Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 Juli 2026

Gubernur BI Mundur, Pasar Saham Bergejolak dan Rupiah Tertekan

Redaksi - Senin, 27 Juli 2026 11:40 WIB
101 view
Gubernur BI Mundur, Pasar Saham Bergejolak dan Rupiah Tertekan
Ist/SNN
ILUSTRASI. kocok ulang portofolio investasi saat pasar saham dan rupiah anjlok.

Jakarta (harianSIB.com)

Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu kehati-hatian pelaku pasar pada perdagangan Senin (27/7/2026).

Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil mencermati proses transisi kepemimpinan bank sentral dan arah kebijakan moneter.

Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah dan nyaris menyentuh level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Per pukul 10.21 WIB, rupiah terdepresiasi 31 poin atau 0,17 persen menjadi Rp 17.994 per dollar AS.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat melemah 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 17.976 per dollar AS.

Baca Juga:
Sementara itu, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur pergerakan dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia justru melemah. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,3 persen ke level 101,164.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat setelah sempat dibuka di zona merah.

Per pukul 10.23 WIB, IHSG naik 20,543 poin atau 0,33 persen ke level 6.216,974. IHSG dibuka pada level 6.185,799. Indeks sempat menyentuh level terendah 6.144,274 sebelum berbalik naik hingga mencapai level tertinggi 6.219,418.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, investor cenderung mengambil sikap wait and see dalam jangka pendek.

"Dalam jangka pendek, investor cenderung menerapkan pendekatan wait and see, sehingga volatilitas di pasar saham maupun pasar obligasi berpotensi meningkat," ujar Nafan dikutip Kompas.com, Senin (27/7/2026)

Menurut Nafan, besarnya dampak terhadap pasar bergantung pada alasan pengunduran diri Perry, mekanisme suksesi, serta kredibilitas sosok yang akan menggantikannya.

"Besarnya dampak akan sangat bergantung pada alasan pengunduran diri, mekanisme suksesi, serta kredibilitas sosok pengganti. Jika proses transisi berlangsung cepat, transparan, dan tetap menjaga independensi Bank Indonesia serta kesinambungan kebijakan moneter, maka tekanan terhadap pasar kemungkinan hanya bersifat sementara," paparnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Stockbit, pergerakan saham perbankan berubah sepanjang perdagangan. Pada awal sesi, mayoritas saham bank berkapitalisasi besar bergerak di zona merah.

Per pukul 09.49 WIB, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 25 poin atau 0,40 persen menjadi Rp 6.250. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 20 poin atau 0,68 persen menjadi Rp 2.940.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 40 poin atau 0,97 persen menjadi Rp 4.090. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 20 poin atau 0,57 persen ke level Rp 3.500. Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turun 10 poin atau 0,54 persen menjadi Rp 1.835.

Tekanan juga terjadi pada PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), serta PT Panin Financial Tbk (PNLF).

Memasuki pertengahan sesi, sebagian saham perbankan berbalik menguat. Per pukul 10.23 WIB, BBCA naik 25 poin atau 0,40 persen menjadi Rp 6.300. BBRI menguat 10 poin atau 0,34 persen menjadi Rp 2.970. BMRI masih melemah 20 poin atau 0,48 persen ke level Rp 4.110, sedangkan BBNI bertahan di level Rp 3.520.

BRIS naik 5 poin atau 0,27 persen menjadi Rp 1.850. Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) melonjak 15 poin atau 2,54 persen menjadi Rp 605. Sementara itu, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) naik 15 poin atau 1,24 persen menjadi Rp 1.220. (*)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Investor Memburu Dolar AS, Rupiah Tertekan
komentar
beritaTerbaru
Trio Ambisi Guncang PRSU ke 50

Trio Ambisi Guncang PRSU ke 50

Medan(harianSIB.com)Malam di panggung utama Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke50 berubah menjadi ruang penuh nostalgia ketika Trio Ambisi