Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Terapi Pil KB Tidak Berdampak pada Tingkat Kesuburan Remaja

Robert Banjarnahor - Sabtu, 28 September 2024 10:23 WIB
604 view
Terapi Pil KB Tidak Berdampak pada Tingkat Kesuburan Remaja
(DOK. DKT INDONESIA)
Pil KB memiliki kandungan progestin dan estrogen yang dapat menahan ovarium untuk mematangkan sel telur. Dengan demikian, pembuahan sel tidak akan terjadi.
Jakarta (harianSIB.com)

Terapi pil KB untuk mengatasi PCOS pada remaja wanita tidak akan mengganggu atau menurunkan kesuburan dan membuat rahim menjadi kering.

Hal itu dikatakan Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi dari Universitas Indonesia dr. Mila Maidarti Sp.OG Subs F.E.R Phd.

"Pil KB boleh diberikan seumur hidup, pil KB tidak menurunkan kesuburan, kalau di stop kesuburan akan kembali tidak membuat rahim kering," kata dr. Mila dalam diskusi mengenai PCOS di Jakarta, Jumat (27/9/2024), dikutip dari Antara.

Terapi pil KB, jelas dia, biasanya diberikan pada remaja yang mengalami gejala PCOS untuk memperbaiki siklus menstruasi sambil menata kembali gaya hidup sehat seperti menurunkan berat badan.

Pil KB biasanya diberikan tiga bulan pertama sampai ada perubahan berat badan dan gula darah. Jika anak perempuan akan menikah, pil KB akan dihentikan agar bisa hamil.

"Kalau sudah terkontrol gaya hidupnya boleh stop, kalau belum terkontrol dilanjutkan, tapi kalau nggak juga sampai dia mau menikah maka motivasinya harus kuat karena ada anak yang diinginkan, biasanya saya coba stop dulu pil KB nya," kata Mila.

Menurut Mila, perempuan yang PCOS setelah melahirkan, siklusnya akan kembali tidak teratur. Maka itu dibutuhkan modifikasi gaya hidup untuk mempertahankan siklus, karena pil KB biasanya tidak diberikan saat masa menyusui.

" Mengonsumsi pil KB saat menyusui dikhawatirkan akan membuat ASI kering, maka ibu yang menyusui disarankan untuk olahraga dan memperbanyak protein untuk hasil ASI yang baik ," jelasnya.

Sementara, terapi konsumsi metformin masih pada penelitian terbaru disarankan tidak diberikan karena dikhawatirkan anak akan obesitas, sehingga diganti dengan mengurangi makanan manis untuk mengontrol resistensi insulin.

"Kalau mau hamil lagi harus kembali lagi ke treatment awal, kalau PCOS Metformin dilanjutkan untuk resistensi insulin tapi penelitian terbaru dikhawatirkan anaknya obesitas makanya kita enggak berikan, kita coba dengan makan nggak terlalu manis-manis," katanya.​​​​​​​

Mila mengatakan, sebaiknya kesadaran awal dengan gejala PCOS menjadi pengetahuan bagi ibu yang memiliki anak remaja putri dengan melihat siklus haid yang tidak teratur, leher menghitam, dan berat badan yang cenderung naik atau obesitas. Konsultasi dengan dokter jika mendapati gejala tersebut sebelum kondisi memburuk.

"Kalau kita nggak dibawa berarti kita harus komitmen sebagai ibu, anaknya berat badannya harus turun, ke dokter gizi, kalau obesitas harus awareness awal, jangan menunggu," katanya. (*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru