Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Romantisme Pasoroan Herman Hariandja dalam “Sail Over Seven Seas”

Redaksi - Rabu, 04 Oktober 2023 10:26 WIB
602 view
Romantisme Pasoroan Herman Hariandja dalam “Sail Over Seven Seas”
Foto: Ist/harianSIB.com
Capt Pasoroan Herman Hariandja
Seoul (SIB)
Setiap bertemu dengan Perwira Pandu Maritim Indonesia di mana pun berada, Capt Pasoroan Herman Hariandja semakin terpacu mendorong Indonesia mengambil peran paling maksimal dalam pemanduan di Selat Malaka. “Bayangkan, ya. Sejak Bung Karno memimpin Nusantara, cita-cita Indonesia menjadi poros maritim dunia (PMD), sudah dicanangkan. Presiden Joko Wododo kemudian menegaskannya (lagi). Itu bukan sesuatu yang wah... tapi memang kelaziman. Sebab Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia yang 75 persen wilayahnya berupa laut. Sekarang, Selat Malaka menjadi wilayah maritim tersibuk di dunia. Lalu, sebagai orang Indonesia, saya harus berdiam dan menjadi penonton saja. Tidaklah,” tegasnya di Bimbingan Teknis dan Evaluasi Perwira Pandu Maritim yang diadakan Kesyahbandaran Utama Belawan di Cambridge Hotel Medan, Selasa (4/10).
Hadir di kegiatan itu puluhan perwira pandu maritim berkuaitas dari seluruh Indonesia, termasuk Cap Tagor Aruan. Apa kaitan dengan “Sail Over Seven Seas” yang mellow tersebut? “Resapi maknanya. Di sana ada pemicu yakni pencarian cinta. Cinta pada industri kemaritiman,” tegasnya mengenai lagu yang dibawakan artis kelahiran Belanda Gina T.
Lagu itu diputar dan dinyanyikan bersama audiens dipimpin pria yang sudah dua periode dipercaya menjadi President Indonesian Maritime Pilots’ Association (Inampa) tersebut. “Saya masih terus mencari cinta untuk kejaan maritim Indonesia sesuai visi Presiden Joko Widodo,” tegasnya.
Selain makna tersebut, “Sail Over Seven Seas” mengingatkan perjalanannya ke Belanda, khususnya di Port of Rotterdam. Termasuk pelabuhan utama dunia. Termasuk New York City. “Dulu pelabuhan terbesar di Eropa tersebut sebagai pelabuhan tersibuk di dunia. Sekarang sudah bergeser ke Asia. Artinya,’penghidupan’ ke depan ada di Asia yang pada catatannya bertumpu di Selat Malaka. Indonesia yang ‘berkuasa’ di wilayah itu tapi hingga saat ini, belum memberi dampak signifikan,” tegasnya.
Optimisme menjadi penguasa di era PMD, tak semata Indonesia menjadi penguasa tapi juga role model bagi bangsa-bangsa lain di dunia dalam berbagai bidang pembangunan kelautan, mulai dari iptek, ekonomi, pertahanan keamanan, sampai ocean governance. “Bisa? So pasti bisa dan wajib bisa. Sebagai bagian tumpah darah Indonesia, harus mendukung. Hai, orang muda. Berbuatlah...” tegasnya.
Untuk mewujudkan impian tersebut, ia terus bersuara. Baik sebagai pribadi khususnya sebagai pimpinan Inampa.
Satu contoh ketika mengikuti The 3rd Asia Pacific Maritime Pilots’ Forum (APMPF) di Plaza Hotel Seoul, Korea Selatan, 28 Agustus - 1 September 2023.
Kegiatan yang dibuka President International Maritime Pilots Association (IMPA) Capt Simon Pelletier dari Kanada itu dijadikannya sebagai ajang unjuk kekuatan kehebatan Indonesia. “Di sana Indonesia menunjukkan pada dunia sejumlah gagasan dan konsep tentang pemanduan di Selat Malaka. Artinya, meski Indonesia belum menguasainya tapi telah punya konsep. Artinya lagi, Indonesia mampu menjadi pandu kemaritiman dunia," tegasnya.
Sebelum berkuasa, menurutnya, segala sesuatu terkait kemaritiman di Selat Malaka dipersiapkan. Sumbunya adalah sumber daya manusia kemudian pemerintah menyiapkan infrastrukturnya.
“Pertemuan itu sebagai ajang learning dan sharing. Ini lho, Indonesia telahpunya konsep untuk benchmarking industri mengenai maritime safety khususnya di kegiatan pemanduan dan penundaan kapal,” tegasnya.
Sebagai pecinta pendidikan, ia keukeh agar orang muda menyiapkan dirinya sendiri dengan kualitas SDM. Sebelumnya, dalam tiap pertemuan tingkat global, ia selalu menegaskan segala sesuatu mengenai kualitas. “Oke, sekarang eranya teknologi. Isi dirimu dengan apa yang berkemabng di dunia. Jangan menutup diri,” tegasnya.
Obsesi lainnya, ia ingin Kongres ke-27 IMPA tahun 2026 di Bali dan Jakarta dijadikan promo bahwa Indonesia telah siap merealisir apa yang dicanangkan PMD oleh Presiden.
“Pada Kongres IMPA ke-24 di Dakar Senegal tahun 2018 dan pada Kongres IMPA ke 25 di Cancun Meksiko tahun 2022, saya terus mengulangi dan menunjukkan pada dunia, kita mampu,” ulangnya.
Saat Kongres IMPA ke-26 di Rotterdam Belanda tahun 2024 hal serupa pun digaungkannya. “Kalaua kamu cinta bangsa ini, jangan berhenti berbuat baik untuknya. Jangan pula berharap apa yang didapat dari tindakan baikmu Jangan...” simpulnya.
Jadi, dalam “Sail Over Seven Seas” ada romantisme nasionalisme. (Instagram /Facebook /R10)



Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru