Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 14 Februari 2026

AS-China Akhirnya Tanda Tangani Kesepakatan Dagang "Fase Satu"

Redaksi - Jumat, 17 Januari 2020 09:35 WIB
235 view
AS-China Akhirnya Tanda Tangani Kesepakatan Dagang "Fase Satu"
AP
KESEPAKATAN DAGANG : Presiden AS Donald Trump(kanan) dan Wakil Perdana Menteri China Liu He(kiri) menunjukkan piagam kesepakatan perdagangan yang ditandatangani kedua petinggi negara,Rabu(15/1) di East Room,Gedung Putih,Washington.
Washington (SIB)
Setelah hampir dua tahun perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat dan China pada Rabu, (15/1) menandatangani kesepakatan "gencatan senjata" perdagangan. Dunia bisnis pun menarik napas sedikit lega.

"Hari ini, kami mengambil langkah penting,yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan China," yang akan memastikan "perdagangan yang adil dan timbal balik," kata Presiden AS Donald Trump saat upacara penandatanganan di Gedung Putih. "Bersama-sama, kita memperbaiki kesalahan masa lalu," tambahnya.

Trump menandatangani apa yang disebut kesepakatan perdagangan "fase satu" dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He, yang memimpin tim negosiasi Beijing, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer serta Menteri Keuangan Steven Mnuchin. Meredanya konflik perdagangan AS-China sejak beberapa hari terakhir telah membuat lega para pelaku pasar di seluruh dunia, yang sebelumnya mengkhawatirkan aksi balas membalas lanjutan dalam perang tarif impor.

Donald Trump juga menyatakan terimakasih kepada Presiden China Xi Jinping dan mengatakan dia akan berkunjung ke China "dalam waktu tidak terlalu lama". Dalam satu surat kepada Trump, Presiden China Xi Jinping menyatakan menyambut Kesepakatan Perdagangan "Fase Satu" yang tercapai dengan Amerika Serikat, dan dia bersedia "memelihara hubungan dekat" dengan pemimpin Amerika.

Sekalipun konflik mereda, tidak berarti hubungan kedua negara dalam jangka panjang langsung membaik, bahkan tampaknya tetap akan diwarnai ketegangan. Karena Kesepakatan Dagang "Fase Satu" hanya menetapkan "masa jeda" dalam perang dagang antara kedua negara. Jadi bukan suatu terobosan penting, kata Steve Tsang, pakar politik dan ekonomi di University of London.

Dalam pandangannya, kepemimpinan Xi Jinping telah membawa perubahan besar pada hubungan China dengan AS dan dunia Barat. "Ini adalah seorang pemimpin yang secara mendasar mengubah cara orang China memandang dunia," katanya seperti dilansir dari kantor berita Deutsche Welle. "Dia ingin ekonomi China tidak lagi tergantung pada Barat. Itulah yang dimaksud dengan 'Made in China 2025'. Jadi, pemerintah China akan berusaha mengurangi ketergantungan ekonomi."

Di bawah Xi Jinping, China terlihat berupaya keras mengimbangi dominasi Amerika Serikat di berbagai bidang. Agenda strategisnya ada di bawah program 'Made in China 2025' dan proyek infrastruktur raksasa 'Belt and Road Initiative' (BRI), agenda pembangunan jaringan dan infrastruktur transportasi yang melibatkan 152 negara. Pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara industri barat lainnya memang sudah lama mempermasalahkan beberapa kebijakan ekonomi China, tidak hanya soal surplus perdagangan dan proteksionismenya.

Tapi belakangan, terutama Amerika Serikat melancarkan kebijakan konfrontatif yang langsung mengarah pada perusahaan-perusahaan China. Misalnya kebijakan terhadap raksasa teknologi Huawei. Perang dagang terutama disulut oleh Presiden AS Donald Trump, yang sejak awal masa jabatannya menegaskan akan berjuang mengutamakan kepentingan Amerika, dengan slogannya "America First!" Lebih dari itu, Donald Trump sering mendesak mitra-mitra dagangnya untuk bergabung sebagai "pembantu perang" dan bersama-sama melawan "musuh", yaitu China. Terutama negara-negara berkembang sering dipaksa memilih salah satu kubu.

Saatnya Mandiri
Banyak negara berkembang menghadapi dilema, karena baik AS maupun China merupakan adidaya ekonomi. Keputusan bergabung dengan salah satu kubu bisa menguntungkan, atau juga merugikan, tergantung pada perkembangan ekonomi dan politik di kawasan.
Saat ini, AS dan China memang mendominasi perdagangan global, baik sebagai negara pengekspor maupun negara pengimpor terbesar dunia. Karena itu, perkembangan ekonomi global juga tergantung pada perkembangan di kedua negara ini. Setiap negara yang ingin memajukan ekonominya mau tidak mau harus berdagang dengan AS maupun China.

Pengamat ekonomi Steve Tsang mengatakan, inilah saatnya bagi negara-negara lain untuk melepaskan ketergantungan dari kedua raksasa ekonomi itu dan menjadi lebih mandiri, proses yang disebutnya sebagai "decoupling". "Yang diperlukan adalah proses 'decoupling', terutama dari Amerika Serikat", katanya.

Karena Amerika Serikat cenderung bersikap keras dan menjatuhkan sanksi kepada mitra-mitra dagang yang tidak mau mengikuti kebijakannya. Sedangkan China biasanya bersikap lebih lunak dan tidak terlalu gembar-gembor. Bagaimanapun, jika perang dagang ini terus berlanjut setelah "masa jeda" ini, negara-negara lain tampaknya akan dipaksa memihak pada satu kubu, dan prospek ekonomi akan makin suram. Tapi mungkin saja, kedua adidaya ekonomi yang sedang bertikai itu akhirnya sadar, bahwa perekonomian akan lebih cerah, jika mereka mencapai kesepakatan yang tahan lama. (DWI/dtc/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru