Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

LSI Denny JA: PDIP Berpotensi Menang Pileg 2019, Gerindra Kedua

* Golkar Terancam Jadi Partai Papan Tengah
- Kamis, 13 September 2018 11:11 WIB
490 view
Jakarta (SIB) -Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA memprediksi PDIP menang Pemilu 2019. Jika prediksi itu tepat, maka PDIP jadi partai yang menang dua kali berturut-turut setelah reformasi.

"Ada 3 perubahan penting, pertama PDIP potensial partai pertama memenangi Pemilu dua kali berturut-turut di era reformasi. Tidak ada Pemilu satupun yang bisa memenangi Pemilu dua kali berturut-turut. Itu potensinya ada di PDIP," ujar peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby di gedung Graha Dua Rajawali, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (12/9).

Survei itu dilakukan dengan metodologi survei Multistage Random Sampling sejak 12-19 Agustus 2018 dengan jumlah 1.200 responden. Wawancara dilakukan tatap muka, margin error lebih kurang 2,9 persen. Pertanyaan yang diajukan kepada responden yaitu, jika 'Pemilu dilakukan hari ini, partai apa yang akan dipilih?'.

LSI mengajukan pilihan partai politik yang akan dipilih responden dalam Pemilu legislatif. Lalu PDIP menjadi partai yang dipilih terbanyak dengan perolehan suara 24,8%.

"PDIP berpotensi mematahkan kutukan juara bertahan secara dua kali berturut-turut. Ibarat dalam sepak bola PDIP itu Real Madrid yang menjadi liga champion berturut-turut," ucapnya.

PDIP adalah pemenang Pileg 2014 lalu. PDIP juga pernah memenangi Pemilu 1999, namun di periode berikutnya tidak menduduki peringkat pertama.

Perubahan kedua, partai Gerindra berpotensi menjadi pemenang kedua setelah PDIP. Perolehan suara responden yang memilih Gerindra sebesar 13,1 %.

"Gerindra potensial menjadi partai pertama yang runner up di luar PDIP dan Golkar. Fakta Pemilu, sejak reformasi selalu PDIP dan Golkar yang mengisi posisi pertama dan kedua," ucap Adjie.

Kemudian posisi ketiga diisi oleh Partai Golkar dengan perolehan suara 11,3%. Kali ini partai Golkar terancam tidak masuk dua besar pemenangan Pemilu untuk pertama kalinya.

"Golkar terancam hanya menjadi partai papang tengah. Kita lihat di sini Golkar berada di 11,3%," ungkap Adjie.

Meski begitu, Adjie mengatakan Partai Golkar masih berada di ambang batas. Golkar bisa berada di partai papan atas atau papan tengah tergantung dari perubahan dan pergerakannya.

"Golkar masih di ambang batas, bisa jadi papan atas, dan bisa jadi papan tengah. Kalau Gerindra memang masih 13,1%, artinya belum mencapai lewat 50%. Oleh karena itu harus ada perubahan dan pergerakan Partai Golkar," katanya.

Sentimen Negatif 
Sementara itu, menurut LSI Denny JA, adanya kasus yang menyeret eks Ketum Setya Novanto dan korupsi PLTU Riau menjadi pemicu turunnya dukungan untuk Golkar.

"Problem yang dialami Partai Golkar memang ada indikasi ya, ada dua faktor utama. Yang kasus Setnov ini berujung adanya sentimen negatif terhadap Partai Golkar. Kemudian ada kasus PLTU Riau yang menyeret petinggi Partai Golkar. Artinya terlalu banyak sentimen negatif yang buat Golkar kesulitan," ujar Adjie Alfaraby.

Adjie mengatakan sentimen itu menjadi dampak buruk bagi elektabilitas Golkar menjelang Pemilu 2019. Menurutnya, Golkar tidak membangun sentimen positif untuk mengimbangi sentimen negatif dari dua kasus tersebut.

"Selain itu, karena tak ada satu pun kader atau tokoh yang identik dengan Golkar menjadi capres dan cawapres pada Pemilu 2019," ucapnya.

Adjie menjelaskan partai politik yang terasosiasi kuat dengan capreslah yang akan mendapat keuntungan terhadap dukungan. Meski Partai Golkar termasuk partai besar yang mendukung Jokowi, tetap PDIP yang dianggap terasosiasi dengan Jokowi.

"Pasangan Jokowi-Ma'ruf kuat asosiasinya dengan PDIP, Prabowo-Sandi kuat dengan Gerindra. Jadi ya kedua partai itu yang paling potensial menjadi partai utama dalam Pemilu 2019," ungkapnya.

Faktor kepemimpinan juga memiliki peran penting dalam memajukan partai politik. Hal itu yang membuat PDIP dan Gerindra semakin kuat.

"Kedua partai ini juga sangat minim konflik. Sedangkan Partai Golkar terlalu banyak dinamika dan konflik internal. Inilah tiga alasan yang sampaikan kenapa partai politik bisa berubah arah pada Pemilu 2019," tuturnya.

Berikut hasil survei LSI Denny JA:

1. PDIP: 24,8%

2. Gerindra: 13,1%

3. Golkar: 11,3%

4. PKB: 6,7%

5. Partai Demokrat: 5,2%

6. PKS: 3,9%

7. PPP: 3,2%

8. NasDem: 2,2%

9. Perindo: 1,7%

10. PAN: 1,4%

11. Hanura: 0,6%

12. PBB: 0,2%

13. PSI: 0,2%

14. Berkarya: 0,1%

15. Partai Garuda: 0,1%

16. PKPI: 0,1%

17. Tidak Tahu/Tidak Jawab/Belum Memutuskan: 25,2% (detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru