Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Komisi I DPR Datangi Rumah Jenderal Andika Perkasa

* Imparsial Kritik Baju Army Look Anggota DPR saat Uji Calon Panglima TNI
Redaksi - Senin, 08 November 2021 07:47 WIB
507 view
Komisi I DPR Datangi Rumah Jenderal Andika Perkasa
Foto Ant/Aditya Pradana Putra
VERIFIKASI FAKTUAL: Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) sekaligus calon Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa (kiri) didampingi keluarganya menyambut kedatangan anggota Komisi I DPR sekaligus Wakil Ketua DPR Lodewijk F. Paulus (kedua ka
Jakarta (SIB)
Komisi I DPR RI menyambangi kediaman calon Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa di wilayah Senayan, Jakarta Selatan. Kedatangan para wakil rakyat ini untuk melakukan verifikasi faktual.

Pantauan di lokasi, Minggu (7/11), Jenderal Andika bersama sang istri, Hetty Perkasa, dan anaknya terlihat menunggu di depan gerbang rumahnya. Andika mengenakan baju cokelat muda dan celana hitam, sedangkan sang istri mengenakan setelan bercorak batik.

Andika terlihat menyambut kedatangan satu per satu anggota Dewan dari Komisi I ke rumahnya. Terlihat yang datang lebih dahulu Wakil Ketua DPR RI Lodewijk F Paulus, dengan mengenakan kemeja putih.

Kemudian disusul anggota Komisi I Syarief Hasan. Tak lama berselang, datang Ketua Komisi I Meutya Hafid berkemeja hitam bersama rombongan anggota Dewan Komisi I lainnya.

Tiada sepatah kata pun yang diucapkan wakil rakyat itu. Mereka langsung masuk ke kediaman Andika. Awak media hanya boleh meliput di luar rumah.

Kritik Baju Army Look
Beberapa anggota Komisi I DPR RI memakai baju hijau army ala tentara saat melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Komisi I DPR pun menuai kritik karena memakai baju ini.

Peneliti dari Imparsial, Husein Ahmad mengatakan memang tidak ada aturan yang melarang para anggota DPR memakai baju hijau army saat fit and proper test panglima TNI. Namun, hal tersebut menurut Husein tidaklah lazim.

"Boleh aja (pakai baju hijau army). Tapi nggak lazim di parlemen negara-negara demokrasi," kata Husein kepada wartawan, Minggu (7/11).

Dia mengatakan bahwa baju 'militeristik' seperti itu cuma dipakai di negara-negara otoriter. Yaitu negara-negara yang mengadopsi militerisme.

"Biasanya Parlemen yang pakai baju yang 'militeristik' cuma ada di negara-negara yang otoriter atau fasis misalnya Tiongkok, Kuba dan lain sebagainya. Karena negara-negara itu mengadopsi militerisme ke dalam kehidupan bernegaranya," ungkapnya.

Menurutnya baju hijau army itu aneh jika dipakai oleh anggota parlemen negara demokrasi. Hal ini justru bisa mengesankan bahwa anggota DPR bukan mewakili rakyat.

"Menjadi aneh kalau itu dilakukan di negara demokrasi. Dalam negara demokrasi lazimnya wakil rakyat menampilkan dirinya sebagai representasi yang diwakili (rakyat). Kalau begini kan ada kesan kalau anggota DPR bukan wakili rakyat tapi wakili kelas yang gaya berpakaiannya mereka pakai itu," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mempertanyakan bagian mana yang disebut sebagai 'army look'. Kata Abdul Kharis, warna hijau tidak selalu identik dengan army look.

"Ya mana yang army look? bukan army look. Emang kalau warna hijau pasti army look, ya nggak lah, itu nanti seragam PKB army look," kata Abdul Kharis di Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (7/11).

Abdul Kharis menegaskan kembali bahwa warna hijau tidak selalu mengandung unsur tentara. Dia pun mengungkap baju hijau yang dipakai Komisi 1 itu dibuat sebelum adanya fit and proper test calon Panglima TNI.

"Warna hijau warna macam-macam bukan cuman warna tentara, itu dibuat sebelum fit proper," ungkapnya. (detikcom/c)
Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru