Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Mossak dan Ndikkar Tutupan Jong Bataks Arts Festival

- Senin, 03 November 2014 14:18 WIB
652 view
Mossak dan Ndikkar Tutupan Jong Bataks Arts Festival
Penari Cawan: Anak-anak penari Cawan di Jong Bataks Arts Festival bersama Murni Tobing-Huber
Medan (SIB)- Jong Bataks Arts Festval 2014 yang digelar sejak 25 Oktober, Sabtu, (1/11), resmi ditutup dengan penampilan mossak dan ndikkar. Mossak adalah olahraga beladiri dari Batak Toba sedangkan ndikar adalah beladiri dari Karo. Olahraga klasik yang ditampilkan KMK St. Martinus Unimed dipadu dengan tarian dari Pakpak dan paduan suara tersebut memukau seratusan undangan. “Luar  biasa semangat mereka. Anak-anak muda melestarikan kesenian leluhurnya, tapi di mana perhatian otoritas dan pemangku kepentingan. Sepi,” ujar Murni Tobing-Huber, penggiat kesenian etnik dan lingkungan, yang datang bersama kelompok besarnya dari relawan Bara JP Sumut dan relawan Jokowi.

Hal serupa dikatakan pengunjung dari etnis berbeda, Yoseptien. "Sebagai masyarakat, saya mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara, karena melalui event ini, saya telah disadarkan kembali betapa kayanya bangsa ini. Salut kepada orang-orang muda yang berani membuat even selama seminggu ini," aku warga asal Flores itu.

Saking asyik menyaksikan beladiri etnik tersebut, sejumlah pengunjung minta latihan hingga Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara penuh dengan gelak dan beratahan hingga Minggu, (2/11) dini hari. Kemeriahan malam penutupan semakin lengkap dengan penampilan Sanggar Seni Jolo dari Samosir.

Sanggar seni ini menampilkan dua reportoar tari dan satu permainan tradisional Batak Toba di masa lalu. Masing-masing tor-tor "Siburuk" yang mengisahkan tentang seekor burung (burung siburuk, sejenis ayam-ayaman) yang merawat anaknya yang terluka. Dengan dilumuri dedauan anak buruk tersebut akhirnya sembuh. Sejak itu, masyarakat yang mengamati peristiwa tersebut, mengadopsi daun-daunan yang dipakai burung itu, menjadi bahan dasar obat patah tulang Itulah cerita asal muasal minyak kusuk "Siburuk" yang populer bagi orang Batak Toba.

Reportoar kedua adalah tortor "Sipitu Cawan". Menariknya, tor-tor ini dibawakan oleh anak-anak sekolah dasar. Mereka menari sambil menjaga keseimbangan 7 cawan yang ditaruh di kepala, bahu, siku tangan, telapak tangan. Terakhir, Sanggar Seni Jolo pimpinan Fery Sagala ini, mementaskan "Martumba" yakni permainan tradisional Batak Toba di masa lalu.

Pertunjukan Sanggar Seni Jolo ini, menjadi primadona di acara penutupan Jong Bataks Arts Festival yang digagas Rumah Karya Indonesia (RKI) bersama lebih dari 30 kelompok seni yang tersebar di Nusantara.  Turut tampil di acara penutupan adalah Hendra Ginting, Simalem Art, Mouth Percussion, Rep Foundation, Beat Box dan Manuela Pasaribu.

Mewakili manajemen produksi RKI, Ojak Manalu menjelaskan, sampai 2 hari menjelang dimulainya Jong Bataks Ars Festival, kelompok-kelompok seni dari berbagai daerah terus berdatangan untuk ikut mengisi perhelatan seni dan budaya ini. Total pengisi acara sampai hari terkahir berjumlah 520 orang. "Bagi kami ini sangat luar biasa. Kami tidak menyangka respon dari masyarakat cukup tinggi untuk acara ini. Ini menjadi utang kami, untuk tetap bisa menggelar kegiatan ini setiap tahun," jelas Ojak Manalu didampingi  Sekretaris Umum RKI Jhon Fawer Siahaan, Direktur RKI Jones Gultom, Adi Manik,

Dalam kesempatan itu, RKI juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dianggap berkontribusi terhadap seni dan budaya di Sumatera Utara, khususnya dalam mempersiapkan kegiatan Jong Bataks Arts Festival. Juga diberikan penghargaan berupa uang pembinaan dan piagam kepada para pemenang lomba vokal solo dan tari yang ikut memeriahkan Jong Bataks Arts Festival. (rel/t/r9/i)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru