Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 28 April 2026

Prof Yusuf dari USU: Mencegah Virus ASF Harus Dengan Culling, Bukan Stamping Out

Redaksi - Senin, 20 Januari 2020 09:12 WIB
730 view
Prof Yusuf dari USU: Mencegah Virus ASF  Harus Dengan Culling, Bukan Stamping Out
SIB/Horas Pasaribu
FOTO BERSAMA : Prof Yusuf Leonard Henuk foto bersama Ketua Komisi Pemuda Mahasiswa PGI Wilayah Sumut EV Antoni Sianipar dan pemuda-pemudi gereja pada seminar,Jumat(17/1) yang dilaksanakan Komisi Pemuda/Mahasiswa PGI W Sumut dalam pertemuan awal tahun di k
Medan (SIB)
Pakar peternakan dari Universitas Sumatera Utara Prof Yusuf Leonard Henuk mengatakan, untuk mencegah penyebaran virus African Swine Fever (ASF) atau yang sering disebut demam Afrika yang menjangkiti ternak babi di Sumatera Utara harus dengan cara Culling (pemusnahan yang terinveksi), bukan Stamping Out (penghilangan ternak). Dengan cara culling, yang dimusnahkan hanya ternak terkena virus, ternak sehat tidak ikut. Kalau lewat stamping, hewan terkena virus dan sehat sama-sama dimusnahkan.

Menurut angka terbaru yang dikeluarkan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), China telah memusnahkan 1,2 juta ekor babi. Di Vietnam 4,5 juta, Laos 25.000 ekor, Filipina 7000 ekor, Mongolia 3.115 ekor dan Kamboja 2400 ekor. Pemusnahan yang terkena virus dilakukan dengan membuat kuburan lalu membakar dan menguburnya. Sampai saat ini, dunia belum menemukan vaksin penawar virus atau yang membuat babi immun.

"Di China dan negara-negara lain menerapkan culling untuk mengatasi ASF, bukan stamping out. China tidak pernah memberlakukan peraturan menghilangkan dulu hewan babi selama 20 tahun baru boleh beternak kembali. Seperti yang pernah dikemukakan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi," kata Prof Yusuf Leonard Henuk ketika menjadi pembicara pada seminar demam ASF berjudul: Stamping out no-Culling yes", Jumat (17/1) yang dilaksanakan Komisi Pemuda/Mahasiswa PGI W Sumut dalam pertemuan awal tahun di kantor BPD GBI Sumut Jalan AH Nasution, Medan Johor.

Dia menjelaskan bahwa virus ASF menyebabkan babi mengalami pendarahan internal sampai kemudian mati dalam kurun waktu 2-10 hari. Satu-satunya opsi menghentikan penyakit tersebut adalah dengan membunuh setiap babi yang terinveksi. Penyebab penyebaran ASF di Cina akibat lalulintas jarak jauh babi hidup dan produk babi (16,3%), disebabkan transportasi kendaraan dan orang (40,8%) dan disebabkan makanan sisa untuk babi (42,9%).

Swill feeding (makanan sisa) kata dia adalah sisa-sisa makanan dari dapur atau catering yang dicampur dengan air lalu diberikan kepada babi. Namun Yusuf melihat, kecenderungan peternak lokal di Sumut memberikan swill feeding untuk ternaknya. Padahal Kementerian Pertanian mengimbau, untuk sementara ternak babi jangan dulu diberi makan makanan sisa. Tapi Prof Yusuf belum bisa menyimpulkan penyebab virus ASF di Sumut disebabkan makanan sisa, karena peternak terlebih dahulu memasak makanan sisa tersebut dicampur dengan campuran lain sebelum memberi makan babi. Jika makanan sisa dimasak maka kuman-kuman akan mati.

"Tingkat resiko terkena ASF adalah babi yang diternak rakyat, sedangkan peternak komersial berskala kecil dan besar resikonya kecil. Karena, selain menggunakan makanan pabrikan, kontak dengan manusia diminamilisir," ujarnya. Sementara Indonesia deklarasi ASF di Sumut 12 Desember 2019, tentang wabah ASF dengan menetapkan 16 daerah di Sumut terjangkit virus ini lewat Kepmen Pertanian Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019.

Prof Yusuf Henuk menjelaskan bahwa sesuai standart FAO, pemerintah harus berperan dalam pemusnahan ternak terinveksi ASF. Caranya dengan menyediakan lahan pekuburan umum untuk ternak dan kantong-kantong plastik. Kemudian peternak diminta membawa ternaknya yang mati ke lokasi pekuburan. Pemerintah juga harus mengganti ternak yang mati agar warga tidak menderita kerugian yang besar.

"Jadi kalau banyak bangkai berserakan di sungai, laut, danau atau pinggir jalan jangan disalahkan warga yang membuangnya. Sebab pemerintah tidak menyediakan lahannya, itu tanggung jawab pemerintah dan menyediakan dana ganti rugi, itu sesuai standart FAO," tuturnya. Turut hadir dalam seminar tersebut Ketua Komisi Pemuda/mahasiswa PGI Wilayah Sumut EV Antoni Sianipar, moderator Pdt Mangihut Marbun (Ketua DPA GBI Sumut-Aceh, One Virgo Silalahi, Domu Sirait dan sejumlah pemuda-pemudi gereja. (M10/d)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru
PGN Jaga Kinerja Solid di Q1-2026

PGN Jaga Kinerja Solid di Q1-2026

Jakarta(harianSIB.com)PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, mencatat laba periode berjalan yang dapat diat