tanggal 9 Januari 2014, diketahui ada 3.039 anak sekolah yang berada di lokasi pengungsian dengan rincian 2.107 pelajar tingkat SD, 751 pelajar tingkat SLTP, 181 pelajar tingkat SMA dan ada 477 mahasiswa. Hingga saat ini, Pemkab Karo terus mendata anak sekolah mengingat adanya penambahan jumlah pengungsi setiap harinya. Para anak tersebut kemudian diarahkan untuk mengikuti proses belajar di sekolah-sekolah yang sudah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Karo dan dekat dengan lokasi pengungsian. Selain itu Pemkab Karo juga memberdayakan alat transportasi milik Pemkab Karo untuk mengangkut para anak sekolah dari lokasi pengungsian ke sekolah-sekolah tempat mereka belajar.

Pantas  Dijadikan Bencana Nasional
Erupsi Gunung Sinabung sudah selayaknya dijadikan bencana nasional. Jangan biarkan penderitaan warga yang mengungsi  di posko-posko penampungan berkepanjangan. Puluhan ribu hektar lahan pertanian dan puluhan bangunan rumah warga ambruk terkena bencana erupsi dan segera perlu  didata untuk mengambil  langkah-langkah  penanganannya secara  kongkrit, terukur dan terarah.

“Kita tidak sampai hati melihat anak-anak dan ibu-ibu tidur kedinginan di tempat penampungan pengungsi yang hanya beralaskan tikar. Tanaman pertanian mereka tidak ada lagi yang bisa dipanen karena semuanya  sudah rata dengan debu erupsi. Rumah-rumah yang rusak perlu mendapat perbaikan, sekolah-sekolah yang sudah rusak, begitu juga rumah ibadah (gereja dan mesjid) dan balai desa yang ambruk, belum lagi stok logistik kebutuhan pengungsi  yang jumlahnya tidak sedikit, harus dipersiapkan setiap hari  untuk kebutuhan makan pengungsi yang berjumlah 26.088 ribu jiwa (8.133 kk) tersebar di 38 titik pengungsi,” tandas anggota DPD RI asal Sumut Parlindungan Purba kepada sejumlah wartawan, Rabu (15/1) saat mengunjungi Posko Utama Erupsi Gunung Sinabung Jalan Veteran di Kabanjahe.

Ia menambahkan, dirinya akan mengusulkan melalui  paripurna DPD RI agar bencana alam erupsi Gunung Sinabung ini dijadikan menjadi bencana Nasional sehingga Pemerintah Pusat segera mengambil sikap untuk menangani bencana ini.

Saya sudah enam kali mengunjungi desa-desa yang terkena bencana erupsi Sinabung, terakhir hari ini (Rabu-red), secara dekat saya mendengarkan keluhan-keluhan para pengungsi. “Mereka  tidak tau lagi berbuat apa-apa, seluruh tanaman dan ladang pertaniannya  hancur,  tidak ada lagi yang bisa dipanen, rumah-rumah pun   rusak, timbunan debu vulkanik yang sudah mulai mengeras di tengah perladangan menjadi masalah baru bagi warga pengungsi untuk mengolah lahan pertaniannya, belum lagi untuk membiayai anak-anak sekolah,” ujar Parlindungan menirukan keluhan pengungsi. 

Ia juga mengimbau kepada Pemkab Karo supaya mengambil langkah strategis dan  berkoordinasi dengan Gubernur Sumut  agar bencana erupsi Sinabung diusulkan menjadi bencana nasional, sehingga penanganan nanti ditangani secara nasional dan hal itu menjadi perhatian  luar negeri pun nantinya datang untuk membantu pengungsi.

Menyahuti imbauan itu Parlindungan Purba melaporkan bahwa  Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti menyambut positif sarannya  itu. Namun  ke depan pihak Pemkab Karo terlebih dahulu akan melakukan koordinasi dengan pihak Gubernur Sumut  untuk pengusulan  (bencana nasional) itu,” ujar anggota DPD RI itu.

Sementara Komandan satgas tanggap darurat dr Sabrina Tarigan mengatakan untuk kebutuhan logistik pengungsi masih cukup untuk seminggu ke depan. “Jumlah pengungsi sampai saat ini sebanyak 26.008 ribu jiwa, tersebar di 38 titik posko penampungan. Lahan pertanian yang rusak selebar 10.484 hektare yang ditaksir kerugian material sebesar Rp. 712 Miliar. Sedangkan jumlah rumah yang rusak belum diketahui secara pasti, Dinas PUD Karo masih melakukan pendataan,” ujarnya. (B1/A4/detikcom/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru