Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 03 Mei 2026

Tensi Politik Memanas di Bangladesh, Dua Demonstran Tewas Ditembak

* Pemimpin Oposisi Bangladesh Ditahan di Kantornya
- Selasa, 06 Januari 2015 15:15 WIB
265 view
Dhaka (SIB)- Dua orang pengunjuk rasa dilaporkan ditembak mati dan puluhan lainnya luka-luka di Bangladesh dalam bentrokan antara aktivis partai berkuasa dan oposisi, Senin (5/1), di distrik barat laut dari Natore.

Peristiwa itu menandai peringatan satu tahun pemilu yang kontroversial dan penuh kekerasan di negara itu. Pihak oposisi mengatakan korban adalah aktivis BNP, meskipun polisi belum mengkonfirmasi identitas mereka.

Jalan-jalan yang biasanya padat di Dhaka, ibukota Bangladesh, hampir kosong pada Senin (5/1) sore, ketika pihak berwenang menghentikan operasi transportasi publik seperti bus, kereta api dan kapal feri ke kota dan ribuan polisi anti huru hara dikerahkan untuk mengantisipasi kerusuhan lebih jauh.

Beberapa bom minyak mentah telah meledak di Dhaka dan bagian lain negara itu, menurut laporan media setempat. "Keamanan telah ditingkatkan di seluruh negeri, termasuk Dhaka, untuk menggagalkan insiden yang tak diinginkan," kata kepala polisi distrik Dhaka Habibur Rahman kepada Reuters.

Bangladesh telah dilanda ketidakpastian politik sejak Januari tahun lalu, ketika Perdana Menteri Sheikh Hasina dari Liga Awami berkuasa untuk masa jabatan kedua berturut-turut setelah pemilihan parlemen berdarah yang diboikot oleh oposisi utama Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan dianggap cacat hukum oleh pengamat internasional. Dua tokoh pemimpin wanita Bangladesh, Perdana Menteri Sheikh Hasina dengan pemimpin oposisi Khaleda Zia terlibat pertikaian politik. Saat ini, pemimpin oposisi Bangladesh ditahan di dalam kantornya oleh polisi setempat. Namun demikian, Zia yang merupakan pemimpin partai oposisi Bangladesh Nationalist Party (BNP) tetap memerintahkan pendukungnya untuk menggelar unjuk rasa antipemerintah secara besar-besaran.

Khaleda, yang juga mantan perdana menteri, telah menuntut jajak pendapat baru di bawah pemerintahan netral, menyebut pemerintah Hasina "tidak demokratis dan ilegal". Pemimpin oposisi itu mengatakan kantornya di wilayah perkantoran diplomatik telah dikepung dengan kendaraan militer dan meriam air sejak Sabtu (3/1). Polisi telah mengunci gerbang utama kantor Khaleda saat ia siap untuk meninggalkan kantor, kata saksi.

Sementara itu, markas utama BNP di Dhaka telah disegel polisi sejak Sabtu (3/1) tengah malam, dengan mobil polisi menjadi barikade di jalanan sekitarnya.

Seorang pejabat BNP menyebutkan, sedikitnya 400 pendukung BNP ditangkap polisi, termasuk dua tokoh senior partai, menjelang peringatan pemilu kontroversial ini. Keributan sempat terjadi di dekat kantor Zia pada Minggu (4/1) waktu setempat, ketika mantan Presiden Bangladesh dari BNP, Badruddoza Chowdhury dilarang menemuinya. "Dia (Zia-red) disekap. Ini merupakan penghinaan bagi demokrasi," sebut presiden Bangladesh ke-13 ini.

Masih pada hari yang sama, Minggu (4/1), ajudan dan juga pengacara Zia, Khandakar Mahbub Hossain berhasil menemuinya. Kepada wartawan setempat, Hossain menyatakan, Zia mendorong pendukungnya untuk terus menggelar unjuk rasa hingga pemerintahan PM Hasina lengser.

Di tempat terpisah, pemerintah Bangladesh membantah Khaleda sedang dikepung. Pemerintah mengatakan, pengerahan pasukan keamanan ekstra ditujukan untuk memastikan keamanan mantan perdana menteri itu. “Khaleda Zia tidak dikepung," kata Hasina pada pertemuan sayap mahasiswa partainya pada Minggu (4/1), menurut media lokal. "Siapa yang mengepungnya? Dia bisa pergi ke kediamannya setiap saat."

Hasina dan Khaleda, keduanya terkait dengan mantan pemimpin nasional Bangladesh, telah menjadi rival politik yang panjang dan pahit dan telah mendominasi politik di Bangladesh selama lebih dari dua dekade. (AP/Ant/CNNIndo/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru