Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 02 Mei 2026

Mengaku Diancam Bunuh Sekelompok Preman, Asiholan Tampubolon Bawa Keluarganya ke Polresta Medan

Korban : “Saya Diusir, Kepala Saya Ditodong Pistol"
- Kamis, 13 Februari 2014 11:48 WIB
495 view
 Mengaku Diancam Bunuh Sekelompok Preman, Asiholan Tampubolon  Bawa Keluarganya ke Polresta Medan
Medan (SIB)- Diancam sekelompok preman,  Asiholan Tampubolon (31)  warga Kampung Agas Desa Sampali Percut Sei Tuan, bersama empat anak dan isteri Yusnenita Br Nababan (29) mendatangi Polresta Medan, Rabu (12/2/2014).

Mereka meminta perlindungan keamanan dan  mengadukan pengancaman dan perusakan yang dilakukan sekelompok preman di kawasan Percut Sei Tuan.

"Saya mau melapor bang. Tadi malam sekira jam dua belas, puluhan orang mendatangi rumah saya, mengancam akan membunuh saya," ujar Asiholan sambil terduduk lemas di depan ruang SPKT Polresta Medan.

Dikatakannya, pengancaman itu  bermula saat sekelompok preman mendatanginya, memaksa agar ia dan isteri serta anaknya segera meninggalkan rumahnya tersebut.

"Saya tinggal di gubuk bang. Saya menyewa tanah setahun Rp 5,5 juta. Saya bayar sama yang punya tanah Boru Simatupang," katanya.

Menurutnya, sekelompok preman tersebut hendak merebut lahan yang dikontraknya sekira 10 tahun.

"Saya diusir, kepala saya ditodong pistol bang. Saya kenal dengan dua orang," ujarnya sambil memangku anak-anaknya.

Ia menjelaskan, sekelompok preman tersebut juga sempat mengobrak-abrik seisi rumahnya, bahkan HP dan sepatunya dirampas.

"Mereka bilang sama saya, kalau saya tidak meninggalkan lahan itu, saya akan dibunuh bang. Mau tinggal di mana lagi kami," ujarnya sambil menyeka keringat.

Pascapengusiran dan pengancaman tersebut, Asiholan menitipkan barang-barangnya pada tetangga. Ia mengaku tidak berani kembali ke rumah lantaran sekelompok preman kerap membawa parang, panah dan pistol.

"Satu malam saya dan anak-anak saya tidak tidur bang. Kami pun tidur di teras rumah tetangga," ujarnya.

Karena takut dibunuh, ia  berencana tidur di atas becak barang yang dibawanya.

"Kami udah enggak punya apa-apa bang. Saya kerja cuma nanam jagung. Tidur malam ini pun kami enggak tau. Numpang di rumah tetangga kami malu," katanya, sambil merangkul anaknya yang nomor dua.

Usai melakukan wawancara, Asiholan kemudian masuk ke ruang SPKT Polresta Medan. Namun, pihak Polresta menyarankan agar korban membawa bukti-bukti penyerangan untuk melengkapi berkas laporan.

(A12/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru