Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Oktober 2026

Jalan Kaki ke AS Melalui Guatemala, Imigran Honduras Bentrok dengan Aparat

Redaksi - Selasa, 19 Januari 2021 10:26 WIB
480 view
Jalan Kaki ke AS Melalui Guatemala, Imigran Honduras Bentrok dengan Aparat
Foto: AP
Kerumunan aparat keamanan Guatemala baku pukul dengan ribuan imigran Honduras yang berupaya melewati perbatasan Guatemala untuk mencapai perbatasan AS, Senin (18/1).
Guatemala City (SIB)
Aparat keamanan Guatemala memukul mundur ribuan imigran Honduras yang mencoba menerobos perbatasan untuk mencapai Amerika Serikat (AS). Seperti dilansir AFP, Minggu (17/1), pasukan keamanan mengepung karavan imigran di satu jalan di kota Vado Hondo, Guatemala Tenggara, dekat perbatasan dengan Honduras. Mereka kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan kelompok yang berniat menuju “Negeri Paman Sam” dengan berjalan kaki tersebut.

Di tengah ledakan gas dan tabung asap yang memekakkan telinga, banyak imigran mundur. Beberapa menunggu di dekat lokasi bentrokan untuk melakukan upaya baru. Sementara yang lain melarikan diri ke pegunungan terdekat. Beberapa menjatuhkan barang-barang mereka berserakan saat lari dari bahaya. Tentara berseragam dengan pentungan dan perisai plastik memukul mundur satu kelompok yang mencoba menerobos barisan pengamanan.

Seorang pejabat kesehatan daerah, yang tidak menyebutkan namanya, mengatakan beberapa imigran dipukul dan terluka. Pasukan keamanan Guatemala berada di bawah perintah ketat, untuk tidak membiarkan siapa pun lewat. Alasannya untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Sementara imigran Honduras mengatakan mereka putus asa untuk keluar dari kemiskinan, pengangguran, kekerasan geng dan narkoba. Apalagi dua badai dahsyat baru menimpa negara Amerika Latin itu akhir tahun lalu.

Para imigran berangkat dari Honduras minggu lalu. Mereka bermaksud melintasi Guatemala dan Meksiko untuk mencapai AS, menempuh perjalanan ribuan kilometer yang sulit. "Mereka tidak punya hati, kami mempertaruhkan nyawa kami," keluh Dixon Vazquez. Dia memohon kepada pemerintah Guatemala untuk membiarkan kelompok itu terus berjalan. "Tidak ada pekerjaan di Honduras," katanya.

Dania Hinestrosa, seorang pekerja rumah tangga berusia 23 tahun bermigrasi dengan putrinya. Dia mengatakan terpaksa meninggalkan satu anaknya yang berusia tiga dan anak kembar berusia empat tahun di Honduras. "Kami tidak punya pekerjaan, atau makanan, jadi saya memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat," kata Hinestrosa.

Tetapi Kepala Imigrasi Guatemala, Guillermo Diaz pada Sabtu bersikeras kelompok itu tidak akan bisa lewat, dan mendesak para migran untuk kembali. "Siapa pun yang ingin memasuki Guatemala membutuhkan dokumen perjalanan resmi dan tes Covid-19 negatif," katanya dalam konferensi video. Diaz mengklaim informasi intelijen menunjukkan bahwa anggota geng kejahatan terorganisir telah menyusup dalam kelompok imigran.

Menurut otoritas migrasi, hampir 1.400 orang dari karavan sebelumnya telah dikembalikan ke Honduras pada Minggu, termasuk 192 anak-anak. Para pejabat mengatakan sedikitnya 6.000 orang telah tiba di Vado Hondo, dari sekira 9.000 orang yang meninggalkan Honduras dalam beberapa hari terakhir. Kelompok pertama terdiri dari pria, wanita dan anak-anak. Banyak dari mereka mengenakan masker karena pandemi. “Mereka melewati polisi di perbatasan di El Florido pada Jumat,” kata seorang koresponden AFP.

Pemerintah Guatemala mengecam apa yang dikatakannya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasionalnya. Pemerintah Honduras didesak untuk menahan kepergian besar-besaran penduduknya, melalui tindakan pencegahan permanen. Para imigran mengharapkan sambutan baik di Amerika Serikat dibawah pemerintahan Joe Biden, setelah bertahun-tahun kebijakan anti-imigran yang keras diterapkan Donald Trump.

Tetapi pihak berwenang AS telah memperingatkan kelompok tersebut. Mark Morgan, Pejabat Komisaris Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, mendesak para imigran pekan lalu untuk tidak membuang waktu dan uang mereka. “Komitmen AS terhadap supremasi hukum dan kesehatan masyarakat tidak terpengaruh oleh perubahan administrasi,” katanya dalam pernyataan.

Guatemala, Meksiko dan Honduras memiliki kesepakatan dengan AS untuk menghentikan arus imigran ke utara. Lebih dari selusin karavan berisi ribuan imigran, telah berangkat dari Honduras sejak Oktober 2018. Tapi semuanya berhadapan dengan ribuan penjaga perbatasan AS dan tentara di bawah perintah Trump, yang menyebut beberapa imigran dari Meksiko sebagai "pemerkosa" dan penjahat. (AFP/kps/d)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru