London (SIB)
Pemerintah Inggris menjatuhkan sanksi bisnis kepada China terkait dugaan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur di Xinjiang. Inggris mengaku sudah berulangkali memperingatkan China terkait hal ini.
Dalam keterangan tertulis Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Rabu (13/1), Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Dominic Raab mengumumkan serangkaian tindakan untuk memastikan bahwa organisasi-organisasi Inggris, baik sektor publik atau swasta, tidak terlibat dalam, atau mengambil keuntungan dari pelanggaran HAM di Xinjiang.
Bukti pelanggaran berat HAM termasuk penahanan ekstra-yudisial dan kerja paksa semakin meningkat, termasuk bukti dari dokumen pemerintah China sendiri. Pemerintah Inggris telah berulang kali meminta China agar mengakhiri praktik tersebut, dan menjunjung tinggi hukum nasional dan kewajiban internasionalnya. Tindakan tersebut dirancang untuk mengirimkan sinyal yang jelas bagi China bahwa pelanggaran ini tidak dapat diterima.
Pemerintah Inggris mengumumkan peninjauan ulang tentang produk-produk Inggris mana saja yang dapat diekspor ke Xinjiang dan penerapan sanksi keuangan untuk bisnis yang tidak mematuhi Undang-Undang Perbudakan Modern. Langkah-langkah selanjutnya termasuk meningkatkan dukungan bagi badan publik Inggris untuk tidak melibatkan bisnis terkait pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai pasokan mereka. Dijelaskan bahwa Langkah-langkah ini akan membantu organisasi Inggris memastikan bahwa mereka tidak berkontribusi pada penganiayaan terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.
"Bukti skala dan beratnya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan di Xinjiang terhadap Muslim Uyghur saat ini sudah melebihi batasnya. Hari ini kami mengumumkan serangkaian tindakan baru untuk mengirimkan pesan yang jelas bahwa pelanggaran hak asasi manusia ini tidak dapat diterima," kata Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab dalam keterangan tertulis tersebut. Hal senada disampaikan Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel. Menurutnya, Inggris akan selalu membela mereka yang menderita. "Inggris akan selalu membela mereka yang menderita akibat pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan dan hari ini kami mengajukan langkah-langkah yang akan membantu melindungi populasi minoritas di Xinjiang," ujarnya.
Selain itu, Menteri Perdagangan Inggris Liz Truss juga mengatakan bahwa langkah ini merupakan bukti bahwa Inggris tidak menutup mata atas pelanggaran HAM di Xinjiang. "Tindakan baru ini menunjukkan bahwa kami tidak akan menutup mata atau menoleransi keterlibatan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Xinjiang," ungkapnya.
Salahkan Obat Tradisional China
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memicu kemarahan Beijing lantaran menyebut obat tradisional China sebagai penyebab Covid-19. Melansir Express, Boris Johnson mengklaim bahwa Beijing telah melakukan serangan 'terselubung' melalui pengobatan tradisional China sehingga menyebabkan pandemi virus corona.
Menurut Johnson, penggunaan sisik trenggiling untuk obat tradisional yang diyakini mampu meningkatkan vitalitas pria adalah praktik dari pengobatan China yang "gila".
Pernyataannya itu diungkapkan pada pertemuan virtual beberapa pemimpin dunia yang membahas tentang perlindungan alam pada Selasa (12/1) ketika Johnson membahas perdagangan ilegal satwa liar seperti trenggiling. Trenggiling, satwa yang terancam oleh para pemburu biasa dijual sisiknya di pasar obat tradisional China.
PM Johnson berkata: Pandemi virus corona adalah produk dari ketidakseimbangan dalam hubungan manusia dengan alam. “Ini berasal dari kelelawar atau trenggiling, dari kepercayaan gila bahwa jika Anda mengonsumsi gilingan sisik trenggiling, Anda akan menjadi lebih kuat atau apa pun yang dipercaya orang.â€
Komentar tersebut memicu kemarahan Beijing yang mengatakan bahwa komentar Johnson adalah "dugaan tidak berdasar". Juru bicara kementerian luar negeri China, Zhao Lijian mengatakan hanya studi yang "cermat dan teliti" yang akan menemukan asal mula wabah virus corona. Lijian berkata: Dugaan yang tidak berdasar atau berlebihan dari masalah ini hanya akan mengganggu kerjasama internasional yang normal dalam menelusuri asal-usul virus.
Johnson, dalam pidatonya pada Selasa, mengemukakan pemikirannya tentang bagaimana virus corona menular dari hewan ke manusia. Dia menambahkan bahwa virus "berasal dari benturan antara umat manusia dan alam dan kita harus menghentikannya." Perdana Menteri Inggris itu mengacu pada sejarah Yunani Kuno demi menggambarkan maksud ucapannya.
Dia berkata: Seperti wabah asli yang melanda orang Yunani yang saya ingat dalam buku salah satu Iliad, itu adalah penyakit zoonosis. Komentar Johnson bersamaan dengan tibanya tim ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kota Wuhan, China, tempat di mana virus corona pertama kali terdeteksi pada akhir 2019. Tim ahli WHO itu sempat tertahan selama beberapa hari sebelum diberi akses ke Wuhan. Hal itu memberi kesan kuat bahwa China telah berusaha menutup-nutupi tindakan ketika virus pertama kali terdeteksi pada Desember. (detikcom/express.co.uk/kps/f)
Sumber
: Hariansib edisi cetak