Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026

Survei: 52 Persen Pemuda AS Ingin Donald Trump Lengser

* Senator Dilarang Main HP Saat Sidang Pemakzulan
Redaksi - Minggu, 26 Januari 2020 10:24 WIB
738 view
Survei: 52 Persen Pemuda AS Ingin Donald Trump Lengser
AFP Photo/Mandel Ngan
Ekspresi Presiden AS Donald Trump saat menghadiri National Prayer Breakfast atau Sarapan Doa Nasional di sebuah hotel di Washington DC
Washington (SIB)
Sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih berjalan di Senat. Trump dimakzulkan akibat tuduhan berkonspirasi dengan Ukraina untuk menyerang lawan politiknya, Joe Biden, serta mengobstruksi investigasi DPR.

Presiden Trump dituding menekan presiden Ukraina untuk menguak kasus korupsi terkait keluarga Joe Biden di Ukraina. Namun, Partai Demorkat (partai Joe Biden) menganggap aksi Trump sebagai penyalahgunaan kekuasaan karena tidak mau memberikan Ukraina dana bantuan jika tak memeriksa kasus Biden.

Dilaporkan survei Forbes, Jumat (24/1), mayoritas pemuda usia 18-29 tahun percaya Trump bersalah atas tuduhan itu. 58,6 persen percaya Trump bersalah, kemudian 32,8 persen berkata Trump tak bersalah. Sisa 8,7 persen merasa tidak yakin.

Pemakzulan sendiri tidak berarti presiden otomatis lengser karena pemakzulan merupakan tahap mengadili presiden atas tuduhan tertentu. Dan tuduhan yang Trump hadapi yakni kolusi dengan Ukraina dan obstruksi keadilan.

Meski demikian, Trump diprediksi selamat dari pemakzulan karena Senat dikuasai oleh Partai Republik yang juga partai berkuasa. Sebagai catatan, tuduhan pemakzulan juga bisa lolos dari DPR karena anggota partai oposisi memimpin lembaga itu.

Jika dilihat dari segi afiliasi politik, mayoritas pemuda yang pro Partai Republik dan Partai Demokrat memiliki suara berseberangan. Sebanyak 67,9 persen pendukung Partai Republik berkata Trump harus tetap menjabat dan 79,5 persen pendukung Partai Demokrat menyebut Trump harus lengser. Sementara, 52,4 persen kalangan pemuda independen menyebut Senat harus melengserkan Trump.

Hingar-bingar pemakzulan juga tidak memberikan dampak bagi pemilih muda. Jumlah yang semakin mendukung dan tidak mendukung pun juga sama. Forbes mencatat 31,5 persen pemilih muda berkata proses pemakzulan membuat mereka lebih mendukung Trump. Tak jauh berbeda, 31,6 persen pemilih muda justru menolak Trump. Survei ini dilaksanakan Forbes lewat email dan SMS, kemudian mereka melakukan survei online pada tanggal 19 dan 20 Januari dengan margin eror 3,1 persen.

Sidang pemakzulan Trump memiliki aturan pelarangan smartphone atau benda elektronik lainnya. Masalahnya, sidang Trump bisa berlangsung seharian dan para senator gelisah karena tak boleh menggunakan produk elektronik.

Senator Ted Cruz dari Partai Republik sempat menuai kontroversi akibat dikira mengirimkan twit saat persidangan. Ia pun sempat meledek seorang pengamat politik yang mengecam tindakannya yang melanggar aturan. Tim komunikasi Ted Cruz memberi klarifikasi bahwa Ted Cruz tidak membawa smartphone ke ruang sidang pemakzulan. Selain Ted Cruz, senator-senator lain, termasuk dari Partai Demokrat, juga masih aktif di Twitter via tim komunikasi masing-masing.

Semua benda elektronik harus dititipkan sebelum memasuki ruang sidang pemakzulan. Reporter The Huffington Post melihat Senator Tom Cotton melanggar pelarangan benda elektronik. Ia terlihat memegang ponselnya meski tidak jelas apakah ia menggunakannya.

Senator lain seperti Senator Patrick Leahy dan Senator Amy Klobuchar juga langsung menyambar ponsel mereka ketika sedang rehat. Senator Leahy bahkan sempat meniru gaya Gollum dari The Lord of the Rings, mengelus ponselnya dan berkata "oh, my precious". Ternyata tidak hanya HP, pemakaian smartwatch pun turut dilarang. Beberapa senator juga ketahuan menggunakan apple watch. (liputan6/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru