Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Tangkap 24 Jurnalis Turki, Uni Eropa Kecam Presiden Erdogan

* Suriah Negara Paling Berbahaya Bagi Jurnalis
- Rabu, 17 Desember 2014 13:46 WIB
383 view
Ankara (SIB)- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuai kecaman dari Uni Eropa atas penangkapan massal jurnalis oposisi yang dilakukan atas perintahnya. Namun Erdogan berang dan balik mengecam Uni Eropa. "Uni Eropa harusnya mengurus urusannya sendiri dan menyimpan opininya sendiri," cetus Erdogan seperti dilansir Reuters, Selasa (16/12) sembari membantah penangkapan tersebut telah melanggar kebebasan pers.

Para pemimpin Uni Eropa menyebut penangkapan jurnalis tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai Eropa. Hal ini disampaikan menyusul penangkapan 24 jurnalis yang dianggap memiliki kedekatan dengan ulama ternama Fethullah Gulen, yang kini bermukim di Amerika Serikat. Para jurnalis itu dituding terlibat dalam plot untuk merebut kekuasaan dari pemerintahan Erdogan.

Mereka yang ditangkap pada Minggu, 14 Desember waktu setempat itu termasuk pemimpin redaksi Harian Zaman, Ekrem Dumanli dan para wartawan media tersebut. Stasiun TV Samanyolu pun tak luput dari penggeledahan yang dilakukan aparat polisi. Gulen yang merupakan pemimpin spiritual gerakan Hizmet, pernah menjadi sekutu Erdogan. Gulen yang kini mengasingkan diri ke AS, dituduh berencana merebut kekuasaan dari tangan Erdogan.

Dalam statemennya, kepala urusan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan, setiap langkah untuk menjadi anggota Uni Eropa bergantung pada "respek penuh atas aturan hukum dan hak-hak dasar". Disebutkan bahwa penangkapan para jurnalis tersebut "tidak sesuai dengan kebebasan media, yang merupakan prinsip inti demokrasi".

Namun Erdogan membalas kritikan tersebut. "Apa yang kalian (Eropa) tahu soal operasi ini sehingga membuat kalian merasa kompeten untuk mengeluarkan komentar demikian?" cetus Erdogan. "Kami tidak khawatir soal apa yang mungkin dikatakan Uni Eropa, apakah Uni Eropa menerima kami sebagai anggota atau tidak," tutur Erdogan. Menurut Erdogan, penangkapan itu merupakan respons yang dilakukan atas "operasi kotor" untuk menggulingkan pemerintahan Turki.

Etyen Mahcupyan, kepala penasihat Perdana Menteri Turki Ahmed Davutoglu mengatakan: "Kami punya bukti bahwa ada kesalahan yang dilakukan sejumlah orang di gerakan Gulen. Dan kami punya bukti bahwa jurnalis-jurnalis ini masuk dalam gerakan Gulen," cetusnya kepada BBC.

Operasi penangkapan jurnalis tersebut terjadi beberapa hari setelah Erdogan bertekad akan melakukan kampanye terbaru terhadap para pendukung Gulen. Selama setahun terakhir ini, Erdogan telah menuding para pendukung Gulen di kepolisian dan kehakiman, sengaja menggunakan penyelidikan kasus korupsi untuk mencoba menggulingkan kekuasaannya.

Semakin Berbahaya


Eksekusi terhadap sejumlah wartawan oleh kelompok ISIS di Suriah pada tahun ini menunjukkan bahwa jurnalisme menjadi pekerjaan yang semakin berbahaya. Meski pembunuhan terhadap wartawan turun tujuh persen dari tahun lalu menjadi 66, metode baru yang digunakan untuk mengeksekusi reporter merupakan hal yang patut diperhatikan, kata lembaga yang berkantor di Paris itu dalam laporan tahunan.

"Laporan Reporters Without Borders pada 2014 ini menunjukkan adanya perubahan bentuk kekerasan terhadap para jurnalis, Metode baru seperti, ancaman yang direncanakan dan juga pemotongan leher, digunakan dengan tujuan yang sangat jelas," kata mereka. "Sangat jarang para wartawan dibunuh dengan cara barbar untuk tujuan propaganda yang mengejutkan dunia," tulis Reporters Without Borders.

Negara paling mematikan bagi jurnalis pada tahun ini adalah Suriah dengan jumlah 15 orang, kemudian diikuti oleh Palestina--terutama Gaza, Ukraina, Irak, dan Libya. Sementara di sisi lain, Tiongkok adalah negara yang paling banyak memenjarakan wartawan, diikuti oleh Eritrea, Iran, Mesir, dan Suriah.

Di sisi lain, jumlah reporter penculikan terhadap reporter naik 37 persen pada tahun ini menjadi 119. Sebanyak 90 persen di antaranya adalah wartawan lokal dan paling banyak terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Sekitar 40 wartawan kini masih berada dalam kondisi penculikan. Laporan itu juga menyatakan bahwa karena menerima berbagai bentuk intimidasi, jumlah wartawan eksil kini naik dua kali lipat dari tahun 2013. (Detikcom/Ant/Rtr/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru