Jakarta(harianSIB.com)
Puluhan ribu warga memadati pusat Kota Beograd, Serbia, Sabtu (23/5/2026), dalam aksi demonstrasi besar menuntut pemerintah segera menggelar pemilu lebih awal.
Aksi tersebut merupakan lanjutan gelombang protes antikorupsi yang muncul sejak tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang. Peristiwa itu memicu kemarahan publik terhadap pemerintahan Presiden Serbia, Aleksandar Vučić.
Massa bergerak menuju Slavija Square sambil membawa bendera Serbia dan atribut universitas. Demonstrasi didominasi mahasiswa yang terus menyerukan perubahan politik dan penegakan demokrasi.
Melansir CNBC Indonesia, Kepolisian Serbia memperkirakan jumlah peserta mencapai sekitar 34 ribu orang. Situasi sempat memanas saat malam hari ketika sejumlah demonstran bertopeng melempar batu, botol, dan petasan ke arah aparat keamanan.
Baca Juga:
Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Sejumlah orang dilaporkan diamankan, sementara kendaraan gendarmerie dikerahkan untuk menjaga kawasan parlemen dan kantor kepresidenan.
Kantor kejaksaan Serbia menegaskan akan memproses pihak-pihak yang menyerang aparat. Presiden Aleksandar Vučić juga mengecam kerusuhan tersebut dan menyebut kekerasan tidak akan mengubah keadaan.
Meski diwarnai bentrokan, para demonstran menegaskan aksi akan terus berlanjut hingga tuntutan perubahan politik dan demokrasi di Serbia dipenuhi.(*)