Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 07 Mei 2026

Pengunggah Video 2 Rudal Iran Hantam Pesawat Ukraina Bersembunyi

* Iran Ultimatum Eropa Jangan Tiru AS, Ancam Pasukan di Timteng
Redaksi - Sabtu, 18 Januari 2020 19:09 WIB
1.024 view
Pengunggah Video 2 Rudal Iran Hantam Pesawat Ukraina Bersembunyi
AFP/STRINGER
Petugas berkumpul di lokasi jatuhnya pesawat Ukraina di Parand, wilayah barat daya Teheran, Rabu (8/1/2020) pagi waktu setempat. Pesawat berjenis Boeing 737-800 itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini, Teheran, Ira
Teheran (SIB)
Seorang pria yang mengunggah video detik-detik pesawat Ukraina jatuh dihantam rudal Iran dilaporkan bersembunyi. Pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan 752 jatuh di Teheran pada 8 Januari 2020, dengan 176 orang tewas. Insiden itu terjadi setelah Iran menyerang dua pangkalan AS di Irak. Balasan atas kematian jenderal mereka, Qasem Soleimani.

AS dan Kanada menyebut pesawat Ukraina itu jatuh setelah ditembak oleh rudal Iran, namun Teheran berulang kali membantahnya. Baru pada Sabtu (11/1), Teheran mengakui mereka sudah menjatuhkan pesawat jenis Boeing 737 itu. Dalam pernyataan mereka, pesawat tersebut dikira sebagai pesawat AS setelah berada di kawasan "zona militer sensitif".

Sebuah video pun memperlihatkan detik-detik ketika pesawat Ukraine International Airlines itu dihantam oleh dua misil. Dalam rekaman yang diverifikasi oleh New York Times, Iran menembakkan rudal pertama yang diyakini menghancurkan transponder mereka.

Kemudian rudal kedua yang diluncurkan beberapa detik kemudian menjatuhkan mereka sesaat setelah lepas landas dari Bandara Imam Khomeini, Teheran. Garda Revolusi menyatakan, mereka sudah menahan orang yang mengunggah video tersebut pekan lalu. Namun seorang jurnalis Iran di Inggris bernama Nariman Gharib membantah klaim itu, dan menyatakan Teheran membuat kabar palsu.

"Mereka menahan orang yang salah berkaitan dengan penerbangan 752. Orang yang menjadi sumber video ini aman," tegasnya dalam kicauan di Twitter. Adalah Javad, seorang warga Iran yang mengunggah rekaman itu dari temannya yang kini dilaporkan tengah bersembunyi. Dikutip BuzzFeed News, Rabu (15/1), temannya itu mengirimkan rekaman kamera CCTV setelah menyadari bakal membawa dampak signifikan.

Adapun identitas asli maupun nama keluarga Javad tidak disebutkan demi alasan keamanan. Begitu juga dengan temannya. Javad mengatakan, baik dia maupun temannya tidak tahu dampak seperti apa yang mereka terima ketika mengunggahnya. "Saya tidak memikirkan dampaknya bahwa video itu bakal memberikan perubahan pada segalanya," ujar Javad yang masih punya sumber aslinya. Begitu dia menampilkannya di YouTube, video itu lantas menjadi viral, dan kemudian diverifikasi serta ditulis oleh New York Times. Kabar bahwa ada orang yang ditangkap Garda Revolusi berbarengan dengan momen Javad mengunggah rekaman tersebut ke internet.

Begitu tahu rezim Teheran memburu penyebar videonya, teman Javad langsung menghapus dan memutuskan bersembunyi. "Kini, dia juga memutuskan untuk menghapus akun media sosialnya dan tidak berani menampakkan diri karena alasan keamanan," paparnya. Javad mengaku dia sangat ketakutan. Namun, dia tidak berniat untuk untuk menghapus video tersebut, atau menghilangkan akunnya. Dia menuturkan, ada kemungkinan dia bakal ditangkap atau dipaksa untuk membuat pernyataan palsu. Namun, dia menegaskan tak peduli. "Saya siap untuk menanggung semuanya sepanjang saya mampu. Saya sudah bersiap. Tuhan berkehendak tidak akan sia-sia," tegasnya.

Ultimatum Eropa
Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan sejumlah negara anggota Eropa anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bahwa pasukan mereka di Timur Tengah akan terancam jika ikut mendukung kebijakan Amerika Serikat yang bermusuhan. Ultimatum itu disampaikan selepas serangan AS menewaskan jenderal Iran, Qasem Soleimani, dan kemudian dibalas dengan gempuran roket terhadap dua pangkalan tentara Negeri Paman Sam di Irak. "Hari ini pasukan AS dalam bahaya, esok hari mungkin tentara Eropa yang terancam," kata Rouhani dalam rapat kabinet di Ibu Kota Teheran, seperti dilansir Associated Press, Kamis (16/1).

Inggris, Jerman dan Prancis mengirim tentara mereka ke sejumlah negara di Timur Tengah (Irak, kawasan Teluk, dan Libanon) dan Asia Selatan (Afghanistan). Menurut data sementara pasukan Inggris yang berada di Irak berjumlah sekitar 400 orang. Sedangkan Jerman dan Prancis mengirimkan masing-masing 450 dan 1000 prajurit.

Usai serangan udara terhadap Soleimani, Jerman memutuskan memindahkan 35 orang pasukannya ke Yordania. Uni Eropa juga mempunyai sejumlah perwakilan di Irak. Namun, juru bicara Komisi Eropa, Peter Stano, memahami situasi tersebut tetapi mereka memutuskan tetap berada di Negeri 1001 Malam.

Di kawasan Teluk, Inggris mempunyai pangkalan angkatan laut di Bahrain yang bisa menampung 500 prajurit. Mereka juga mempunyai pangkalan terpadu di Oman. Prancis mempunyai pangkalan AL di Pelabuhan Zayed, Abu Dhabi yang menampung 700 personel. Kedua negara itu juga menempatkan tentara di pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Jerman dan Prancis masing-masing menempatkan 100 dan 700 prajurit sebagai pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libanon. Pangkalan NATO di Afghanistan sampai saat ini menampung sekitar 17 ribu tentara dari 39 negara sekutu dan mitra. Inggris menempatkan seribu pasukan di negara itu. Sedangkan jumlah pasukan Jerman yang berada di sana berjumlah 1,100 orang (CNNI/kps/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru