Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Februari 2026
Retno di Pertemuan Menlu ASEAN dan Mitra

Indo-Pasifik Tidak Boleh Jadi Medan Pertempuran

Redaksi - Sabtu, 15 Juli 2023 09:00 WIB
324 view
Indo-Pasifik Tidak Boleh Jadi Medan Pertempuran
(Foto: Antara/M Risyal Hidayat)
PERTEMUAN BILATERAL INDONESIA-AMERIKA SERIKAT: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony J Blinken (kiri) saat pertemuan bilateral di Jakarta, Jumat (14/7). 
Jakarta (SIB)
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menegaskan Indo-Pasifik tidak boleh menjadi medan pertempuran baru. Sebab, kata Retno, ada pihak yang mengatakan kawasan Indo-Pasifik saat ini tengah mengalami gejala Perang Dingin.
"Ada yang mengatakan Indo-Pasifik sedang mengalami gejala 'a Cold War in hot places (Perang Dingin di tempat panas)'. Indo-Pasifik tidak boleh menjadi medan pertempuran lainnya," kata Retno dalam Pertemuan ke-13 Menlu East Asia Summit (EAS), di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (14/7).
Retno menekankan kawasan Indo-Pasifik harus stabil dalam konteks politik hingga keamanan. Indo-Pasifik ditegaskannya harus menjadi kontributor perdamaian.
"Wilayah kami harus tetap stabil, dan kami berniat untuk tetap seperti itu. Indo-Pasifik tidak hanya harus menjadi kontributor pertumbuhan, tetapi juga kontributor bersih untuk perdamaian yang memproyeksikan paradigma kolaborasi kami ke wilayah lain," tutur dia.
Retno melanjutkan, Indo-Pasifik saat ini tengah berada di titik kritis. Karena itu, Retno meminta negara-negara yang tergabung dalam East Asia Summit untuk berkontribusi terhadap Indo-Pasifik sebagai kawasan yang damai, stabil, dan inklusif.
"Kita semua memiliki perbedaan, tetapi terserah kita untuk menggunakan perbedaan ini sebagai kekuatan pemisah atau mengubahnya menjadi kekuatan yang memperkaya upaya kolektif kita," papar dia.
"Bapak pendiri kami membayangkan konsep 'kesatuan dalam keragaman'. Suatu gagasan bahwa dari perbedaan kita dapat menciptakan keharmonisan dan menetapkan kesamaan jadwal acara," imbuh Retno.
Menlu AS dan Menlu Rusia Kompak Berbatik
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan kehormatan dari para Menteri Luar Negeri (Menlu) negara-negara anggota ASEAN dan negara mitra. Jokowi dan para Menlu kompak berbaju batik.
Courtesy call itu digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (14/7). Pertemuan diawali dengan jabat tangan dan sesi foto bersama.
Jokowi tampak mengenakan kemeja batik lengan panjang bercorak emas dalam pertemuan itu. Senada dengan Jokowi, para Menlu juga kompak mengenakan batik.
Hadir dalam acara itu Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn, Menlu Brunei Darussalam Erywan Pehin Yusof, Menlu Timor Leste Bendito dos Santos Freitas, Menlu Kamboja Prak Sokhonn, Menlu Filipina Enrique Manalo, Menlu Lao PDR Saleumxay Kommasith, Menlu Vietnam Bui Thanh Son, Menlu Singapura Vivian Balakrishnan, Menlu Thailand Don Pramudwinai dan Menlu Malaysia Zambry Abdul Kadir.
Selain itu, hadir juga Menlu dari negara mitra ASEAN Plus Three (APT) dan East Asia Summit. Mereka yang hadir di antaranya, Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi, Menlu Korea Selatan Park Jin, dan Direktur PRC dari Kantor Pusat Luar Negeri PKC Wang Yi yang mewakili Menlu China Qin Gang.
Menlu Australia Penny Wong, Menlu Selandia Baru Nanaia Mahuta, Menlu India Subrahmanyam Jaishankar, Menlu Amerika Serikat Anthony Blinken, hingga Menlu Rusia Sergey Lavrov juga hadir. Selain itu hadir juga Menlu Turki Hakan Fidan.


Tidak Boleh Jadi Proxy
Dalam pidatonya, Jokowi menegaskan ASEAN tidak boleh menjadi proxy negara mana pun.
"ASEAN tidak boleh menjadi ajang persaingan, tidak boleh menjadi proxy negara mana pun, dan hukum internasional harus dihormati secara konsisten," kata Jokowi di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Jokowi mengatakan ASEAN berkomitmen untuk terus memperkuat persatuan dan soliditas. Selain itu, Jokowi mengatakan ASEAN berkomitmen memperkokoh sentralitas menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
"Kami di ASEAN berkomitmen untuk terus memperkuat persatuan dan soliditas serta memperkokoh sentralitas ASEAN dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan," ujarnya.
Karena itu, menurut Jokowi, kerja sama dan dukungan nyata para mitra ASEAN sangat diharapkan. Sebab, ASEAN dinilainya memiliki potensi besar untuk menjadi epicentrum of growth.
"Untuk itu, kerja sama dan dukungan nyata dari para mitra dan tamu ASEAN sangat kami harapkan. Yang Mulia, ASEAN memiliki potensi besar untuk menjadi epicentrum of growth, baik berupa usia produktif yang melimpah maupun kekayaan alam yang juga berlimpah," kata Jokowi. (detikcom/c)



Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru