Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Tak Main-main, Rusia Mulai Kirim Senjata Nuklir ke Belarus

* AS: Rusia Lakukan Tindakan Provokatif
Redaksi - Sabtu, 27 Mei 2023 09:27 WIB
2.881 view
Tak Main-main, Rusia Mulai Kirim Senjata Nuklir ke Belarus
Foto: Future of Life
Ilustrasi
Moskow (SIB)
Rusia mulai mengirimkan senjata nuklir taktis ke negara yang berbatasan dengan Ukraina, Belarus, pada Kamis (25/5) waktu setempat. Amerika Serikat menilai tindakan tersebut provokatif. "Pengiriman amunisi nuklir telah dimulai," kata Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, saat berkunjung ke Moskow untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin, seperti dilansir dari laporan AFP, Jumat (26/5).

Pernyataan Lukashenko tersebut dilontarkan tidak lama usai menteri luar negeri Belarus dan Rusia menandatangani dokumen berisi prosedur menyimpan senjata nuklir non-strategis Rusia di fasilitas khusus Belarus, demikian dilaporkan CNN.

Menteri Pertahanan Belarus, Viktor Khrenin, mengatakan kesepakatan itu terjalin karena negaranya tertarik mengembangkan hubungan yang lebih intens dengan Rusia di bidang militer.

Menanggapi pengerahan senjata nuklir tersebut, juru bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, mengatakan langkah Rusia "provokatif dan tidak bertanggung jawab”.


Provokatif
Meski merespons negatif, ia memastikan AS belum akan bereaksi dengan menyesuaikan program nuklir Washington. Jean-Pierre mengatakan AS belum melihat tanda-tanda Rusia akan menggunakan senjata nuklir dari Belarus. "Kami belum melihat alasan untuk menyesuaikan postur nuklir kami atau indikasi apa pun bahwa Rusia siap menggunakan senjata nuklir dari Belarus," ujar dia.

Rencana Rusia mengerahkan senjata nuklir taktis ke Belarus sudah mencuat sejak Maret lalu. Ketika itu, Putin mengambil langkah tersebut usai satu laporan menyebut Inggris bakal mengirim amunisi anti-tank mengandung uranium ke Ukraina. Pemerintah London membantah laporan itu. Namun, Putin tetap mengambil tindakan serius.[br]


Belarus kemudian menyatakan bakal menerima senjata nuklir Rusia untuk melawan ancaman Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Di luar itu, negara pimpinan Lukashenko memang dikenal sebagai tempat persiapan bagi pasukan Rusia sebelum menyerang Ukraina pada 2022 lalu.

Di hari pertama invasi, pasukan Rusia masuk ke Ukraina dari tiga titik, salah satunya dari Belarus. Selain itu, Lukashenko juga merupakan sekutu dekat Putin. Kedua pasukan negara ini sering melakukan latihan militer bersama.

Senjata nuklir taktis digunakan untuk mendapatkan keuntungan taktis di medan pertempuran, dan biasanya berkekuatan lebih kecil dibandingkan senjata nuklir strategis yang dirancang untuk menghancurkan kota-kota di AS atau di Rusia.

Moskow memiliki keunggulan jumlah sangat besar atas Washington dan negara-negara NATO untuk senjata nuklir taktis. AS meyakini Rusia memiliki sekira 2.000 hulu ledak taktis yang berfungsi. Sedangkan AS sendiri memiliki sekira 200 senjata nuklir taktis, yang separuhnya dikerahkan ke pangkalan negara-negara Eropa.


Jangan Remehkan
Sementara itu, sekutu presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Medvedev mengingatkan bahwa negara-negara Barat secara serius meremehkan risiko perang nuklir atas Ukraina.

Mantan presiden Rusia tersebut mengingatkan bahwa Rusia akan melancarkan serangan pendahuluan jika Ukraina mendapatkan senjata nuklir. Dilansir kantor berita Reuters, Jumat (26/5), invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 telah memicu konflik Eropa paling mematikan sejak Perang Dunia II, dan konfrontasi terbesar antara Moskow dan Barat sejak Krisis Rudal Kuba 1962.

Rusia, yang memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain, telah berulang kali mengatakan bahwa Barat terlibat dalam perang proksi dengan Rusia atas Ukraina, yang dapat meningkat menjadi konflik yang jauh lebih besar. "Ada hukum perang yang tidak dapat diubah. Jika menyangkut senjata nuklir, harus ada serangan pendahuluan," kata Medvedev yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, seperti dikutip kantor berita Rusia.

“Mengizinkan senjata nuklir untuk Ukraina, satu langkah yang tidak pernah diusulkan oleh negara Barat secara terbuka, akan berarti satu rudal dengan muatan nuklir mendatangi mereka," kata Medvedev, yang menjabat sebagai presiden Rusia dari 2008 hingga 2012.

"Anglo-Saxon tidak sepenuhnya menyadari hal ini dan percaya bahwa ini tidak akan terjadi," kata Medvedev. "Itu akan terjadi dalam kondisi tertentu," tambahnya.[br]


Para diplomat mengatakan pandangan Medvedev belakangan sangat anti-Barat, memberikan indikasi pemikiran di tingkat atas elite Kremlin. Diketahui bahwa Barat mengatakan ingin membantu Ukraina mengalahkan Rusia. Namun, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah memperingatkan bahwa konfrontasi langsung antara aliansi militer NATO yang didukung AS dengan Rusia akan mengakibatkan Perang Dunia Ketiga.

Ketika memperoleh kemerdekaan setelah jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, Ukraina menampung ribuan senjata nuklir. Ukraina menyerahkan senjata nuklir tersebut ke Rusia di bawah Memorandum Budapest 1994, dengan imbalan jaminan untuk keamanan dan kedaulatannya dari Rusia, Amerika Serikat dan Inggris. (AFP/CNNI/detiknews/a)




Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru