Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Batas Sutra Kidung Etnik Sekuler Elisabet Siahaan

Redaksi - Minggu, 27 Agustus 2023 19:29 WIB
530 view
Batas Sutra Kidung Etnik Sekuler Elisabet Siahaan
(Foto: Facebook)
Berkidung: Elisabet Siahaan, Sabtu (26/8), berkidung dan membawakan sejumlah lagu etnik serta sekuler berisi mengai kebajikan.&
Medan (SIB)
Prof Dr Elisabet Siahaan SE MEc, Sabtu (26/8), menjalankan sejumlah fungsi. Sebagai akademisi, dosen tetap Departemen Manajemen Fakuktas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara itu menjadi moderator dalam diskusi interaktif Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI) Sumut, Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 tahun "Terus Melaju Untuk Indonesia Maju" di Sekretariat LPMI Jalan Harmonika No 83 Medan.
Perempuan kelahiran Medan pada tanggal 13 Maret 1978 itu mengarahkan sejumlah tokoh masyarakat yang jadi pembicara. Di antaranya Kepala Biro Perekonomian Prov Sumut Naslindo Sirait yang juga Plt Sekda Samosir, Warek 3 UHN Medan Maringan Panjaitan dan Dr Sutarto yang anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut.
Usai kegiatan yang diisi dialog kritis, Doktor Universitas Brawijaya dengan kekhusussan Manajemen Sumber Daya Manusia itu menjalankan fungsi lain. Penulis yang menerbitkan berbagai buku materi perkuliahan di antaranya “Matematika Ekonomi dan Bisnis” serta “Konsep dan Penerapan Ekonomi Manajerial dalam Bisnis” itu menjadi pengidung.
Lamat-lamat melodi lagu “Tarpaima” mengalun. Di tengah lagu, sejumlah orang ikut berjoget bersamanya. Lagu yang dipopulerkan Osen Hutasoit itu disudahi dengan baik. Penulis juga aktif sebagai peneliti dan melakukan publikasi pada jurnal internasional bereputasi tersebut melanjut ke lagu ke dua. “Boleh kan... emang kalau sudah naik podium, tak cukup hanya satu lagu,” ujar Elisabet Siahaan.
Dari barisan audiens, banyak permintaan. Pdt Dr Rosiany Hutagalung SP MTh, misalnya, minta dibawakan lagu “Pariban dari Jakarta” tapi tak sedikit yang teriak lagu “Mardua Holong” serta lainnya. Elisabet Siahaan mengambil jalan tengah. Ia memilih “Inang Na Burju” ciptaan Soaloon Simatupang.
Ada batas sutra yang ditampilkan pengurus PIKI tersebut melalui kidung yang dibawakannya. “Agar orang Batak tetap teguh dengan prinsip menyayangi dan menghormati orangtuanya,” ujarnya. Maksudnya, meski lagu sekuler tapi kuat pada nilai kebajikan.
Dari lagu ngebeat dan lagu mellow penuh poda, Elisabet Siahaan diminta membawakan lagu joget kembali. “Sudah malam. Emang biasanya saya tampil minimal empat lagu, tapi banyak yang lain,” sambutnya menanggapi permintaan publik.
Benar, di acara yang difasilitasi Pdt Pangihutan S Hutagalung yang pengelola Rumah Baca Indonesia khusus untuk anak-anak dari kelaurga marjinal ekonomi itu, tak sedikit artis profesional. “Orang Batak memang jago nyanyi, lho,” komentar Elisabeth Siahaan. (Facebook/R10/a)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru