Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Kanselir Merkel Tegaskan Tiada Toleransi untuk Pembenci Migran

* Negara Balkan Desak Uni Eropa Atasi Krisis Migran
- Jumat, 28 Agustus 2015 11:04 WIB
217 view
 Kanselir Merkel Tegaskan Tiada Toleransi untuk Pembenci Migran
Berlin (SIB)- Kanselir Angela Merkel mendesak rakyat Jerman untuk menentang demonstrasi antimigran yang memalukan. Desakan itu dia kemukakan saat mengunjungi pusat penampungan sementara pencari suaka di Heidenau, dekat Dresden.

"Tiada toleransi bagi orang-orang yang mempertanyakan martabat orang lain. Tiada toleransi bagi mereka yang tidak sudi menolong ketika bantuan manusia dan hukum diperlukan," kata Merkel kepada wartawan. Dia menyebut protes yang disertai aksi kekerasan, memalukan dan keji.

Pekan lalu, milisi kelompok kanan melempar botol dan mercon dalam unjuk rasa yang berlangsung berhari-hari menentang tempat penampungan sementara pencari suaka di kota Heidenau. Lebih 30 perwira polisi dilaporkan cedera karena kejadian tersebut. Sejumlah demonstran menentang tempat penampungan sementara pencari suaka di Heidenau.

Selain di Heidenau, tempat penampungan sementara bagi para pencari suaka habis terbakar di Nauen, sebelah barat Berlin. Penyelidik yakin bahwa kebakaran dilakukan dengan sengaja. Tak ada yang terluka dalam peristiwa ini. Lepas dari aksi demonstrasi menentang pencari suaka dan pengungsi, pemerintah Jerman menyatakan tengah mempertimbangkan permohonan pencari suaka asal Suriah.

Dengan demikian, pemerintah Jerman membekukan aturan Dublin yang dibuat Uni Eropa. Aturan itu menegaskan setiap pencari suaka harus mengisi lamaran di negara anggota Uni Eropa pertama yang mereka capai, bukan negara tujuan. Untuk itu, pemerintah pusat Jerman sedang berencana memberi setiap daerah 500 juta euro tahun ini untuk membantu kedatangan para migran.

Sementara itu, Dinas Penjaga Pantai Italia mengatakan terdapat 50 jenazah di kapal pengangkut migran yang dicegat di lepas pantai Libia, Afrika utara, Rabu (26/08). Tidak disebutkan penyebab tewas puluhan manusia tersebut. Namun, sejumlah media Italia melaporkan kematian amat mungkin disebabkan kurang oksigen.

Di antara para jenazah, terdapat sedikitnya 430 migran di dalam kapal itu. Mereka kemudian diselamatkan oleh kapal penjaga pantai Swedia, Poseidon, melalui kerja sama dengan badan perbatasan Uni Eropa alias Frontex. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 250.000 migran telah menyeberang dari Afrika ke Eropa tahun ini. Saat menyeberang, lebih dari 2.000 migran meninggal.

Data itu sesuai dengan fakta di lapangan. Operasi penyelamatan pada Rabu (26/08) merupakan satu dari 10 operasi serupa yang berlangsung bersamaan di lepas pantai Libia, kata penjaga pantai Italia. Para penyelundup manusia di Libia diyakini tengah memanfaatkan kesempatan manakala gelombang laut sedang tenang untuk mengirimkan perahu-perahu pengangkut migran ke Eropa.

Permasalahan migran ini akan menjadi bahan diskusi para pemimpin negara anggota Uni Eropa di Wina dalam waktu dekat. Diskusi itu juga melibatkan pemimpin negara-negara kawasan Balkan mengingat ribuan migran menggunakan jalur Balkan menuju Eropa. Awal pekan ini, polisi Makedonia menggunakan granat kejut setelah ribuan migran menembus barisan polisi di perbatasan Yunani.

Desak Uni Eropa  Atasi Krisis Migran

Menteri Luar Negeri Serbia dan Macedonia, Kamis (27/8), menyerukan sebuah aksi dari Uni Eropa untuk mengatasi krisis migran. Seruan itu disampaikan dalam sebuah KTT para pemimpin Balkan di Vienna, Austria yang juga dihadiri Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Kedua negara Balkan itu kini menjadi wilayah transit puluhan ribu migran yang lari dari negara mereka untuk mengadu nasib di wilayah Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir. "Kami menghadapi krisis pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II. Ini benar-benar merupakan sebuan migrasi manusia dan Serbia menjadi negara transit," kata Menlu Serbia, Ivica Dadic, dalam jumpa pers di Vienna.

"Ini adalah masalah yang harus dihadapi Uni Eropa dan kami (Serbia dan Macedonia) dengan sebuah rencana aksi," tambah Dadic. "Saya kira Uni Eropa yang harus menyampaikan rencananya terlebih dahulu. Saya harus jujur di sini. Kami yang menanggung beban dari masalah ini," lanjut Dadic.

Pernyataan Dadic itu didukung Menlu Macedonia Nikola Poposki. Dia mengatakan, negerinya saat ini harus menghadapi rata-rata 3.000 orang migran setiap hari yang datang dari Yunani, negara anggota Uni Eropa. "Kami tak bisa melanjutkan pekerjaan dengan uang 90.000 euro (Rp 1,4 miliar) yang kami terima sejauh ini dan kami kemungkinan juga tak bisa mencapai target dengan uang 1 juta euro yang baru saja dijanjikan," ujar Poposki. "Kecuali kami mendapatkan sebuah jawaban dari Uni Eropa terkait isu ini, sehingga tak seorangpun dari kami hidup di bawah angan-angan bahwa masalah ini akan teratasi," lanjut Poposki.

Saat ini ribuan orang migran sudah melintasi perbatasan Serbia menuju Hungaria. Setidaknya 2.500 orang migran masuk ke Hungaria dari Serbia setiap hari. Kondisi ini membuat jumlah migran dan pencari suaka yang memasuki Hungaria melampaui 140.000 orang. Akibatnya, Hungaria tengah mempertimbangkan untuk mengerahkan militer demi mengendalikan banjir migran itu. (BBC/kps/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru