Baghdad (SIB)- Pasukan Militer Irak mengklaim telah berhasil menguasai Kota Tikrit. Mengingat kota tersebut sudah di kuasai oleh militan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) sejak 11 Juni 2014. Upaya perebutan kota tersebut diakui pihak militer Irak berujung pertempuran dengan kelompok militan ISIL. Dalam pertempuran tersebut militer Irak pun didukung oleh bantuan Tank dan juga helikopter. Namun, ada penduduk setempat justru memberikan laporan yang bertolak belakang dengan pihak militer.
Seperti dilaporkan Belfast Telegraph, Minggu (29/6) para penduduk setempat justru mengatakan, bahwa kelompok militan ISIL masih menguasai Kota Tikrit hingga menjelang malam. Padahal sebelumnya salah satu pejabat di Irak mengatakan, bahwa tentara sudah melancarkan serangan hingga ke jantung ibu Kota Tikrit. Sebelumnya, pertempuran yang diklaim terjadi pada Sabtu 28 Juni 2014 dimulai pada pagi waktu setempat.
Menurut juru bicara militer Irak Letnan Jenderal Qassim al-Moussawi sejumlah serangan udara sudah dilancarkan menggunakan helikopter. Serangan tersebut terjadi di sebuah kampus di wilayah utara Kota Tikrit. Keberhasilan militer Irak merebut Kota Tikrit di percaya bisa membantu mengembalikan kepercayaan pasukan keamanan Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB)
Irak telah meminta Perserikatan Bangsa Bangsa untuk membantu dalam menghadapi kelompok garis keras Negara Islam Irak dan Mediterania (ISIL), untuk melindungi wilayah dan rakyatnya terhadap skema gerilyawan. Menteri Luar Negeri Irak, Hoshyar Zebari, dalam pesan yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, mengatakan, "Kami mendesak PBB dan masyarakat internasional untuk mengakui realitas ancaman yang luar biasa dan berbahaya yang dihadapi negara kita dan seluruh komunitas internasional."
"Organisasi teroris telah menggores perbatasan dan menimbulkan kekerasan serta perang saudara," kata Zebari mengenai ISIL, pasukan yang telah bergerak melintasi perbatasan dengan negara tetangga Suriah. "Atas dasar ini, kami membutuhkan bantuan Anda untuk mengalahkan (ISIL) dan melindungi wilayah kami serta rakyat kami," kata Zebari.
Menteri luar negeri meminta bantuan untuk pelatihan militer, bantuan teknologi dan senjata yang dapat digunakan untuk "menghilangkan basis teroris dan memberikan tempat berlindung yang aman." Irak, katanya, sedang mencari bantuan darurat dari masyarakat internasional, menurut perjanjian bilateral dan multi-lateral, dalam rangka penghormatan penuh terhadap kedaulatan nasional dan konstitusi Irak.
Gerilyawan ISIL, katanya, telah meneror warga, melakukan eksekusi massal, menekan minoritas, menghancurkan masjid-masjid, makam-makam dan gereja, dan memperingatkan bahwa ribuan "teroris dari beragam bangsa telah menyusup ke Irak dari Suriah."
Sementara itu pasukan keamanan Irak terlibat baku tembak di beberapa daerah terpisah di Provinsi Saladin, ibukota Irak utara, di tengah meningkatnya serangan militer serta serangan udara terhadap kelompok ISIL. Serangan itu menewaskan lebih 50 gerilyawan.
Pasukan keamanan Irak mulai mengambil kendali atas wilayah-wilayah yang jatuh ke tangan ISIL lebih dari sepekan yang lalu, di tengah dukungan publik yang besar oleh penduduk di daerah-daerah tersebut, kata juru bicara militer Irak, Mayor Jenderal Qassim Atta, dalam satu konferensi pers.
Dia menambahkan bahwa ISIL mulai runtuh di Provinsi Saladin karena banyak anggotanya mulai mengungsi dari provinsi itu. Selama 24 jam terakhir, 29 gerilyawan ISIL tewas di Saladin, 25 di Tigris, empat di Anbar, dan sejumlah rudal mereka di Samarra disita, kata Mayor Jenderal Atta mencatat.
Tutup Perbatasan Kota MosulPemerintah wilayah bagian Kurdi menutup penyeberangan perbatasan yang digunakan warga Irak untuk melarikan diri dari militan ekstremis. Penutupan ini dilakukan di hari yang sama dengan serangan udara di Kota Mosul sehingga menambah kekhawatiran warga Irak yang belum berhasil mengungsi dari Mosul.
Angkatan Udara Irak melakukan serangkaian serangan udara di salah satu kota terbesar di negaranya, Mosul, yang telah dikuasai oleh kelompok militan ekstremis, Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL). Penutupan perbatasan di Kurdi dilakukan di hari yang sama dengan serangan udara tersebut, Sabtu (28/6).
Menurut direktur lalu lintas kota Mosul, Mazen al-Safaar, serangan udara ditargetkan di empat lokasi di dalam kota terbesar kedua di Irak tersebut.
"Termasuk markas ISIS," ujar al-Safaar. "Setidaknya tujuh warga sipil tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan udara," ungkap Direktur administrasi setempat, Dr. Salaheldin al-Naimi yang juga menyatakan serangan pasukan militer Irak itu juga melanda gedung administrasi dan distrik perbelanjaan di Kota Mosul ini.
Iraqiya TV melaporkan pasukan militer dan kelompok-kelompok sukarelawan Irak telah membersihkan pejuang ISIL yang merupakan militan Sunni yang terkait dengan jaringan Al-Qaeda dari Mosul setelah maju ke kota tersebut dari empat penjuru.
Kekuatan tempur Kurdi, atau yang dikenal sebagai Peshmerga saat ini melarang warga Irak di Mosul memasuki wilayahnya. Ratusan ribu warga Irak melarikan diri ke Kurdi setelah ISIL berhasil menduduki Mosul dua minggu yang lalu. Meski masih banyak yang ingin mengungsi, pemerintah setempat mengendalikan warga Irak untuk datang ke Kurdi.
"Pintu masuk dari Mosul ke Irbil dan Duhuk telah ditutup. Tak seorang pun dari Mosul sekarang dapat memasuki wilayah Kurdi. Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan itu," jelas jubir Peshmerga, Jenderal Hilgord Hikmet kepada CNN.
Penutupan perbatasan tersebut menurut Hikmet dilakukan juga sebagai pengamanan setelah terjadinya ledakan sebuah bom mobil bunuh diri yang menghantam sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh pasukan Kurdi di Kolchali, sebelah timur laut dari Mosul. Menurut informasi dari pasukan keamanan Kurdi di Irbil, setidaknya satu petugas keamanan Kurdi tewas dan 15 orang lainnya tewas akibat insiden tersebut. Pemerintah Kurdi mengijinkan jika ada pengungsi yang ingin meninggalkan wilayahnya. Namun mereka tidak diperbolehkan untuk datang kembali.
(Ant/AFP/Detikcom/c)