Beirut (SIB)- Pejuang Kurdi yang bertempur melawan ISIS di Kobane tengah mencapai kemajuan di kota Suriah yang menjadi titik api pertempuran di perbatasan dengan Turki itu, kata para pejabat setempat dan kelompok pemonitor seperti dikutip AFP. Para pejabat teras Kurdi mengatakan kepada AFP bahwa para pejuang mereka maju "dari jalan ke jalan" dan mengutarakan keyakinan diri bahwa ISIS akan segera diusir dari kota itu. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, satu kelompok pemonitor yang berbasis di Inggris, mengatakan bahwa kemajuan-kemajuan yang terakhir dicapai ini sebagian besar terjadi di sebelah selatan kota yang terkepung itu.
"Unit Perlindungan Rakyat (YPG) menguasai kembali jalanan dan gedung-gedung di selatan Kobane, setelah pertempuran sengit melawan ISIS yang bermula malam (Senin) kemarin," kata Observatorium.
Observatorium juga mengatakan bahwa YPG dan sekutunya pasukan Kurdi Irak Peshmerga membom posisi-posisi ISIS di seluruh Kobane, Selasa (11/11).
Kobane dikepung ISIS sejak pertengahan September dan lebih dari 1.000 orang tewas dalam pertempuran yang sebagian besar dari pihak ISIS. Kurdi Irak telah disokong Peshemerga dan pemberontak Suriah dalam mempertahankan kota itu, selain oleh gelombang serangan udara oleh koalisi pimpinan AS.
Ketua Kursi Suriah Saleh Muslim mengatakan pasukan YPG maju dari jalan ke jalan dan mereka akan menguasai kembali kota itu dalam waktu tidak terlalu lama. Komandan utama pasukan Kurdi di Kobane, Narin Afrin, yang adalah perempuan berumur 40 tahun, berkata lewat telepon, "Kami melawan selama 56 hari dalam kondisi yang sangat sulit."
"Kami akan membebaskan kota itu dari rumah ke rumah, dan kami bertekad untuk membasmi terorisme dan fundamentalisme," kata dia. Kobane telah menjadi simbol perlawanan terhadap ISIS yang menguasai banyak wilayah Suriah dan Irak sembari melakukan penyiksaan brutal terhadap musuh dan penduduk setempat, demikian AFP.
Tangkapi Pendukung ISIS
Kepolisian Jerman menangkap beberapa pria yang dicurigai sebagai pendukung militan, termasuk ISIS. Polisi juga menggerebek dan menggeledah sejumlah rumah milik orang-orang yang dicurigai sebagai pendukung militan radikal.
Seperti dilansir Reuters, Rabu (12/11), sekitar 240 polisi terlibat dalam operasi penggerebekan massal yang menargetkan jaringan pendukung militan di Suriah, tidak hanya ISIS tapi juga militan lainnya. Dari penggerebekan tersebut ditangkaplah sejumlah orang terkait militan. Salah satunya pria Pakistan bernama Mirza Tamoor B (58), yang ditangkap karena dicurigai menyelundupkan dua pelaku jihad asing dari Jerman ke Suriah.
Kemudian ada juga pria Jerman bernama Kais BO (31) yang ditangkap karena dicurigai merekrut tiga pelaku jihad dan membantu mereka pergi ke Suriah.
Kedua tersangka tersebut juga diyakini telah mengirimkan uang lebih dari 3 ribu euro (Rp 45 juta) untuk mendukung ISIS dan militan lainnya di Suriah.
Media setempat melaporkan, sejumlah pria lainnya ditangkap dalam penggerebekan tersebut dan dijerat dakwaan yang lebih ringan, termasuk merampok gereja dan sekolah untuk menggalang dana bagi militan di Suriah. Sama seperti negara Eropa lainnya, Jerman berjuang untuk menghentikan radikalisasi yang terjadi di wilayahnya. Seringkali radikalisasi tersebut berujung pada keinginan jihad di Suriah maupun Irak. Namun yang menjadi kekhawatiran otoritas Jerman, adalah ketika para pelaku jihad tersebut pulang ke Jerman dan merencanakan serangan terorisme di wilayahnya.
Otoritas intelijen Jerman memperkirakan, sedikitnya 450 orang telah meninggalkan Jerman untuk pergi ke Suriah dan sekitar 150 orang di antaranya kembali pulang ke Jerman. Banyak dari orang-orang tersebut yang kini menjadi fokus penyelidikan kriminal kepolisian setempat.
Perempuan Pertama Berperang Melawan ISIS
Seorang perempuan kelahiran Kanada berkebangsaan Israel menjadi wanita pertama yang bergabung kelompok Kurdi berperang melawan Islamic State (IS) di Suriah. Perempuan bernama Gill Rosenberg (31) tersebut, saat ini tengah melakukan latihan dengan para gerilyawan.
Seperti diberitakan oleh Reuters, Rabu (12/11), Rosenberg diketahui pernah menjadi pilot pada pasukan Israel sebelum ditahan pada tahun 2009 dan diekstradisi ke Amerika Serikat (AS) sebelum akhirnya dipenjara dengan tuduhan penipuan telepon internasional.
Saat dikontak oleh pihak Reuters, Rosenberg mengaku saat ini tengah berada di Suriah namun menolak menjelaskan lebih detail soal keberadaannya. "Maaf, Anda harus melewati dulu rantai komando di YPJ," kata Rosenberg.
Pada Senin (10/11 lalu, radio di Israel juga melakukan wawancara dengan Rosenberg dan mengatakan dirinya sedang dalam perjalanan menuju Irak. Saat ini dirinya sedang melakukan latihan dengan para gerilyawan. "Pihak Kurdi adalah saudara kita. Mereka adalah orang baik," ujarnya.
Satu sumber di pihak Kursi mengatakan Rosenberg adalah perempuan pertama yang bergabung dengan pihak Kurdi Suriah dalam peperangan. Sumber itu juga menyebutkan ada beberapa pria asing yang juga ikut bergabung.
(Rtr/dtc/Ant/q)