Seoul (SIB)- Korban selamat dari kapal feri Sewol yang kandas di lepas pantai selatan Korea Selatan pada 16 Maret 2014, kini telah dirawat tim dokter. Mereka dilaporkan menunjukkan gejala depresi dan kecemasan yang sangat serius atau akut.
"Berdasarkan penilaian kami terkait level depresi dan kecemasan, 16 pasien (penumpang selamat) memiliki gejala depresi dan 28 dengan gejala kecemasan pada tingkat yang berbahaya," ujar kepala rumah sakit, Cha Sang-hoon dalam sebuah konferensi pers seperti dilansir dari Korea Times, Minggu (20/4).
"Gejala depresi dan kecemasan dapat muncul kemudian. Jadi kami berencana untuk tetap menutup mata pasien, bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun pada saat ini," jelasnya. Sejauh ini, dari 174 korban, 80 di antaranya dirawat di Korea University Ansan Hospital di Ansan, di selatan Seoul. Mereka dirawat di sana setelah diselamatkan dari Kapal Sewol yang karam itu.
Pihak rumah sakit menyatakan, mereka akan mengerahkan tim khusus untuk menangani para korban selamat dari Sewol itu. "Rumah sakit telah memperluas tim spesialis yang menangani para penumpang itu, dengan meminta bantuan dari dokter di rumah sakit lain. Dan mengerahkan tim konselor untuk menangani 7 pasien, yang menunjukkan tanda-tanda depresi sangat serius," kata para pejabat rumah sakit. Sementara mereka yang menderita gangguan tidur, diberikan obat-obatan untuk menenangkannya.
Sejak Sabtu 19 April, kunjungan terhadap para korban selamat itu juga akan dibatasi. Aturan itu juga berlaku bagi kunjungan dari pihak keluarga. Hal itu dilakukan guna menjaga pasien lebih banyak istirahat. Operasi pencarian telah berlangsung 4 hari berturut-turut sejak 16 Maret 2014. Namun upaya tersebut berjalan lambat karena terhambat arus kuat dan cuaca yang tak bersahabat.
Lebih dari 300 dari 476 penumpang adalah siswa Danwon High School di Ansan, yang sedang dalam perjalanan wisata. Korban tewas yang telah dikonfirmasi berjumlah 46 orang dengan kembali ditemukannya 13 jenazah. Sementara mereka yang hilang dari musibah tenggelamnya feri seberat 6.825 ton itu, berjumlah 256 orang. Mereka yang hilang dikhawatirkan terjebak di balik kapal yang kini telah tenggelam itu.
Ke-13 jenazah yang baru dievakuasi itu, ditemukan setelah tim SAR berhasil mendapat akses untuk bisa masuk ke dalam kapal. Penemuan terbaru ini adalah penemuan jenazah pertama yang berasal dari dalam kapal. Pemerintah Korsel pun telah mengkonfirmasi mengenai penemuan serta jumlah korban tewas dari kecelakaan kapal penumpang terburuk dalam sejarah Korsel.
Di tempat lain, isak tangis terdengar jelas di gimnasium di Jindo, Provinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan. Di tempat itu, teman-teman dan keluarga penumpang yang hilang dalam kecelakaan feri Sewol berkumpul. Di sana, mereka menyaksikan rekaman video proses evakuasi korban dari 2 penyelam yang memasuki kapal pada Sabtu 19 April. Rekaman video itu menunjukkan sulitnya upaya evakuasi. Mengisyaratkan bahwa kemungkinan korban selamat semakin tipis. Melihat itu, keluarga korban Sewol pun menangis, bersedih dan putus asa.
Sampai saat ini, pencarian korban masih terus berlangsung. Pencarian tersebut melibatkan Otoritas, Militer dan Warga Korsel. Tidak hanya melanjutkan pencarian, Kapten Kapal Sewol Lee Joon Seok bersama beberapa rekan kerjanya telah ditangkap. Penyelidikan mengenai penyebab terbaliknya Sewol masih dalam proses investigasi mendalam
Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa kepada para korban musibah kapal feri tersebut. Pemimpin umat Katolik dunia itu juga mengajak semua orang untuk mendoakan para korban dan keluarga mereka. "Mari bergabung dengan saya dalam mendoakan para korban musibah feri di Korea dan keluarga mereka," kata Paus dalam pesannya yang diposting lewat akun Twitter-nya. Paus Fransiskus dijadwalkan untuk melakukan lawatan selama lima hari ke Korsel pada Agustus mendatang. Dia akan menjadi Paus pertama yang berkunjung ke Asia sejak mendiang Paus Yohanes Paulus II.
Lebih dari 250 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Ansan, Korea Selatan, berdiri menundukkan kepala memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa untuk para korban kapal tenggelam di Jindo, Korsel. Para TKI itu berkumpul di ruang serba guna di kantor Migrant Center Ansan, Minggu (20/4) untuk mengikuti pelatihan kewirusahaan yang diselenggarakan oleh Korea Network Solution (KNS) bekerjasama dengan BNI, BI dan KBRI Seoul serta sejumlah pihak lainnya.
Sebelum acara dimulai, Kepala Fungsi Konsuler KBRI Seoul Didik Eko Pujianto meminta seluruh hadirin untuk mengheningkan cipta dan berdoa untuk para korban kapal tenggelam sebagai bentuk solidaritas kepada negara tuan rumah.
“Peristiwa ini merupakan bencana nasional bagi Korsel, dan kita sebagai sahabat Korea sebaiknya bersikap sensitif atas kesusahan yang sedang menimpa sahabat kita†ujar Didik usai memimpin doa bersama tersebut sebagaimana termuat dalam siaran pers KBRI Seoul kepada detikcom.
(Detikcom/c)Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 21 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.