Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Seni Tradisi Ali Yusran Gea untuk Milenial

Redaksi - Rabu, 24 Mei 2023 18:37 WIB
716 view
Seni Tradisi Ali Yusran Gea untuk Milenial
(Foto: Tangkapan Layar Facebook/r)
Darah Nusantara: Ali Yusran Gea bersama ibunya Aslina, yang menjadikannya memiliki darah Nusantara. 
Medan (SIB)
Dr Ali Yusran Gea SH MKn MH berharap seni tradisi dari puak mana pun di muka bumi khususnya di Nusantara, dilestarikan. Alasannya, seni tak semata sebagai bagian jati diri bangsa tapi melatih dan mengasah budi pekerti individu menjadi lebih baik, lebih peka, lebih bertata krama. “Seperti Nias dengan sejuta seni. Yang sohor masih Tari Maena dan Tari Moyo.
Generasi muda, milenial bahkan Generasi-Z Nias harus dikenalkan dengan seni leluhurnya sejak dini,” ujarnya di Pondok Konstitusi DR AYG Jalan Gaperta Ujung Medan, Selasa (23/5), usai bersilaturahim dengan tokoh pemuda Fritz dan Muhammad Zaki Iskandar. “Jika tidak, warisan seni itu akan hilang dan Nias tidak memiliki jati dirinya,” tambahnya.
Nias menjadi pijakannya karena sang politisi senior tersebut mengikuti detak perkembangan Nias, yang kadang seperti paradoks. Alasannya, di satu sisi ingin cepat maju tapi di sisi lain, pemimpinnya belum memiliki semangat kreativitas untuk mengeksploitasi potensi yang ada ke arah positif. “Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu melindungi dan melestarikan seni warisan leluhurnya,” simpulnya. “Padahal, Nias itu memiliki filosofi kuat: Sokhi mate moroi aila!”
***
Ali Yusran Gea lahir di Sawo, Nias Utara pada 12 Februari 1972 sebagai anak pertama dari 9 bersaudara putra pasangan Masruhid Gea - Aslina. Menyelesaikan pendidikan SD di daerah kelahirannya. Orangtuanya yang abdi negara di Kemenag mengharuskan anak-anak menimba ilmu setingginya. Karena status sosial ekonomi belum memadai, Ali kecil dititip pada pak tuanya Asammudin Gea yang panitera di PN Gunungsitoli.
Didikan orangtuanya yang keras moral dan religi mencetak Ali yang cerdas. Ia lulus seleksi masuk SMPN 1 dan kemudian ke SMAN 1 Gunungsitoli. Tahun 1991 ia mengadu nasib ke Medan.
Ingin menjadi polisi dan militer tapi belum beruntung. “Pulang kampung, malu. Beberapa saat saya tak memiliki pijakan tapi sudah tekad harus maju,” kenangnya.
Matang ditempa menjadi petarung, Ali memulai babak baru ketika masuk ke Fakultas Hukum Unpab Medan. Selesai dalam waktu singkat dan magang menjadi pengacara. Kemudian melanjut ke USU untuk dua konsentrasi studi pasca sarjana yakni master hukum dan magister kenotariatan serta doktoral.
Daya kritis dan intelegensianya membawanya menjadi satu dari sedikit pengacara Nias kondang di Medan. Kemampuannya semakin tertantang ketika terjun ke politik. Prihatin dengan warga korban mafia hukum, ia mendirikan Pondok Konstitusi DR AYG. “Silakan datang untuk mendapat perlindungan. Minimal dapat pencerahan hukum,” sebutnya.
***
Filosofi Sokhi mate moroi aila (artinya lebih baik mati berkalung tanah daripada menanggung malu) didikan orangtuanya mengantarnya sebagai pribadi idealis dan punya pendirian. Kadang, disebabkan sikapnya itu, Ali harus bergesekan dengan siapapun. “Tidak apa-apa. Demi kebaikan yang terukur, saya bersedia dengan konsekuensi apapun. Itulah prinsip!”
Pernikahannya dengan Ny Jamiati Sodirin menghadirkan buah hati yang juga memiliki prinsip serupa. “Saya bangga dengan anak-anak dengan pilihannya,” sebutnya.
Kembali ke soal seni tradisi, Ali bangga dengan darah Nusantara yang mengalir di tubuhnya. Nias dari ayahnya, Aceh dan Bugis dari ibunya. Anak-anaknya memiliki darah Jawa. “Jadi, semua semakin indah karena hal-hal baik kearifan lokal dari adat budaya membentengi,” tutupnya. (Facebook /Twitter /R10/r)



Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru