Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Seratus Tahun Batu Lobang Sibolga, Mengenang Ribuan Pejuang

* Catatan Helman Tambunan SH, Wartawan SIB
- Minggu, 08 Juli 2018 11:33 WIB
1.876 view
Seratus Tahun Batu Lobang Sibolga, Mengenang Ribuan Pejuang
Siapa yang tidak pernah mendengar Jalan Batu Lobang di Kota Sibolga? Bila dia warga Sumatera Utara, apalagi orang Sibolga dan Tapanuli. Jangankan sekadar melintas, untuk ber-selfi ria di era teknologi sekarang pasti banyak yang sudah melakukan. 

Batu Lobang identik dengan Kota Sibolga, bahkan salah satu ikon sejarah peninggalan kolonial Belanda. Tepat berada di Jalur Lintas Sumatera, Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah,  posisinya berada di kaki pegunungan bukit barisan tepat di atas Kota Sibolga. 

Batu Lobang disebut dioperasikan  pertama kali sekitar 6 Juli 1915. Pada posisi sekarang, 8 Juli 2018, sudah berusia 103 tahun. Namun di usianya yang 103 tahun, apa yang sudah dibuat pemerintah untuk mengenang orangtua kita yang tewas saat membuat Batu Lobang?

Batu Lobang adalah jalan terowongan dari batu yang di sisinya jurang tegak lurus berketinggian puluhan meter dengan dasar permukaan tidak bisa dilihat dari atas karena dilindungi dedaunan pohon. Sedangkan tepat di atas batu ada air mengalir yang terjun langsung ke jurang. 

Bila memasuki Batu Lobang, para pelintas disuguhkan cerita sejarah kerja rodi yang diukir di kulit pebukitan samping terowongan. Di sana juga ada tertulis "Selamat Melintasi Goa Belanda, Horas". Jika dipahami bahwa nilai sejarah itu merupakan saksi bisu pahit getirnya masa penjajahan. 

Dari berbagai cerita yang dihimpun SIB,  konon katanya pada masa pembuatan Batu Lobang, banyak darah yang berceceran dan nyawa melayang. Mereka semua merupakan pejuang pejuang kemerdekaan yang menjadi tawanan pemerintahan kolonial Belanda.

Mereka dipaksa kerja rodi dengan menggunakan kampak, tombak dan alat manual lainnya. Dengan tangan pula mereka melobangi batu sebesar goa. Sementara makan dan minum tidak cukup diberi. Bila ada yang sakit maka akan "ditendang" jatuh ke jurang. Sudah barang tentu,  mati. Bahkan tubuhnya bisa terkoyak-koyak. 

Bila jumlah pekerja berkurang,  maka kolonial akan kembali mencari tawanan lain. Menangkap laki laki dari rumah ke rumah. Segala cara mereka lakukan.  Rakyat dituduh macam-macam supaya ada alasan menahan mereka sebagai tawanan. Banyak dari mereka yang tidak mampu bertahan,  dan mati di Batu Lobang.

Bukannya ditembak mati,  tetapi dipaksa kerja rodi. Bila tidak sanggup maka  dijatuhkan ke dalam jurang. Jadi pada masa itu,  cukup banyak perempuan yang menjadi janda. Bahkan ada perkampungan di daerah Tapanuli yang penghuninya semua single parents tanpa suami. 

Suami ditangkap kolonial dan tidak pernah pulang. Bahkan lagu "Butet di Pangungsian do Apangmu" dianggap digubah dari cerita itu. 

Ada ratusan,  bahkan ribuan nyawa melayang yang dipaksa kerja rodi di Batu Lobang.  

Sekarang Batu Lobang sudah memasuki usia 103 tahun. Masa itu cukup lama,  namun bukan berarti menghilangkan nilai nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Kita patut mengheningkan cipta tak kala melintas dari Batu Lobang. 

Di usianya yang seratus tahun lebih,  ada satu nilai positip yang perlu dipahami bersama.  Yaitu bangkitnya semangat nasionalisme untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Permasalahannya adalah sudah bagaimana kita memahaminya?  

Pada masa Bupati Tapanuli Tengah Drs Tuani Lumban Tobing pernah digagas pembukaan jalan alternatif dari dan ke Sibolga - Tarutung tanpa melalui Batu Lobang, dengan membuka jalur Rampah - Poriaha. Batu Lobang direncanakan dipugar menjadi cagar budaya.

Pada era Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang SH juga direncanakan membangun jembatan layang di sekitar Batu Lobang dan Batu Lobang dibuat menjadi cagar budaya. Namun setelah kedua bupati tersebut,  tidak pernah lagi terdengar suara untuk memelihara Batu Lobang. 

Memang semangat nasionalisme mulai terlihat kendor pada jiwa anak bangsa belakangan ini.  Maraknya teroris,  narkoba,  bahkan Pilkada dengan isu SARA turut menggerus semangat kenegaraan. Kita berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah bisa membuat regulasi untuk menumbuhkan semangat patriotik para korban batu lobang kepada generasi penerus. (f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru