Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 16 September 2026
Semburkan Abu Panas

Sinabung Telan Korban Jiwa

*17 Korban Tewas Dievakuasi, Diantaranya Wartawan dan Fotografer ·,*Diduga Jumlah Korban Jiwa Masih Bertambah
- Minggu, 02 Februari 2014 11:04 WIB
1.506 view
Sinabung Telan Korban Jiwa
SIB/rtr
Seorang ibu berlari menyelamatkan diri menghindari awan panas di Desa Sigarang-garang Kabupaten Karo, Sabtu (1/2/2014)
Karo (SIB)- Tanah Karo berduka. Saat BNPB menginstruksikan 16 desa di luar radius 5 km atau di luar zona merah untuk kembali ke desanya, Sabtu (1/2/2014), saat itu pula erupsi awan panas Gunung Sinabung terjadi. Sekitar pukul 10.30 sampai pukul 11.00 Wib, Sabtu (1/2) erupsi awan panas yang disebut-sebut paling besar pun terjadi ke arah jalur Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan. Sejumlah warga desa yang pagi-pagi sudah datang melihat rumah dan areal pertaniannya serta sejumlah warga luar yang juga datang ingin melihat erupsi dengan jarak dekat spontan kocar-kacir dan histeris. Sampai berita ini dikirim, Sabtu malam, telah 17 korban jiwa dan 2 luka bakar parah masih dirawat di RSU Efarina Etaham, Kabanjahe.

Pantauan SIB dari desa Bakerah Kecamatan Payung - berjarak sekitar 2 km dari Sinabung - awan berwarna merah menyembur ke arah luncuran desa Sukameriah dan Gurukinayan membuat warga kocar-kacir menyelamatkan diri melalui persimpangan Tigakicat dan sebagian berlari melalui Desa Berastepu. Seketika itu juga badai abu dan hujan debu terjadi membuat jarak pandang di Desa Berastepu dan Bakerah cuma 1 meter.

Tiga korban bakar parah pertama yang ditemukan, Doni Milala, warga Desa Sukameriah, Pt Sehat Sembiring (pengurus GBKP Kota Kabanjahe) dan putranya, Surya Sembiring, warga asal Gurukinayan. Mereka  dilarikan warga ke RSU Efarina Etaham, Kabanjahe. Namun sekitar pukul 18.00 wib, Doni Milala (70) meninggal dunia.

Sedangkan setelah dilakukan penyisiran, sejumlah korban jiwa warga pengungsi dan sebagian mahasiswa dan pelajar dari luar daerah kembali ditemukan tewas mengenaskan di lokasi perladangan Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan. Di antaranya, Diva Nusantara (17) warga Korpri, Daud Surbakti (16) pelajar STM 1 Berastagi,  Alexander Sembiring warga Simpang Korpri, Berastagi dan lainnya belum ditemukan identitasnya.

Banyak warga dan kalangan pengurus posko dan kepala desa yang terkena zona merah. Diduga masih banyak warga yang tewas mencapai puluhan orang di lokasi perladangan desa Sukameriah dan Gurukinayan. Sampai berita ini dikirim pukul 19.30 WIB, penyisiran sudah dihentikan sedangkan korban yang semuanya dibawa ke RSU Kabanjahe dipadati seribuan pengungsian dan keluarga tempat para korban divisum.

PRO-KONTRA
Peristiwa ini menjadi pro-kontra bagi masyarakat pengungsi dan masyarakat luas. Sejumlah 13.828 jiwa pengungsi di luar zona merah (5 Km-red) diinstruksikan PVMBG dan PLt Kepala Kantor (Kakan) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Pemkab Karo, Syukur Tarigan dipulangkan terhitung 31 Januari 2014 pukul 14.00 Wib.

Rekomendasi kepulangan 13.828 jiwa ini meliputi 16 desa di luar radius 5 Km meliputi Kecamatan Payung terdiri dari Desa Cimbang, Ujung Payung, Payung, Rimo Kayu, Batu Karang. Kecamatan Simpang Empat meliputi Desa Jeraya, Pintu Besi, Tiga Pancur. Kecamatan Namanteran meliputi Desa Naman, Kuta Mbelin, Kabayaken, Gung Pinto, Sukandebi. Kecamatan Tiganderket meliputi Desa Tiganderket, Kuta Mbaru, Tanjung Merawa, ini direlis pihak Kominfo dan PDE selaku Humasy Pemkab Karo kepada SIB, Jumat (31/1).

Hal yang sama juga dikatakan  kepada sejumlah pengungsi di posko pengungsian Paroki St Petrus dan Paulus, Jalan Irian, Kabanjahe, Kamis (30/1) saat mendampingi Deputi IV BNPB dan Sekretaris BNPB mengatakan agar pengungsi dapat kembali ke desa-desanya untuk membersihkan rumah dan halaman rumah mereka. Bahkan akibat perintah dan surat edaran PVMBG ini, Sabtu (1/2) banyak warga kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri dari “sergapan” awan panas erupsi Sinabung.

Syukur Tarigan yang dikonfirmasi SIB, Sabtu (1/2) melalui telepon selulernya membenarkan pemberitahuan yang dikeluarkannya kepada  warga pengungsi dapat kembali ke desanya membersihkan rumah dan halaman rumah mereka.

“Memang benar saya katakan itu kepada pengungsi di luar zona merah atau radius 5 Km. Sekarang pun kita sarankan begitu,” ujar Syukur tenang.

MASIH DIPADATI WARGA
Pantauan SIB, Sabtu (1/2) sampai pukul 20.20 Wib, seribuan warga, khususnya pengungsi dari berbagai posko, masih memadati halaman RSU Kabanjahe. Sedangkan dari pihak terkait, seperti Ketua BNPB Sumut, Asren Nasution, Sekda Karo, dr Sabrina Br Tarigan hadir memasuki ruang pembersihan korban di RSU Kabanjahe. Belum ada pihak manapun yang dapat dikonfirmasi SIB. Menurut informasi, penyisiran dan pencarian korban terkena awan panas erupsi Sinabung sementera dihentikan, dilanjutkan, Minggu (2/2). Menurut informasi dari pihak Tanggap Darurat, malamnya akan dilakukan konferensi pers. Namun sampai berita dikirim, Sabtu (1/2) pukul 20.25 WIB belum ada temu pers seputar kejadian yang menelan banyak korban jiwa ini.

WARTAWAN DAN FOTOGRAFER TEWAS
Informasi tambahan diperoleh SIB, satu fotografer dan satu wartawan salah satu media cetak Medan ikut tewas akibat terkena awan panas erupsi Sinabung. Fotografer tersebut, Thomas Milala warga Medan dan Rizal  Syahputra, warga Jalan Karya Bhakti Darussalam Medan, salah satu wartawan media cetak terbitan Medan ikut dievakuasi.

Informasi lainnya yang diperoleh SIB dari sejumlah pihak evakuator, Sabtu (1/2) di RSU Kabanjahe menyebut, pihaknya masih mengevakuasi korban di satu Desa Sukameriah. Sedangkan di Desa Bakerah dan Simacem belum tersisir karena kondisi belum memungkinkan. Diduga, di lokasi ini banyak korban tewas terkena awan panas. Karena di lokasi sekitar ditemukan 18 sepeda motor dalam keadaan ditutupi debu awan panas.

“Dari fakta, paling tidak sekitar 36 warga sengaja datang ke lokasi dan belum termasuk warga pengungsi yang datang melihat rumah dan areal perladangannya.

Rizal Sahputra (23), mantan reporter TvOne Medan, menjadi salah satu korban awan panas Gunung Sinabung.

Berdasar status BB-nya, warga Jalan Karya Bhakti Medan itu secara intensif meliput erupsi gunung yang berkarakter mirip dengan Gunung Merapi itu.
Rizal sempat menyampaikan bahwa dirinya melihat bongkahan lava pijar.

Inilah status BB dan FaceBook (FB) almarhum sekitar pukul 01.35, yang saat ini beredar di kalangan rekan-rekan wartawan di Medan;  Kuta Tonggal- Suara gelegak itu semakin jelas terdengar, bongkahan batu cair (lava) berwarna pijar mulai terjulur dari mulut kawah Sinabung.

Kabar bahwa Rizal menjadi korban awan panas Sinabung disampaikan Juru Bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (1/2) malam. 

Sebagaimana diketahui Desa Sukameriah terletak di 3 Km di selatan Gunung Sinabung yang sangat berbahaya karena sangat berdekatan dengan lintasan awan panas yang mencapai 4,5 Km. Radius 5 Km dari puncak Gunung Sinabung adalah daerah yang harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, namun masih banyak masyarakat yang kembali ke rumah pada siang hari, dan malam hari kembali ke pengungsian.  

“Kejadiannya tadi pagi, mereka sudah dibawa ke rumah sakit,” kata Alvian, salah seorang warga yang turut membawa korban yang luka pada saat itu.

Alvian menyebutkan, ketiganya terkena awan panas saat pulang ke desa mereka yang hingga saat ini masih dalam radius steril. Keberadaan mereka baru diketahui setelah salah satu petugas jaga pos desa turun ke desa untuk mengecek situasi pasca erupsi yang terjadi. Saat itulah diketahui ketiganya menjadi korban awan panas.

“Tadi pagi kan ada letusan besar, jadi penjaga pos disana yang kebetulan pendeta turun ke sana untuk mengecek situasi setelah letusan, barulah tahu kalau ketiganya jadi korban,” ujarnya.

Sementara itu, menurut keluarga koban, Reski Marwan Tarigan (23), warga Jalan Sudirman, Kabanjahe kepada wartawan di RS Efarina Etaham mengatakan, bapak uda nya (paman-red), Sehat Sembiring, dan adiknya Surya Sembiring pergi ziarah ke makam keluarga besar Sembiring Guru Kinayan, sekaligus untuk melihat kondisi kampung halaman mereka.

“Bapak uda sama adek itu ziarahnya tadi ke sana bang, sekalian mau lihat kondisi kampung. Tapi sampai sana kudengar meletus gunung itu bang. Terus kami dikabari orang tadi ke rumah kalau bapak uda sama adek itu kena awan panas dan dirawat di RS Efarina Etaham,” terang Reski hingga meneteskan air mata.

Ditempat terpisah, Koordinator Media Center Penanggulangan Bencana Sinabung Posko Kabanjahe, Jhonson Tarigan ketika dihubungi SIB Melalui telepon selulernya mengatakan ke-14 warga yang meninggal  tersebut dalam keadaan terbakar akibat semburan awan panas di Desa Sukameriah, Kecamatan Payung.

“Pencarian korban akan dilanjutkan esok hari, Minggu (2/2) karena hari sudah gelap,” ungkapnya (B1/BR2/tvone/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru