Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Oktober 2026
PGI Peduli Kerusakan Hutan Papua

Wariskan Mata Air, Bukan Air Mata!

Redaksi - Minggu, 06 Agustus 2023 08:29 WIB
402 view
Wariskan Mata Air, Bukan Air Mata!
(Foto: Dok/Jubi)
TERIMA PLAKAT: Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia atau PGI wilayah Papua, Pendeta Hiskia Rollo STh MM (kiri) menerima plakat dari IRI Indonesia di sela-sela lokakarya dan peluncuran prakarsa lintas agama untuk hutan tropis, Jumat (28/7)
Jayapura (SIB)
Gerakan antaragama dan masyarakat adat untuk hutan tropis Indonesia yang berkumpul dalam Forum Interfaith Rainforest Initiative (IRI) berlanjut di tanah Papua.
Setelah mendorong terbentuknya IRI Chapter Papua Barat dua tahun sebelumnya, kini telah terbentuk chapter-chapter baru di lima provinsi lainnya, Papua, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Selatan dan Papua Pegunungan.
Pdt Jimmy Sormin, Sekretaris Eksekutif Bidang KKC PGI, menegaskan bahwa generasi sekarang sudah terhutang banyak kepada anak-cucu. Semua yang seharusnya dinikmati oleh mereka telah banyak dirampas oleh generasi sekarang ini, ujarnya dalam lokakarya yang dilaksanakan di Jayapura, Jumat (28/7).
“Alih-alih untuk bisa mewariskan mata air yang baik, justru telah terjadi banyak eksploitasi dan pengrusakan alam hutan dan ekosistemnya untuk memuaskan kebutuhan sekelompok orang, dan bisa menjadi air mata bagi generasi yang akan datang,” jelas Pdt Jimmy yang dipercaya sebagai Ketua IRI Indonesia.
Ia turut mengorganisir kegiatan ini bersama beberapa perwakilan majelis keagamaan, LSM Econusa, masyarakat adat, dan PGIW Tanah Papua selaku tuan rumah.
Pdt Jimmy lebih jauh mengungkapkan, “Hutan Papua merupakan hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia, setelah Amazon. Namun saat ini ada dalam situasi krisis, lantaran pengerusakan terjadi di berbagai tempat di Tanah Papua.
Izin atas usaha eksploitasi hutan di Tanah Papua sudah bisa dilihat dengan mata telanjang di mana pun, baik dalam pemberitaan lokal maupun nasional. Namun sayangnya belum banyak pihak yang ingin menyatukan hati, atau melihat hal ini menjadi penting,” tandasnya.
Menurut dia, merusak hutan, sama juga dengan merusak kehidupan umat beragama dan kehidupan masyarakat. Sehingga sangat mendesak untuk selalu dikritisi dan direspons segala bentuk ancaman kerusakan atas hutan. “Untuk itu peran pemuka agama menjadi penting. Selain mengenai isu moral, selama ini peran pemuka agama ini dipandang hanya mengurusi peribadatan saja, padahal pemuka agama memiliki peran sosial yang kuat dan ekologis,” tambahnya.


PENGAWALAN MASYARAKAT
Sementara itu, mantan Gubernur Papua, Barnabas Sebu, menyampaikan hutan Papua harus menjadi prioritas penyelamatannya sebagai hutan kedua terbesar di dunia dan paru-paru dunia.
Pada masa dirinya menjabat gubernur, ada sejumlah regulasi yang dibuat untuk melindungi dan memanfaatkan hutan secara tepat. Namun masalah penerapan dan penegakan hukumnya masih belum sejalan. Karenanya dibutuhkan pengawalan pula oleh tokoh agama dan masyarakat.
Sementara Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Papua, mewakili Plh. Gubernur Papua, mengaku sangat senang dengan kegiatan (lokakarya) yang sudah lama ia mimpikan.
“Dengan perhatian tokoh-tokoh agama dan masyarakat untuk hutan di tanah Papua, itu sangat membantu kami dalam menjalankan tugas untuk merawat hutan yang cukup banyak tantangannya,” ujar laki-laki kelahiran Biak ini.


PEGUNUNGAN CYCLOOP DIRUSAK
Sehari sebelum kegiatan di Jayapura berlangsung, tim IRI sempat berkunjung dan berdialog dengan masyarakat adat di kampung Ayabo dan Yoboy.
Kedua kampung ini terletak di Danau Sentani. Pada 2019 lalu masyarakat adat di Danau Sentani mengalami banjir bandang yang menenggelamkan rumah-rumah panggung mereka.
Banjir yang diakibatkan semakin gundulnya hutan di pegunungan Cycloop itu membuat warga harus menderita selama berbulan-bulan hingga pemukiman dan kehidupan mereka dapat direhabilitasi dengan bantuan dominan dari gereja.
Masyarakat adat mengatakan sangat menyesali kejadian yang tidak pernah mereka alami sejak dahulu itu. “Bukan warga Sentani yang merusak Cycloop, tapi kami yang mengalami kemalangan,” ungkap kepala kampung Ayabo.
Mereka mengaku sangat senang jika tokoh-tokoh agama dan masyarakat adat bersatu hati untuk menyelamatkan hutan Papua demi masa depan anak-cucu, dan bagi dunia.
Sebagai tindak-lanjut kegiatan sehari di Jayapura ini, para peserta berdasarkan kelima provinsi akan melakukan pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk merencanakan program atau aksi-aksi yang relevan.
Di antara mereka bahkan telah menunjuk tim formatur dan pengurus forum gerakan pelestarian hutan dan ekosistemnya. (pgi.or.id/a)


Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru