Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 15 Juni 2026

Pemerintah Indonesia-Australia Bahas Isu Terorisme

* Kapolri: 170 Orang Jadi Tersangka Bom Surabaya * Selidiki Dugaan WNI Ditangkap di Filipina
- Senin, 06 Agustus 2018 11:36 WIB
308 view
Pemerintah Indonesia-Australia Bahas Isu Terorisme
Jakarta (SIB)- Menko Polhukam, Wiranto hadir dalam acara pertemuan Indonesia-Australia Ministeral Council on Law and Security di Mataram, NTB. Pertemuan itu membahas isu terorisme.

Pertemuan yang berlangsung tertutup itu dilaksanakan di Hotel Golden Palace, Mataram, NTB, Minggu (5/8). Pertemuan tahun 2018 ini merupakan yang ke-5 kali diadakan, dan menjadi agenda lanjutan yang membahas kesepakatan kedua negara pada pertemuan sebelumnya di Brisbane, Australia pada 25-26 November 2017 lalu.

"Terdapat beberapa isu yang dibahas secara mendalam dalam pertemuan kali ini, yaitu mengenai countering violent extremism dan program deradikalisasi," jelas Wiranto dalam press statementnya.

Selain itu, Wiranto juga mengungkapkan rangkaian agenda yang dibahas dalam Ministerial Council Meeting (MCM) dengan delegasi Australia yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri, Peter Dutton dan pejabat tinggi Australia lainnya, yakni mengenai isu perkembangan dinamika politik dalam konteks keamanan regional, kerja sama keamanan di bidang siber dan penegakan hukum dalam cakupan yang lebih luas.

"Pertemuan MCM kali ini menjadi yang pertama kali diadakan dengan Menteri Dalam Negeri, Yang Mulia Peter Dutton," ungkapnya.

Hal ini, lanjut Wiranto, disebabkan karena adanya perubahan portofolio kementerian/lembaga yang mempunyai kekuasaan luas dan melingkupi hampir semua isu keamanan dalam negeri Australia, termasuk isu mengenai terorisme, imigrasi, intelijen, hukum dan keamanan siber.

Lebih jauh Wiranto membeberkan tentang pertemuannya hari ini yang telah dilaksanakan dalam suasana terbuka, konstruktif dan bersahabat, sehingga diharapkan juga dapat menghasilkan kerja sama di bidang hukum dan keamanan yang semakin erat dan kokoh.

"Pertemuan telah menghasilkan Join Communique yang menekankan pentingnya komitmen kedua negara dalam meningkatkan kerja sama di bidang hukum dan keamanan," pungkasnya. 

170 Jadi Tersangka
Di bagian lain, sebanyak 200 orang terduga teroris ditangkap usai peristiwa bom Surabaya. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan, 170 orang di antaranya telah dinyatakan sebagai tersangka terkait persitiwa itu.

"Sudah 170-an yang tersangka, Insyaallah aman," kata Tito usai mengikuti senam poco-poco massal di lapangan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/8).
Dia juga mengungkapkan, sejumlah terduga teroris tersebut saat ini berada di tahanan Polda dan Polres.

"Ada di Polda dan Polres," ujarnya.

Sebelumnya, Tito juga pernah mengatakan total orang yang diduga terkait kasus terorisme sejak tragedi bom di Surabaya berjumlah 200 orang. Berdasarkan data Polri, sebanyak 194 terduga teroris telah ditangkap pascabom Surabaya, serta sebelum peristiwa di Kaliurang Sleman Yogyakarta dan Polres Indramayu Jawa Barat.

"Sebanyak 194 yang ditangkap sebelum peristiwa Yogya dan Indramayu, 17 di antaranya meninggal dunia. Tujuh belas ditambah tiga yang tewas di Yogya, jadi 20 yang meninggal dunia. Dan (saat ini) total sudah ada 200 (terduga teroris ditangkap) sejak bom Surabaya," ungkap Tito sebelumnya.

Selidiki
Sementara itu, Tito Karnavian juga mengungkapkan pihaknya tengah menyelidiki informasi terkait WNI yang diduga terlibat aktivitas terorisme di Manila, Filipina. Tito mendapat kabar, orang yang diduga WNI itu ternyata warga negara Maroko, ada pula kemungkinan dia dari Afika Selatan.

"Lagi diselidiki. Informasinya adalah warga negara Maroko, kalau nggak salah pelakunya dari Afrika Selatan," kata Tito.

Namun, ia menambahkan, informasi tersebut belum terkonfirmasi. "Masih kita selidiki, belum terkonfirmasi," ucapnya.

Tito melanjutkan, pihaknya bekerjasama dengan otoritas polisi Filpina untuk mengungkap kasus tersebut.

"Kita sama otoritas dan polisi Filipina sana kita kerja sama (mengungkap kasus tersebut)," ujar Tito.

Sebelumnya diberitakan, ledakan mengguncang pos pemeriksaan keamanan militer di wilayah Filipina bagian selatan. Sedikitnya 10 orang tewas, termasuk seorang wanita dan anaknya.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (31/7), ledakan terjadi di dalam sebuah van yang sedang diberhentikan tentara penjaga keamanan di pos pemeriksaan. Menurut pejabat Pulau Basilan dan laporan militer, ledakan terjadi saat tentara penjaga keamanan sedang berbicara dengan pengemudi van tersebut. Peristiwa inilah yang dikomentari Kapolri Jenderal Tito.  (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru