Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026

Terobosan Baru Mendikbud Nadiem di Program 'Kampus Merdeka'

Redaksi - Senin, 27 Januari 2020 09:21 WIB
289 view
Terobosan Baru Mendikbud Nadiem di Program 'Kampus Merdeka'
news.detik.com
Mendikbud Nadiem Makarim
Jakarta (SIB)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan program 'Merdeka Belajar' episode kedua yang fokus di bidang Perguruan Tinggi (PT). Program itu dinamai 'Kampus Merdeka' dan memiliki empat pokok kebijakan.

Hal itu disampaikannya dalam acara Peluncuran Kebijakan Kampus Merdeka di Gedung D Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (24/1). Acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf serta beberapa perwakilan dosen dan mahasiswa di Indonesia.

"Bapak Ibu ingat episode pertama (Merdeka Belajar) yang mana waktu UN, USBN, RPP Zonasi, masih ingat? Itu episode pertama. Ini episode kedua kebijakan. Dan fokusnya pada perguruan tinggi, makanya dinamakan 'Kampus Merdeka'," kata Nadiem.

Kebijakan pertama dalam Kampus Merdeka adalah memperbolehkan perguruan tinggi untuk membuat program studi (prodi) baru. Namun, pembuatan prodi baru itu hanya bisa dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki akreditasi A dan B.

"Perguruan tinggi yang punya akreditasi A dan B langsung diberikan izin membuka prodi baru," kata Nadiem.

Kebijakan selanjutnya yang disebutkan Nadiem adalah tentang sistem akreditasi perguruan tinggi. Nadiem menyebut nantinya akreditasi akan bersifat sukarela bagi setiap perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap.

"Akreditasi harus mengarah ke sukarela. Semua negara maju sekarang kalau ditanya sukarela. Kalau mau ya di-prioritize, kalau nggak mau nggak apa-apa," ucap Nadiem.

Kebijakan ketiga yang dijelaskan Nadiem adalah soal kebebasan bagi Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH). Nadiem juga menyebut tidak ada pemaksaan bagi PTN BLU dan Satker yang ingin berubah menjadi PTN BH.

"Bagi yang mau berubah jadi PTN BH, ini bukan pemaksaan ya, bagi yang mau saja," ucap Nadiem.

Kebijakan terakhir adalah adanya kebebasan kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi.

"Kami sebagai kementerian membijakkan untuk PT memberikan hak 3 semester dari 8 semester (di kampus) itu bisa diambil di luar prodi," ujar Nadiem.

Mahasiswa Magang 3 Semester
Kuliah di luar prodi ini bisa berupa magang, penelitian hingga melakukan pertukaran pelajar.

"Sekarang kita kebagian favorit saya dan menurut saya ini dari semua kebijakan, yang paling penting karena dampaknya bagi negara kita. Saya rasa dampaknya bisa terasa secara cepat ril dan secara masif. Ini adalah hak belajar 3 semester belajar di luar studi. Ini adalah hak mahasiswa," kata Nadiem.

Nadiem menegaskan kebijakan tersebut merupakan pilihan untuk mahasiswa. Namun, dia mewajibkan perguruan tinggi untuk memberikan opsi kebijakan 3 semester belajar di luar prodi kepada mahasiswa.

"Saya harus tekankan ini bukan pemaksaan. Kalau mahasiswa itu ingin 100 persen di dalam prodi itu, ini adalah hak mereka. Ini adalah opsinya untuk mahasiswa. Tapi ini suatu kewajiban bagi perguruan tinggi untuk memberikan opsi tersebut," ucap Nadiem.
Lebih lanjut, dia mengatakan perguruan tinggi minimal harus memberikan kesempatan belajar di luar prodi bagi mahasiswa minimal 2 semester dan maksimal 3 semester.

"Dari 3 semester itu 2 semester harus diberikan jaminan hak kepada mahasiswa, dua semester dari 3 di luar kampus," kata Nadiem.
Nadiem kemudian menganalogikan sistem perkuliahan saat ini dengan metode belajar berenang. Dia menganalogikan sistem perkuliahan saat ini sebagai kolam renang dan dunia kerja sebagai laut.

"Saat ini semua mahasiswa kita hanya belajar satu disiplin, lalu dia latihan berenang yang nantinya akan di laut, cuma di kolam renang yang aman yang ada berbagai macam ada alat-alat keamanan, nggak ada ombak, nggak ada arus, nggak ada cuaca. Jadi gimana nanti pada dia nyebur di laut terbuka dia bisa survive," ujar Nadiem.

Nadiem mengungkapkan tujuannya mengubah sistem belajar S1 karena dia ingin mahasiswa belajar tidak hanya di dalam kampus. Dia ingin mahasiswa mulai memasuki dunia kerja sejak masa kuliah.

"Kita ingin merubah program S1 itu adalah untuk dia belajar berbagai macam gaya berenang, dia belajar gaya katak, dia belajar gaya ngapung, dia belajar berbagai macam ilmu berenang. Dan jangan cuma berenang di kolam renang, karena kondisi laut itu sangat bervariatif sehingga kenapa kita tidak juga sekali-kali melatih dia di dalam laut yang bebas di mana banyak sekali variability, banyak sekali kondisi untuk melatih kemampuan adaptif dia," ujar Nadiem.

Nadiem juga mengatakan sistem perkuliahan yang ada saat ini membuat banyak sarjana berkarir di bidang yang berbeda dari prodi mereka. "Kenyataannya sekarang sedikit sekali proporsi. Jadi mayoritas dari anak-anak lulusan S1 berkarir akhirnya di tempat yang berbeda. Mayoritas berkarir di tempat yang berbeda," kata Nadiem. (detikcom/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru