Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 29 Juni 2026

Kenangan Para SIB 34 Tahun Lalu Bakal Terulang Kembali

Catatan Naurat Silalahi
Redaksi - Minggu, 17 Mei 2020 22:15 WIB
749 view
Kenangan Para SIB 34 Tahun Lalu Bakal Terulang Kembali
Foto Dok/Naurat Silalahi
Kenangan 6 Tahun Lalu : Para SIB saat bertemu 6 tahun lalu (tahun 2014) di Medan. Duduk dari kiri ke kanan, Bresman Marpaung, Drs. Naurat Silalahi, Dr. Aqua Dwipayana, Msi, Ramlo R. Hutabarat, Corry Aritonang, Hidayat Banjar, SH, Drs. Ulyses Sima
Aroma HUT Emas SIB 9 Mei 2020 ternyata menguak kenangan ke masa lalu, tepatnya 34 tahun lalu. Pada mulanya Harian SIB sebagai media umum menyediakan ruang sastra tempat remaja (penulis pemula) mengekspresikan karya tulisnya dalam bentuk artikel, cerpen, puisi dan tulisan lainnya. Dari ruangan ini timbul interaksi antara pengasuh dengan penulis, dan antara penulis dengan penggemar/calon penulis. Kenapa bisa? Karena pengasuh rubrik itu, dalam hal ini Kak Sondang memberi peluang dialog, antara pengasuh dan penulis dan antara calon penulis dengan penulis plus penggemar. Nama kolom (ruang dialog) itu komunikasi.

Dulu, sekalipun karya tulisnya ditolak redaksi tetapi karena surat yang dikirim direspon di rubrik Komunikasi itu, semua remaja/penulis pemula itu senang. Konon lagi kalau di rubrik itu ada jawaban Kak Sondang karya anda dimuat edisi ini atau edisi minggu depan.
Wow senangnya tak terkatakan. Karena Kak Sondang terbuka dan mau berdialog, calon penulis dan penulis itu pun diam-diam berkunjung ke kantor SIB. Dari situasi inilah timbul keinginan membentuk Ikatan Penulis dan Penggemar Sinar Remaja SIB (IPPSR SIB) karena semakin banyak ingin bertemu.

Dikemudian hari setelah nama ini kesohor. Pemimpin Umum SIB DR GM Panggabean yang memberi perhatian terhadap pembinaan remaja, mengusulkan mengganti nama IPPSR SIB menjadi Para SIB. Para katanya bermakna cikal bakal atau calon. Jadi Para SIB calon-calon penulis, ya bukan sembarang penulis tetapi menjadi penulis terkenal. Puji Tuhan apa yang diharapkan Pak GM terbukti banyak menjadi penulis terkenal.

Apa Kata Mereka?
Saat HUT Emas SIB ini, facebook Para SIB ramai, banjir tanggapan/komen apalagi di WA grup Para SIB. Pada intinya mereka ingin pulang ke masa indah di kala remaja itu. Memang kala itu SIB is the best, banyak melakukan kegiatan positif. Mulai dari cinta lingkungan, sampai pembinaan mental, kerohanian dan tulis menulis. Kunjungan mencintai daerah wisata ada ke beberapa tempat seperti ke Simarjarunjung, Bakkara, Doloksanggul, Tarutung dan lain-lain. Puncak acara besar dan menggemparkan yang dilakukan pada masa itu ke dan di Tiga Runggu.

Ratusan remaja se Sumut berkumpul di desa ini. Pertanyaan mungkin di mana menginap? Luar biasanya panitia setempat mampu menghubungi rumah penduduk, dan remaja diterima dengan senang hati. Kenangan ini sulit dilupakan. Namanya masih remaja. Ada mahasiswa, ada SMA. Biasalah mata bertemu mata, hati berkata-kata. Semangat hidup pun semakin bertambah. Setelah pulang, semua merasa seperti ada yang hilang. Ingat senyumnya, ingat cara bicaranya. Ingat cara bertutur kalau diminta tanggapannya seputar topik yang dibahas, dan banyaklah. Apalagi ada yang bilang senang ketemu idolanya.

Mungkinkah Terulang Lagi?
Tidak ada yang tidak mungkin. Semua bisa terulang apalagi kalau direncanakan dari awal dengan baik. Hal itu terungkap dari tanggapan beberapa anggota. Rasa ingin itu muncul tak lain mengingat dulu betapa kompaknya satu sama lain. Karena itu ingin bersua kembali setelah lebih 30 tahun tidak bertemu. Bahkan seperti Drs. Hotma L.Tobing kepingin betemu dengan Ir. Parluhutan Simarmata yang kini menjabat Wakil I Pemimpin Redaksi SIB.

Kolonel TNI AU Dr. Tatar Bonar Silitonga, MSi mantan Ketua Para SIB Tebingtinggi ketika ditanya kerinduan untuk bertemu kembali, malah balik menjawab, siapa takut? Artinya dia mendukung pemikiran ingin mengulang kembali pertemuan 34 tahun lalu.

Siapa Tatar saat di Para SIB? Dialah Ketua Pertama kepengurusan IPPRS SIB di Tebingtinggi. Saat pelantikannya sebagai pengurus langsung dihadiri Kak Sondang, Naurat Silalahi, Ulyses Simamora dan lainnya. Anggotanya pada masa itu lebih banyak temannya satu SMA. Kemudian dia digantikan Berto Aruan, anak Kordinator Perwakilan SIB di Tebingtinggi.

Sekarang? Dia dosen Universitas Pertahanan dengan jabatan Kepala Pusat Penjaminan Mutu Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu. Kolonel Tatar Bonar mengakui salah satu penopang kariernya adalah kemampuan menulis dan diakuinya itu tidak terlepas dari cerita pengalaman masa muda ikut lebur dalam Sinar Remaja SIB. Dengan status menjadi dosen, tuntutan kepada saya untuk menghasilkan karya tulis. Puji Tuhan sekarang sudah menghasilkan buku 9 judul.

Drs. Gustaf Marpaung, MH Hakim Ad Hoc Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Negeri Kupang dulu anggota Para SIB Pematang Siantar mengatakan pertemuan di Tiga Runggu dan Bakkara serta longmarch Para SIB menyatakan pengalaman paling terindah sampai nama-nama teman itu tidak terlupakan sampai saat ini. Keinginan mengulang keadaan itu? Ada tetapi perlu diingat mungkinkah bagi teman-teman yang tidak punya waktu. Contoh, 6 tahun lalu diadakan reuni kecil-kecilan dengan “tuan rumah” Dr. Aqua Dwipayana (pakar Komunikasi nasional) tidak maksimal.

Anthony Limtan,SE mantan Para SIB Sidikalang yang kini Redaktur Ruang Opini dan Rubrik Cerpen dan Puisi Harian Analisa Medan dengan tegas menyatakan setuju kalau mau mengulang indahnya pertemuan dulu, meskipun mungkin personil yang dulu tidak lengkap lagi. Saat aktif di Para SIB masih berusia 17 tahun, dan satu-satunya memiliki warna kulit kuning langsat plus wajah ganteng. Pertermuan di Tiga Runggu baginya ibarat jumpa artis. Menurutnya nama Naurat kala itu menjadi inceran penggemar karena saking produktifnya menulis.

Ir. Henry Sihotang mantan anggota Para SIB Sibolga mengatakan, pertemuan mengesankan seperti di Tiga Runggu itu ingin sekali bisa terulang. Waktu itu kita hanya mengenal lewat media tapi pada pertemuan itu bisa saling tatap muka, berjabat tangan dan diskusi. Saat itu saya masih SMA, masih remaja banget tetapi karena direkatkan satu hobby menulis akhirnya rasa minder itu dibuang jauh-jauh.

Drs, Edison Nababan, MM mantan anggota Para SIB Medan mengaku tidak ikut ke Tiga Runggu tetapi ke Doloksanggul turut. Pertemuan Para SIB seperti ini baik untuk diulang meskipun teman Ramlo R. Hutabarat, Ulyses Simamora dan Corry Aritonang sudah tiada. Pertemuan di Doloksanggul itu terasa hangat dan menyenangkan, karena itu patut diulang.

Alex Silalahi, ST anggota dari Labuhan Batu pada masa itu siswa SMA menyatakan alangkah indahnya kalau kenangan itu bisa diulang. Bertemu, berkenalan dan berbagi cerita dari orang-orang yang berbakat menulis. Saat ini bekerja sebagai Supervisor Produksi Industri Oleochemical di Medan. Aktif menulis artikel di koran dan 20 tahun ini menjadi reporter dan staf redaksi sebuah Buletin. Kini sedang menyelesaikan studi Magister Ilmu Komunikasi USU, Medan.

Bagaimana dengan Lurus Tarigan yang dijuluki si Bengkok kumis kawat penulis melankolis yang cerita bersambungnya pernah dimuat SIB dengan judul “Masih Adakah Hari Esok?” Tak ditanya pun, dari kebiasaannya yang suka ngumpul, pasti setuju banget. Dia komandannya!! Horas, sampai jumpa di hari yang kita idamkan bersama. Sekali lagi Selamat HUT ke-50 Harian SIB tercinta. Jasamu tak terlupakan, terima kasih kami padamu. (c)


SHARE:
komentar
beritaTerbaru