Simferopol (SIB)- Di jalan raya antara ibu kota Crimea Simferopol dan kota pelabuhan Sevastopol kini terlihat sekelompok orang berjambang, mengenakan pakaian loreng, bersenjata pisau, dan mengenakan topi bulu memeriksa lalu lintas. Sementara itu terlihat sebuah bendera hitam dengan gambar tengkorak, lambang kelompok nasionalis Serbia, serta sebuah bendera Serbia berkibar bersisian dengan bendera Rusia, mengembalikan ingatan kekisruhan Balkan pada 1990-an.
Bratislav Zuvkovic, salah seorang komandan gerakan Chetnik Serbia, mengatakan, merupakan hal yang alamiah bagi mereka datang ke Crimea membantu saudara-saudara Rusia mereka. Kelompok pimpinan Zivkovic mendapatkan tugas untuk melakukan patroli bersama pasukan Cossack, yang juga datang ke Crimea dari Rusia untuk mengantisipasi jalannya referendum.
"Tujuan kami adalah memberi dukungan mora untuk warga Rusia dan Crimea serta hak mereka menggelar referendum. Tak lebih dari itu," ujar Zivkovic. "Selama berabad-abad, Rusia selalu membantu kami. Rusia selalu mendukung kami, bahkan saat ini di Kosovo. Jadi kami datang untuk membantu mereka," tambah Zivkovic.
Secara tradisional Rusia adalah sekutu Serbia, apalagi kedua negara memiliki akar etnis Slav, sama-sama memeluk Kristen Ortodoks, dan memiliki bahasa yang sangat mirip. Serbia sangat bergantung kepada Rusia untuk urusan energi dan pemerintah Belgrade yang "nyaris bangkrut" telah beralih ke Kremlin untuk menolong keuangan negeri itu.
Kelompok Chetnik Serbia mendapatkan nama mereka sejak memberontak terhadap Kekaisaran Turki Ottoman pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dalam konflik Balkan 1990-an, kelompok ini terkenal akan aksi brutalnya terhadap etnis non-Serbia di Kroasia, Bosnia dan Kosovo, bekas provinsi Serbia yang sebagian besar penduduknya adalah etnis Albania.
Sementara Pemerintah Ukraina, Kamis (13/3), mulai memobilisasi warganya sebagai sukarelawan untuk menghadapi ancaman ekspansi Rusia. Parlemen Ukraina, Verkhovna Rada, mendukung pembentukan sebuah pasukan baru berkekuatan 60.000 orang sukarelawan yang akan menahan pasukan Rusia jika mereka mencoba maju ke luar perbatasan Semenanjung Crimea.
Keputusan dramatis untuk memperkuat pertahanan Ukraina dengan rakyat biasa di luar tentara regular diambil tak lama setelah Presiden AS Barack Obama menyatakan dukungannya terhadap pemerintahan baru Ukraina yang pro-Eropa.
Ketua dewan pertahanan dan keamanan nasional, Andriy Parubiy mengatakan Garda Nasional yang baru itu nantinya akan memastikan keamanan negara, mempertahankan perbatasan dan menghancurkan kelompok teroris.
Kelompok teroris adalah istilah yang digunakan Kiev untuk menggambarkan pasukan bersenjata lengkap namun tak mengenakan pengenal yang menduduki Crimea sejak awal bulan ini. Angkatan bersenjata Ukraina sendiri hanya memiliki 130.000 personel dan separuh dari mereka hanya diperlengkapi persenjataan berusia tua. Kekuatan militer Ukraina itu terbilang "kerdil" jika dibandingkan militer Rusia yang memiliki 845.000 personel dan didukung persenjataan nuklir.
Perdana Menteri sementara Ukraina di Markas PBB di New York, Kamis (13/3), meminta pertolongan mencegah Rusia mencaplok semenanjung Krimea melalui referendum yang kontroversial yang dijadwalkan berlangsung Minggu.
Dalam konfrontasi dramatis di Dewan Keamanan PBB, Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk berpaling ke Duta Besar Rusia Vitaly Churkin dan dengan tegas menanyakan apakah “Rusia menghendaki perang?â€. Churkin menjawab bahwa pemerintah dan rakyatnya tidak menghendaki perang. Ia mengatakan, “saya yakin rakyat Ukraina juga tidak menghendaki perang. Kami tidak ingin memperuncing keadaan lebih jauh.â€
Walaupun Churkin berkata demikian, pemerintah di Moskow pada Kamis mengaku menempatkan ribuan lagi pasukan dan peralatan militer dekat perbatasan Ukraina. Dalam mengumumkan tindakan itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pergerakan pasukan itu akan terus berlangsung selama dua minggu.
Krisis Ukraina ini dipicu tergulingnya rezim pro-Rusia yang memerintah negeri itu. Kondisi itu mendorong Presiden Vladimir Putin memikirkan opsi menginvasi negeri tetangganya untuk kali pertama sejak perang singkat melawan Georgia pada 2008.
Dakwaan Kriminal Yanukovych BertambahKejaksaan Agung Ukraina menambah dakwaan kriminal untuk presiden terguling Viktor Yanukovych yang kini buron. Dakwaan kriminal baru itu termasuk pengambilalihan kekuasaan secara tidak sah, ekstremisme dan pencucian uang.
Penjabat Jaksa Agung dan juga anggota partai Svoboda yang berhaluan nasionalis, Oleh Makhnitsky, Kamis (14/3) kepada wartawan mengatakan Yanukovych juga diburu karena penyalahgunaan kekuasaan dan dugaan pembunuhan. "Dakwaan kriminal lain termasuk penguasaan properti negara secara ilegal serta pencucian uang," kata Makhnitsky.
Langkah hukum lain secara terpisah juga dilakukan terkait keputusan Yanukovych yang membekukan konstitusi yang seharusnya menjadikan Ukraina sebagai sebuah republik parlementer. Kejaksaan menilai langkah Yanukovych membatalkan konstitusi itu merupakan sebuah pengambilalihan kekuasaan secara inkonstitusional. Bulan lalu, pemerintah Ukraina meminta Interpol menerbitkan "red notice" atau sebuah perintah penangkapan internasional untuk Viktor Yanukovych.
Sementara Pemerintah Austria menahan seorang pengusaha Ukraina, Dmytro Firtash, menyusul investigasi FBI dan surat penahanan dari Amerika Serikat. "Pada 12 Maret malam, seorang warga negara Ukraina F, 48, ditahan di Vienna oleh kesatuan polisi anti-kejahatan terorganisasi dan unit EKO-Cobra," demikian pernyataan kepolisian Austria.
"Sebuah perintah penangkapan nasional diterbitkan untuk pengusaha itu berdasarkan investigasi FBI selama beberapa tahun serta sebuah surat penahanan dari sebuah pengadilan AS," tambah kepolisian. Pengusaha itu diduga terlibat dalam sejumlah kasus penyuapan dan membentuk organisasi kriminal.
Kantor berita Austria Press Agency, menyebut tersangka dengan nama Firtash, seorang konglomerat bidang kimia yang memiliki stasiun televisi Inter dan merupakan salah satu orang yang paling berkuasa di Ukraina. Firtash diyakini merupakan salah satu pendukung utama presiden terguling Viktor Yanukovych yang dilengserkan kelompok pro-Eropa bulan lalu dan kini kabur ke Rusia.
(VoA/f)
Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.