Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 25 Juni 2026

Menteri Israel: Kami Punya Hubungan Rahasia dengan Banyak Negara Arab

- Selasa, 21 November 2017 16:34 WIB
347 view
Menteri Israel: Kami Punya Hubungan Rahasia dengan Banyak Negara Arab
Tel Aviv (SIB) -Seorang menteri Israel membeberkan bahwa pemerintah Israel telah menjalin hubungan rahasia dengan banyak negara Arab dan muslim. Menteri tersebut mengatakan, Israel punya kewajiban untuk tidak menyebutkan negara-negara itu atas permintaan negara-negara bersangkutan.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Energi Israel Yuval Steinitz dalam wawancara dengan radio militer Israel pada Minggu (19/11) waktu setempat. "Kami punya hubungan, beberapa di antaranya rahasia, dengan banyak negara Arab dan mulism," kata Steinitz seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (20/11).

Ketika ditanyai mengenai hubungan dengan Arab Saudi, menteri Israel tersebut menyatakan, Saudi menginginkan agar hubungan dengan Israel dirahasiakan dan Tel Aviv tak keberatan dengan itu. "Biasanya yang menginginkan hubungan tersebut dirahasiakan adalah pihak lain," tuturnya.

"Tapi kami menghormati keinginan pihak lain, ketika hubungan sedang berkembang, apakah itu dengan Arab Saudi atau dengan negara-negara Arab atau negara-negara muslim lainnya, dan masih banyak lainnya ... namun kami merahasiakannya," imbuh Steinitz.

Meski Saudi dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, namun keduanya memiliki musuh yang sama, yakni Iran. Kedua negara tersebut sama-sama menginginkan untuk membatasi pengaruh Iran yang kini meluas di Timur Tengah.

Pernyataan ini jadi pertama kalinya salah satu pihak dari kedua negara yang telah lama disebut-sebut berhubungan rahasia itu mengungkap ada kontak yang sempat terjalin. Pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas pernyataan yang dibuat oleh Menteri Energi Israel Yuval Steinitz itu. Juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun tidak merespons ketika ditanyai terkait hal tersebut.

Dalam wawancara dengan Army Radio yang dikutip Reuters pada Senin (20/11), Steinitz yang merupakan anggota kabinet keamanan Netanyahu, tidak menjelaskan kontak seperti apa yang dimaksud dan tidak merinci ketika ditanya mengapa Israel menyembunyikan hubungannya dengan Arab Saudi.

Baik Arab Saudi maupun Israel memandang Iran sebagai ancaman utama bagi Timur Tengah. Selain itu, kedua negara juga dispekulasi bisa bekerja sama di tengah peningkatan ketegangan antara Tehran dan Riyadh. Arab Saudi berkeras menyatakan hubungan apapun dengan Israel bergantung pada penarikan negara tersebut dari tanah Arab yang dicaplok pada Perang Timur Tengah 1967.

Mencari dukungan regional terkait kesepakatan Israel-Palestina, utusan perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah beberapa kali mengunjungi Arab Saudi semenjak ia menjabat awal tahun ini.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Kamis, Menteri Luar Negeri Saudi Adel Jubeir merujuk pada inisiatif perdamaian Saudi ketika ditanya soal laporan kerja sama dengan Israel. Inisiatif itu pertama kali diadopsi liga Arab pada 2002 lalu.

"Kami selalu mengatakan bahwa jika konflik Israel-Palestina diselesaikan berdasarkan inisiatif perdamaian Arab maka Israel akan menikmati relasi normal, hubungan ekonomi, poliitik, diplomatik dengan semua negara-negara Arab, dan hingga hal itu terjadi, kami tidak punya hubungan dengan Israel," ujarnya.

Rencana itu membuat hubungan kedua negara bergantung pada penarikan Israel dari wilayah yang dicaplok pada perang 1967, termasuk Yerusalem Timur.
Netanyahu telah menyuarakan dukungan tentatif untuk sebagian dari inisiatif tersebut, tapi masih banyak hal yang belum bisa disepakati oleh pihak Israel.
Sebelumnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga telah berulang kali membangga-banggakan kedekatan Israel dengan "negara-negara Arab moderat" tanpa menyebutkan nama-nama negara tersebut, namun diasumsikan mengacu ke Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

Iran Tuduh Saudi Kobarkan Kekacauan
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan Arab Saudi merusak kestabilan wilayah tersebut saat Kerajaan tersebut terus menciptakan krisis di beberapa negara regional.

"Arab Saudi menuduh Iran merusak kestabilan, sedangkan negeri itu menyulut aksi teror, mengobarkan perang terhadap Yaman, memblokade Qatar dan mengobarkan krisis di Lebanon," kata Zarif di akun Twitternya, Senin (20/11), sebagaimana dikutip Xinhua.

Pada Minggu, 19 November, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al Jubeir mengutuk apa yang mereka sebut "campur-tangan" Iran dalam urusan negara Arab.

Selain itu, Liga Arab juga mengumumkan, setelah pertemuan mereka di Ibu Kota Mesir, Kairo, pada Minggu, bahwa mereka mungkin akan melakukan pendekatan ke Dewan Keamanan PBB mengenai "pelanggaran" Iran. Iran dengan tegas telah membantah tuduhan tersebut dan menuduh Arab Saudi karena melakukan pelanggaran kedamaian dan kestabilan di wilayah itu. (AFP/detikcom/CNNI/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru