Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 11 Juni 2026

20% Lebih Masyarakat Alami Gangguan Halitosis

- Minggu, 20 Agustus 2017 22:44 WIB
1.246 view
Medan (SIB) -Bau mulut (halitosis) merupakan gangguan kesehatan yang tidak dapat diabaikan. Halitosis tidak hanya dialami masyarakat di negara berkembang, tetapi juga warga negara maju. Bahkan dari beberapa penelitian, 20-30 persen penduduk dari suatu negara mengalami gangguan halitosis.

"Kalau dari penelitian-penelitian, hampir 20-30 persen di negara manapun mengalami halitosis dari populasinya," kata Ameta Primasari Tarigan, owner Halitosis Care Center, pada acara peresmian Halitosis Care Center di RSU Siti Hajar, Jalan Jamin Ginting Medan, Sabtu (12/8).

Ameta mengungkapkan, dari pengalamannya sebagai dokter gigi selama ini, banyak pasien yang datang berobat juga mengeluhkan masalah bau mulut dan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 25,9 persen masyarakat Indonesia bermasalah dengan gigi dan mulut.

Karena itu, Meta bersama para dokter gigi di Sumut, menggagas berdirinya Halitosis Care Center, untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dalam hal perawatan rongga mulut dan gigi. "Ini belum ada di Medan, jadi kita coba untuk memulainya. Kita berharap sambutan dari masyarakat, sehingga bau mulut dan gigi kita bersih," katanya sembari menambahkan banyak penyebab bau mulut, bisa dari perut, psikis, dan lainnya.

Suci Erawati, salah satu dokter gigi di Halitosis Care Center menambahkan berdasarkan penelitian deskriptif epidemiologi, di Amerika prevalensi Halitosis 31%, Peancis 22% dari 4,815 subjek, di Bern, Switzerland pada 419 subjek 11,5% halitosis, di Cina dari 2000 orang 27% mengalami halitosis, dan di Jepang, dari 2672 subjek, 23% halitosis. Sedangkan di Indonesia, belum ada penelitian spesifik mengenai hal tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Drs Agustama Apt MKes mengatakan pihaknya sangat mendukung pembukaan Halitosis Care Center di RSU Siti Hajar tersebut, karena merupakan satu-satunya di luar Pulau Jawa.

"Kita bangga ada orang yang menyiapkan pusat perawatan bau mulut ini, karena tingkat bau mulut ini sudah sangat meresahkan, sampai 20 persen lebih. Selama ini kita tidak terpikir untuk mencegahnya, hanya pakai obat kumur biasa. Sekarang kita tau, dengan adanya alat ini bisa diketahui penyebabnya dan diobati," kata Agustama.

Agustama berharap Halitosis Care Center tersebut dapat tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi contoh serta pusat pemeriksaan bau mulut di Sumut, terutama di Kota Medan. "Kita beraharap banyak lagi tempat-tempat seperti ini di Sumut, khususnya di Medan," pungkas Agustama. (A17/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru