Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026

Kebiasaan Membawa Bekal Makanan ke Sekolah

Redaksi - Minggu, 26 Januari 2020 10:53 WIB
448 view
Kebiasaan Membawa Bekal Makanan ke Sekolah
tribunnews.com
Ilustrasi
Kemarin merupakan Hari Gizi Nasional ke-60. Acaranya mengusung tema Gizi Optimal untuk Generasi Milenial. Tema tersebut dipilih seiring kebutuhan Indonesia akan remaja yang produktif, kreatif, dan kritis.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia sedang menghadapi masalah triple burden, antara lain kekerdilan (stunting), kekurangan gizi (wasting), dan obesitas. Masalah ini mendesak untuk diatasi di semua level, dari pusat ke daerah. Caranya dengan memenuhi gizi, terutama pada 1.000 hari pascakelahiran dan saat remaja.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Indonesia merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi kedua di Kawasan Asia Tenggara dan kelima di dunia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, prevalensi balita stunting pada 2018 mencapai 30,8 persen. Artinya, satu dari tiga balita mengalami stunting.

Belakangan ini sangat sulit memenuhi gizi seimbang bagi anak-anak pada masa sekolah. Saat berada di rumah, orangtua bisa saja menyediakan makanan yang sehat dan berkualitas. Persoalan justru ketika berada di luar rumah, terutama di sekolah.

Penyebabnya karena dunia anak dan remaja dijejali promosi makanan dan minuman. Sebagian besar sebenarnya tak begitu menunjang kecukupan gizi bagi mereka. Lihatlah bagaimana jajanan di sekolah-sekolah, banyak yang diragukan kualitasnya.
Guru-guru mesti bertanggung jawab mengawasi makanan dan minuman yang dijual di sekitar sekolah. Sebaiknya ada kantin yang menjamin tersedianya jajanan yang sehat dengan kandungan gizi yang memadai. Sekolah tak bisa lepas tangan dan membiarkan anak-anak jajan sembarangan.

Apabila sekolah tak memiliki kantin, maka orangtua wajib menyiapkan bekal. Jadi anak-anak tak lagi jajan makanan tak jelas di luar. Memang perlu waktu membiasakan anak-anak membawa bekal ke sekolah atau les.

Orangtua dan sekolah mesti bekerjasama agar anak dan remaja mendapat pasokan gizi yang memadai. Promosi makanan sebaiknya diawasi dengan ketat, sehingga informasi yang diterima anak tidak keliru. Dengan tercukupinya gizi anak dan remaja berarti menjaga masa depan bangsa ini. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru