Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 14 September 2026

Eddy Silitonga Konser Eksklusif 4 Hari 4 Malam di Malaysia

- Kamis, 21 Agustus 2014 13:38 WIB
4.104 view
Eddy Silitonga Konser Eksklusif 4 Hari 4 Malam di Malaysia
Eddy Silitonga bersama anaknya — Mario dan Marco serta kerabatnya, Jiki konser di Malaisya dengan biduan terpopuler di negeri semenanjung, Dato’ Jamal Abdillah
Jakarta (SIB)- Eddy Silitonga masih komit dengan dunia nyanyi. Meski di Indonesia suah jarang terdengar aktivitas seninya, artis yang berkiprah di dunia tarik suara dan akting itu dikontrak eksklusif 4 hari 4 malam di Malaysia, tepatnya di Istana Budaya, Kuala Lumpur, 28 - 31 Agustus. “Konser di Malaysia bersama biduan paling populer di negeri semenanjung itu yakni Dato’ Jamal Abdillah. Uniknya, dalam konser itu, Eddy Silitonga mengajak anaknya — Mario dan Marco serta kerabatnya, Jiki dan Dato’ Jamal Abdillah bersama anaknya, Osama Yamani,” jelas Usron DH Putra, manajer LO Eddy Silitonga, Selasa, (19/8).

“Agendanya, setelah di Malaysia, kosner digelar di Indonesia, mungkin Medan dan difasilitasi OK Arya Zulkarnaen dan Dato’ Sri Lelawangsa Syamsul Arifin SE!”
Eddy Silitonga adalah artis besar Indonesia. Bermula dari Festival Lagu Populer Tingkat Nasional tahun 1975, yang pemenangnya  Melky Goeslaw yang membawakan lagu Minggus Tahitu Pergi untuk Kembali. Meski tak juara pertama, Eddy memenangkan hati produser dan pencipta lagu kondang waktu itu, Rinto Harahap yang memberinya lagu ciptaannya Biarlah Sendiri. Eddy ke puncak ketenarannya pada tahun 1976.

Pria kelahiran di Pematang Siantar tanggal 17 November 1950 itu adalah anak keempat dari 11 anak-anak Gustaf Silitonga dan Theresia Siahaan. Eddy datang ke Jakarta tanggal 31 Desember 1968 dengan menumpang kapal laut langsung dari Medan, setelah menyelesaikan SMA di Rantauprapat. Eddy yang termasuk menonjol di sekolah, saat itu cita-citanya hanyalah ingin meneruskan sekolahnya. Itulah sebabnya dengan penuh semangat dia tidak menolak ketika pamannya yang bekerja di Departeman Luar Negeri ditugaskan ke Manila mengajaknya.

Puncak kejayaan Eddy 1976-1979 diakhiri dengan pengalaman pahit yang menjadi lembaran yang sangat kelam dalam hidupnya.

Persoalannya karena partnernya berbuat tidak sesuai tapi berdampak pada hartanya. Saat bangkrut, siar Kasak-Kusuk, tawaran untuk menyanyi di atas panggung atau rekaman pun tiba-tiba sepi.  Itulah sebabnya, dari honor jutaan yang pernah diterima selama tahun 1976-1979, pada waktu itu honor ratusan ribu pun di terimanya.

Sampai akhirnya datang Emilia Contessa pada tahun 1987 mengajak Eddy manggung bersamanya di Malaysia.

Setelah itu  pintu seakan-akan kembali terbuka, Eddy juga pernah berhasil menyanyikan sejumlah lagu daerah.

Ubekan Denai adalah lagu pop berbahasa Minang yang populer lewat suara Eddy. Kemudian Alusi Au (Batak), Romo Ono Maling (Jawa), di samping yang berbahasa Sunda, Sulawesi, Kalimantan dan Pelembang. Ngawujudko Tika Tika (Ogan Komering Ulu), Pujaan (Sekayu), Ndung Ku (Muara Enim), Cugak (Ogan Komering Ilir), Ade Dide Kah (Lahat), Belek Gi (Lubuk Ling-gau), Ingkar Janji (Bangka).

Sukses dengan suara merdunya, Eddy melatih dan menurunkan bakat pada anaknya yang juga punya suara maksimal serta penampilan istimewa. “Mereka tampil di malaysia dengan lagu nostalgia yang pernah populer di negeri jiran,” tuutp Usron DH Putra. (t/r9/i)




SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru