Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Kemampuan Virus Corona Semakin Kuat, Pemerintah China Minta Warga Tidak Bersalaman

* Sudah Renggut 80 Nyawa dan 2.300 Orang Terinfeksi
Redaksi - Selasa, 28 Januari 2020 09:25 WIB
4.754 view
Kemampuan Virus Corona Semakin Kuat, Pemerintah China Minta Warga Tidak Bersalaman
AFP/HECTOR RETAMAL
Para pasien di Rumah Sakit Palang Merah Wuhan, China, Sabtu (25/1/2020), menggunakan masker untuk melindungi diri dari serangan virus corona y

Beijing (SIB)
Pemerintah Beijing, China, meminta warga untuk tidak bersalaman sebagai bentuk pencegahan merebaknya virus corona. Melalui pesan teks, otoritas kesehatan Beijing meminta warga untuk memberikan salam secara tradisional. Selain itu, pemerintah ibu kota China juga memerintahkan perpanjangan hari libur Festival Musim Semi. Hal itu sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dilansir AFP, Senin (27/1), satu kelompok kerja yang diketuai oleh Perdana Menteri Li Keqiang memutuskan kebijakan itu pada Minggu (26/1) waktu setempat. Kebijakan memperpanjang liburan Festival Musim Semi yang telah dijadwalkan berakhir pada 30 Januari itu 'demi mengurangi arus populasi'. Belum jelas berapa lama hari libur itu diperpanjang. Kelompok kerja tersebut juga memerintahkan perubahan pada "tanggal mulai sekolah" dan "orang untuk bekerja dari rumah dengan bekerja secara online."

"Pertemuan itu menekankan bahwa negara pada saat yang sangat penting dalam pencegahan dan pengendalian wabah corona virus baru, mendesak komite Partai dan pemerintah di semua tingkatan untuk mengambil langkah-langkah yang lebih 'menentukan, kuat dan tertib, ilmiah dan terencana' untuk efektif mengekang penyebaran," lapor Xinhua.

Dalam konferensi pers, Komisi Kesehatan Nasional China menyatakan, kemampuan penyebaran virus corona semakin kuat dengan kasus infeksi bisa semakin bertambah. Sejauh ini, pemerintah China menyatakan, korban meninggal akibat wabah virus corona mencapai 80 orang dengan lebih dari 2.300 orang terinfeksi. Dilansir AFP Senin (27/1), otoritas di Provinsi Hubei mengonfirmasi adanya 371 kasus serta 24 korban kematian yang baru. Jumlah 80 korban meninggal akibat virus corona merupakan lonjakan tajam setelah sehari sebelumnya (26/1), ketika China mengumumkan 56 kematian. Selain itu, kasus baru yang diumumkan pemerintah Hubei membuat angka mereka yang terinfeksi mencapai lebih dari 2.300 orang jika digabung data dari otoritas pusat.

Sebagian besar korban berasal dari Hubei dan Wuhan. "Berdasarkan informasi klinis terbaru, kemampuan virus itu untuk menyebar entah bagaimana menjadi lebih kuat," papar kepala komisi, Ma Xiaowei.

Ma menerangkan, masa inkubasi virus corona terjadi antara satu hingga 14 hari, tergantung bagaimana kondisi infeksi terjadi. Dia menyatakan, pemerintah pusat bakal semakin menggalakkan langkah pencegahan, yang antara lain membatalkan acara besar hingga menghentikan transportasi publik. Sejumlah kalangan meragukan kemampuan China dalam menangani. Meski begitu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) urung mendeklarasikannya sebagai wabah internasional.

Hingga 3 Orang
Sementara itu, publik China meminta adanya transparansi, karena pemerintah Beijing dianggap menutupi cara dalam menangani patogen tersebut. "Orang-orang di kampung halaman saya mencurigai jumlah korban terinfeksi yang diklaim oleh pemerintah," ujar Violet Li, warga salah satu distrik di Wuhan.

Jumlah penderita virus corona terus bertambah. Menurut analisa ilmiah, masing-masing penderita virus mematikan tersebut rata-rata menularkan penyakitnya ke antara dua atau tiga orang saat ini. Para ilmuwan yang melakukan analisa tersebut mengatakan bahwa, apakah wabah ini akan terus menyebar pada tingkat penularan seperti saat ini akan bergantung pada efektivitas langkah-langkah pengendalian wabah.

Pemerintah China menyatakan bahwa sejauh ini, jumlah korban tewas akibat wabah virus corona di China telah mencapai 80 orang. "Tidak jelas pada saat ini apakah wabah ini dapat dikendalikan di China," kata Neil Ferguson, spesialis penyakit menular di Imperial College London yang ikut memimpin studi analisa tersebut, seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (27/1).

Tim Ferguson menyebutkan bahwa sebanyak 4 ribu orang di Wuhan telah terinfeksi virus ini pada 18 Januari, dan bahwa rata-rata setiap penderita menularkannya ke dua atau tiga orang lainnya. Studi lainnya yang dilakukan para periset di Lancaster University, Inggris juga menemukan bahwa tingkat penularan rata-rata oleh satu orang yang telah terinfeksi adalah 2 hingga 5 orang. "Jika epidemi terus berlanjut di Wuhan, kami memperkirakan (itu) akan jauh lebih besar pada 4 Februari," demikian laporan para periset di Lancaster University. Para ilmuwan tersebut memperkirakan bahwa kota Wuhan di China, tempat wabah ini bermula pada Desember 2019 lalu, akan mengalami sekira 190 ribu kasus penderita virus corona pada 4 Februari mendatang.

Beijing bergerak cepat melakukan langkah pencegahan setelah virus itu pertama kali tercatat di Wuhan, ibu kota Hubei, pada akhir Desember 2019. Antara lain menutup Pasar Seafood Huanan, lokasi yang diyakini menjadi titik pertama penyebaran virus corona, di mana dijual hewan liar. Kemudian, Wuhan dan belasan kota di sekitarnya juga ditutup, di mana otoritas lokal juga menghentikan layanan transportasi publik. Sebanyak 1.230 dokter dan perawat dari seluruh negeri juga dikerahkan, dengan rumah sakit baru dikebut pembangunannya agar bisa digunakan dalam 8 hari ke depan.

Selain di China, patogen dengan kode 2019-nCov tersebut juga menyebar ke 14 negara. Antara lain Jepang, Vietnam, hingga AS. Setidaknya ada enam negara yang berencana melakukan evakuasi warganya baik dari Wuhan maupun Hubei, baik melalui pesawat atau jalan darat.

Virus corona menjadi perhatian dunia karena disebut mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) yang mewabah pada 2002-2003, dan membunuh hampir 800 orang. Patogen itu diyakini berasal dari Pasar Seafood Huanan, di mana tempat itu juga menjajakkan hewan eksotis dan liar seperti kelelawar hingga serigala. Hingga saat ini, sudah ada 12 negara yang mengumumkan kasus positif virus corona, dengan Kanada menjadi yang terbaru melakukannya. (AFP/Rtr/dtc/kps/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru