Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 09 Oktober 2026

Dari Dairi ke Guangzhou, Daniel Simarmata Menimba Ilmu dan Pengalaman di China

Donna Hutagalung - Jumat, 09 Oktober 2026 11:11 WIB
170 view
Dari Dairi ke Guangzhou, Daniel Simarmata Menimba Ilmu dan Pengalaman di China
Foto: Dok/PTDPM
Daniel Fransiskus Simarmata bersama mahasiswa asal Dairi, Sumatera Utara, penerima beasiswa PT DPM, di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce, China.

Guangzhou(harianSIB.com)

Pukul 06.00 waktu setempat, aktivitas mulai menggeliat di sebuah asrama mahasiswa di Guangzhou, China. Di tengah kesibukan kota dan lingkungan kampus, Daniel Fransiskus Simarmata bersama lima mahasiswa asal Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, bersiap menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di negeri orang.

Jauh dari keluarga dan kampung halaman, mereka belajar menjalani kehidupan secara mandiri. Mulai dari mengatur waktu, mempersiapkan kebutuhan kuliah, mengelola uang saku hingga menyelesaikan tugas akademik, semua harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Daniel merupakan penerima Beasiswa PT Dairi Prima Mineral (DPM) angkatan ketiga yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC), China.

Kehidupan di Guangzhou menghadirkan pengalaman baru bagi Daniel. Jika di Indonesia ia terbiasa sarapan di rumah sebelum beraktivitas, di China rutinitasnya dimulai dengan mempersiapkan diri di asrama, kemudian berjalan kaki menuju ruang kuliah karena tempat tinggalnya masih berada di lingkungan kampus.

Baca Juga:
"Di Guangzhou, biasanya saya bangun di asrama, mandi, mempersiapkan diri untuk kelas. Kalau di Indonesia biasanya sarapan di rumah, sedangkan di China kami biasanya langsung ke kelas dengan berjalan kaki karena asrama masih di lingkungan kampus," ujar Daniel, melalui siaran pers yang diterima harianSIB.com, Jumat (9/10/2026).

Selain perbedaan rutinitas, Daniel juga merasakan perubahan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya adalah penggunaan sistem pembayaran digital yang begitu luas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat China.

"Hal yang pertama kali menarik perhatian saya ketika tiba di Guangzhou adalah melihat orang-orang China, kemudian sistem pembayaran yang semuanya serba online," katanya.

Belajar Teknologi dan Disiplin Waktu

Aktivitas perkuliahan dimulai pukul 08.00. Daniel mengambil program studi Machinery Manufacturing and Automation, bidang yang mempelajari teknologi mesin, otomasi, serta proses manufaktur melalui pembelajaran teori dan praktik.

Baginya, pengalaman kuliah di China bukan hanya tentang memperdalam ilmu sesuai jurusan, tetapi juga memahami budaya belajar yang berbeda. Salah satu hal yang paling berkesan adalah kedisiplinan waktu yang diterapkan dalam kegiatan akademik.

"Semua serba tepat waktu. Liburnya juga tergolong lebih sedikit dibanding Indonesia. Bahkan ada hari Minggu yang digunakan sebagai hari belajar untuk mengganti hari libur sebelumnya," ungkapnya.

Di luar materi perkuliahan, Daniel juga harus beradaptasi dengan bahasa Mandarin yang digunakan dalam berbagai aktivitas, baik di lingkungan kampus maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Keterbatasan dalam memahami bahasa tersebut terkadang menghadirkan pengalaman yang tidak terlupakan. Daniel pernah ditanya seorang warga China mengenai arah jalan di lingkungan kampus. Namun, karena belum memahami bahasa Mandarin dengan baik, ia hanya bisa terdiam.

Pengalaman sederhana itu menjadi pelajaran tersendiri baginya. Daniel semakin menyadari bahwa kemampuan berbahasa merupakan bagian penting dari proses adaptasi di negara asing. Karena itu, ia terus berusaha mempelajari bahasa Mandarin sedikit demi sedikit.

Rindu Masakan Ibu di Kampung Halaman

Di balik kesibukan kuliah dan pengalaman baru di negeri orang, kerinduan terhadap keluarga tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Daniel.

Berada ribuan kilometer dari Dairi membuat hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa kini memiliki arti berbeda. Salah satunya adalah masakan rumah, terutama hidangan yang dibuat oleh sang ibu.

"Kami selalu rindu masakan rumah, terutama masakan mama. Saya kangen semua masakan mamak, terutama ayam goreng bumbu," tuturnya.

Untuk mengobati kejenuhan setelah menjalani aktivitas akademik, Daniel dan teman-temannya sesekali menghabiskan waktu bersama mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa China. Mereka makan malam bersama, bernyanyi, atau sekadar berkumpul dan berbincang untuk melepas penat.

Namun, waktu istirahat tidak selalu berlangsung panjang. Pada malam hari, mereka kembali disibukkan dengan tugas kuliah dan persiapan materi untuk pertemuan berikutnya.

Di tengah rutinitas tersebut, komunikasi dengan keluarga menjadi pengobat rindu. Pertanyaan sederhana dari orang tua, seperti sudah makan, bagaimana kondisi kesehatan, atau bagaimana perkembangan kuliah, terasa semakin berarti ketika jarak memisahkan mereka.

Daniel mengakui, menjalani pendidikan jauh dari keluarga menghadirkan perasaan yang bercampur aduk. Ada kerinduan dan kesedihan karena tidak dapat bertemu secara langsung dalam waktu lama, tetapi juga kebahagiaan karena masih bisa berbagi cerita melalui komunikasi jarak jauh.

"Ada rasa rindu karena jaraknya jauh, sedih karena tidak akan berjumpa selama tiga tahun, tetapi juga senang karena masih bisa berkomunikasi dan menceritakan pengalaman baru di China," ujar Daniel.

Bagi Daniel, kesempatan menempuh pendidikan di China bukan sekadar pengalaman belajar di luar negeri. Ia melihatnya sebagai peluang untuk membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dapat menunjang masa depannya.

Ia berharap dapat menguasai bahasa Mandarin sekaligus meningkatkan kemampuan praktik di bidang permesinan sesuai dengan program studi yang ditempuhnya.

Bekal tersebut ingin dimanfaatkannya ketika kembali ke dunia kerja, termasuk dengan membuka peluang berkarier di sektor pertambangan.

"Saya berharap bisa memaksimalkan segala hal yang saya pelajari di sini, termasuk ilmu dari jurusan dan kemampuan berbahasa Mandarin. Semoga kelak saya bisa bekerja di perusahaan tambang dengan membawa pengalaman dari China," harapnya.

Program Beasiswa PT Dairi Prima Mineral telah berjalan sejak 2019 sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat perusahaan. Melalui program ini, mahasiswa asal Dairi memperoleh kesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi sekaligus mengenal perkembangan teknologi, budaya, dan lingkungan pendidikan internasional.

Bagi Daniel dan lima mahasiswa asal Dairi lainnya, perjalanan di Guangzhou menjadi bagian dari proses membangun masa depan. Mereka tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga menempa kemandirian, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menghadapi tantangan di lingkungan baru.

Di negeri yang jauh dari kampung halaman, kerinduan terhadap keluarga dan masakan ibu tetap mereka bawa. Namun, di balik kerinduan itu, tersimpan harapan besar untuk pulang dengan bekal ilmu dan pengalaman yang lebih luas.

Dari Guangzhou, Daniel dan teman-temannya sedang mempersiapkan diri untuk masa depan, dengan harapan suatu hari nanti pengetahuan yang mereka peroleh dapat menjadi bekal untuk berkarier dan berkontribusi bagi daerah asal mereka, Kabupaten Dairi.(*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Dari Uang Sampai Rokok: Kebiasaan Memberikan Angpao di China Dikategorikan Suap?
Mobil Tabrak Anak-anak di China, 5 Orang Tewas
Natal Pemkab Dairi Disesuaikan dengan FDT
Prabowo akan Berteman dengan Amerika dan China Jika Jadi Presiden
Fokus kepada Rusia dan China, AS Kurangi Pasukan di Afrika
Jalan Desa Sopobutar-Pardomuan Dairi Rusak
komentar
beritaTerbaru