Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

2 Jenderal Irak Tewas Akibat Serangan Bom Bunuh Diri

- Jumat, 28 Agustus 2015 11:03 WIB
196 view
 2 Jenderal Irak Tewas Akibat Serangan Bom Bunuh Diri
Baghdad (SIB)- Aksi bom bunuh diri menewaskan dua jenderal Angkatan Darat Irak di Ramadi, ibukota provinsi Anbar. Pengebom bunuh diri yang mengendarai mobil bermuatan bahan peledak tersebut, menewaskan wakil kepala Komando Operasi Anbar, Staf Mayor Jenderal Abu Raghif dan komandan Divisi Kesepuluh, Staf Brigadir Jenderal Safin Abdulmajid. Demikian disampaikan juru bicara militer Irak, Brigadir Jenderal Yahya Rasool kepada kantor berita AFP, Kamis (27/8).

Pihak Komando Operasi Gabungan mengkonfirmasi kematian dua perwira militer tersebut beserta para korban tewas lainnya yang tidak disebutkan jumlahnya. Sejauh ini belum ada pihak atau kelompok yang mengklaim serangan bom tersebut. Namun Ramadi merupakan salah satu wilayah di Irak yang berada di bawah kendali kelompok radikal ISIS.

Dikatakan Rasool, serangan bom itu terjadi di wilayah Al-Jaraishi, sebelah utara kota Ramadi. Kota Ramadi dikuasai oleh militan ISIS sejak Mei lalu setelah pasukan pro-pemerintah terus menghadapi perlawanan militan selama lebih dari setahun. ISIS melancarkan serangan besar-besaran pada Juni 2014 lalu, yang membuatnya berhasil menguasai sepertiga wilayah Irak. Selain Irak, ISIS juga menguasai sebagian wilayah Suriah

Sementara itu peretas ulung asal Inggris yang membantu Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tewas dalam serangan pesawat tak berawak (drone) Amerika Serikat di Suriah. Peretas ini disebut AS dan Eropa sebagai pakar dunia maya kelompok radikal Sunni tersebut.

Disampaikan sumber AS yang memahami operasi militer ini, Departemen Pertahanan AS terlibat dalam serangan drone yang menewaskan Junaid Hussain, peretas asal Inggris. Hussain pernah tinggal di Birmingham, Inggris sebelum bergabung ISIS. Laporan CSO Online menyebut serangan drone ini terjadi di dekat Raqqa, Suriah pada Selasa (25/8) waktu setempat. Hussain yang berusia 21 tahun ini, pindah ke Suriah sejak 2 tahun lalu dan kemudian membantu ISIS.

Sumber AS ini sangat meyakini Hussain tewas dalam serangan drone tersebut. Namun ada beberapa orang yang memberikan keterangan berbeda. Termasuk dua akun Twitter yang dikonfirmasi oleh pakar intelijen AS terkait ISIS, yang berdasarkan keterangan istrinya, menyebutkan Husain masih hidup.

Awal tahun ini, sumber pemerintahan AS dan Eropa menuturkan kepada Reuters, bahwa mereka meyakini Hussain merupakan pemimpin CyberCaliphate, kelompok peretas yang menyerang akun Twitter Pentagon pada Januari lalu. Namun, pakar keamanan dunia maya menyebut Hussain dan peretas lainnya yang bekerja untuk ISIS, sebenarnya tidak memiliki cukup kemampuan untuk melancarkan serangan serius.

"Dia bukanlah ancaman serius. Dia lebih seperti peretas pembuat onar. Keterlibatannya dalam perekrutan, komunikasi, dukungan lainnya yang membuatnya menjadi target," sebut Wakil Presiden CrowdStrike, Adam Meyer. CrowdStrike merupakan perusahaan keamanan dunia maya.

Pada tahun 2012, Hussain divonis 6 bulan penjara karena mencuri daftar alamat milik mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dari sebuah akun yang dikelola penasihat Blair saat itu. Hussain kemudian menjadi target perburuan otoritas AS. (Detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru