Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Februari 2026
Pertemuan Menlu ASEAN

RI Kutuk Keras Kekerasan di Myanmar

* Arab Saudi Teken Traktat Persahabatan
Redaksi - Kamis, 13 Juli 2023 09:03 WIB
322 view
RI Kutuk Keras Kekerasan di Myanmar
Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
PERTEMUAN TRILATERAL : Menlu Retno Marsudi (tengah) bersama Menlu Australia Penny Wong (kiri) dan Menlu India Subrahmanyam Jaishankar (kanan) sebelum pertemuan trilateral di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (12/7). 
Jakarta (SIB)
Menlu RI Retno Marsudi memimpin Sesi Retreat Pertemuan Menlu ASEAN (AMM), Rabu (12/7). Dalam sesi tersebut, Retno mengutuk kekerasan yang terus meningkat di Myanmar.

Pertemuan Menlu ASEAN ini digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (12/7). Sesi Retreat ini salah satunya membahas terkait krisis politik di Myanmar.

Dalam pidato pembukaannya, Retno mulanya menjelaskan mengenai Konsensus 5 Poin yang disepakati oleh ASEAN untuk membantu Myanmar keluar dari krisis politik.

Retno menuturkan, selama hampir 7 bulan menjadi Ketua ASEAN, Indonesia terus berupaya melakukan dialog intensif dengan prinsip 'tidak ada yang tertinggal'.

"Engagements hanyalah sarana. Ini adalah waktu yang tepat untuk mendorong dialog di antara mereka. Dialog akan membuka jalan menuju solusi politik. Hanya solusi politik yang akan menghasilkan perdamaian yang tahan lama," kata Retno.

Retno menuturkan, Indonesia masih sangat prihatin atas kekerasan yang meningkat di Myanmar. Indonesia pun mengutuk keras hal tersebut.

"Kami masih sangat prihatin melihat kekerasan yang terus berlanjut dan meningkat di Myanmar. Indonesia mengutuk keras penggunaan kekuatan dan kekerasan," ujarnya.

Retno juga mendesak semua negara ASEAN mengecam kekerasan itu. Sebab, menurutnya, hal ini penting untuk membangun dialog.

"Kami sangat mendesak semua pemangku kepentingan untuk mengecam kekerasan karena ini sangat penting untuk membangun kepercayaan, dan ini juga penting untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan dialog," tutur Retno.

Lebih lanjut, Retno juga meminta ASEAN harus tetap berada di kursi pengemudi dalam mengarungi tantangan geopolitik saat ini dan ke depan, termasuk melalui East Asia Summit (EAS) dan ASEAN Regional Forum (ARF). Dia menekankan, ASEAN percaya pada inklusivitas dan dialog.

"EAS dan ARF adalah platform inklusif yang sangat penting tempat semua pemain di wilayah ini duduk dan berbicara. ASEAN percaya pada inklusivitas, ASEAN percaya pada dialog, dan ASEAN percaya pada kolaborasi yang saling menguntungkan," papar Retno.

"Untuk ARF, tahun ini menandai tahun ke-30 berdirinya. Sambil menjaga langkah-langkah membangun kepercayaan, sudah saatnya ARF juga fokus pada diplomasi preventif," imbuh dia.


Traktat Persahabatan
Sementara itu, Arab Saudi menandatangani Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) dengan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Indonesia menyambut hangat bergabungnya Arab Saudi.

Penandatanganan TAC itu dilakukan di sela-sela Pertemuan ke-56 Menlu ASEAN (AMM) di Hotel Shangri-la, Jakarta, Rabu (12/7). Arab Saudi diwakili oleh Menlu Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud.

"We welcome Saudi Arabia to ASEAN Family," kata Retno.

Arab Saudi adalah negara ke-51 yang menandatangani TAC. Retno menuturkan, hal ini mencerminkan komitmen kuat Saudi untuk mematuhi nilai-nilai dan prinsip-prinsip ASEAN sebagaimana diabadikan dalam TAC.

"Komitmen untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Komitmen untuk secara konsisten menegakkan hukum internasional. Komitmen untuk berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara dan sekitarnya," tuturnya.

"Nilai dan prinsip tersebut semakin kritis di tengah dinamika geopolitik saat ini," imbuh Retno.

Retno mengatakan, melalui traktat ini, ASEAN dan Arab Saudi harus berperan kekuatan positif untuk perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.

"Kami menantikan KTT ASEAN-GCC di Arab Saudi pada bulan Oktober tahun ini," pungkasnya. (detikcom/a)





Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru