Tanah Karo (SIB)- Badai abu vulkanik erupsi Sinabung, sejak Rabu (8/1) sampai, Jumat (10/1) merusak 10.779,49 hektar lahan pertanian warga di 7 desa, radius 4 kilometer puncak kawah. Kerusakan parah tampak jelas di Desa Sigarang garang, Kutarayat, Kuta Gugung, Kebayaken, Sukanalu, Bekerah dan Simacem.
Kadis Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo Agustoni Tarigan, kepada wartawan, Senin (13/1) menyatakan angka itu masih sementara, mengingat aktivitas Sinabung belum usai. Material abu campur pasir yang keluar dari lubang sulfatar Sinabung, menimbun sejumlah jenis komoditi pangan, holtikultura dan perkebunan.
Diuraikannya, dari hasil survei Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo, dampak erupsi gunung tiga hari belakangan yang mengeluarkan material berat (abu dan pasir yang bercampur air hujan) menjadi sedimen, menyebabkan terjadinya gagal panen terhadap sejumlah komoditi petani. Di antaranya tanaman pangan, seluas 1.636,62 Ha, Holtikultura 7.120,29 Ha dan perkebunan 2.857.48 Ha.
Pantauan wartawan di lapangan, abu vulkanik campur pasir yang terkena air hujan, menjadi sedimen di atas lahan pertanian warga. Tanaman penduduk secara kasat mata seluruhnya berwarna putih keabu-abuan dan sulit dikenali jenisnya. Bahkan komoditi holtikultura yang baru ditanam, rata dengan tanah dan tertimbun di kedalaman variatif, antara 3 Cm sampai 10 Cm.
Para pengungsi yang ditemui wartawan di camp penampungan mengaku sangat sedih mendengar peristiwa yang melanda desa mereka. Apalagi tumpuan harapan akan perolehan materi dari tanaman yang ada diladang kini menjadi pupus.
Beberapa diantaranya tidak lagi mampu memberi komentar, hanya terduduk lesu sambil mengeluarkan air mata.
“Apalagi yang bisa kami harap akan saat ini. Hampir seluruh impian kami sirna. Bagaimana nantinya kami ini jika erupsi usai. Tidak terpikirkan lagi, bisa-bisa menjadi depresi, apalagi kepastian kapan pulang belum ada mengingat aktivitas gunung masih tetap tinggi.
Hanya bisa berserah kepada Yang Kuasa,†ujar Meninta Br Sembiring warga asal Desa Sigarang-garang sambil mengusap air matanya.
Beberapa di antara pengungsi yang ditemui di lapangan saat mengevakuasi barang yang tersisa dari rumah mereka, sudah mengalami keputusasaan. “Dari pada begini terus, sebaiknya kami direlokasi saja.
Sudah letih begini terus, sejak September tahun 2013 lalu. Jantung kami tidak lagi normal, anak-anak juga mengalami trauma berat,†papar Ginting warga Desa Simacem.
Menurutnya, hal yang terbaik saat ini adalah proses relokasi perkampungan zona merah sesuai rekomendasi pihak PVMBG. Karena bagaimanapun kedepannya, kawasan itu tetap akan mengalami masalah yang sama, seperti pada 2010 lalu, 2013, 2014, dan tahun-tahun mendatang. Oleh karenanya pemerintah diharapkan segera bertindak bijaksana.
“Jika sudah dipindahkan, tentunya kami tidak akan lagi sesengsara ini. Tetapi mengapa diperlambat, itu yang mulai menjadi pertanyaan. Kami dengar pemerintah pusat sudah menyiapkan dana relokasi, tetapi mengapa tersendat di Pemerintahan Kabupaten Karo dalam hal lokasi. Jangan sempat warga pengungsi bertindak, bisa berakibat fatal. Jadi sebelum terjadi, pikirkanlah,†tegas Ginting.
Terkait rencana relokasi, Komandan Satgas Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana Erupsi Sinabung, Sabrina Br Tarigan kepada wartawan mengatakan belum dapat memberi rincian pasti. “Masih dalam pembahasan. Kita akan melakukan yang terbaik bagi warga pengungsi, khususnya yang berasal dari kawasan zona merah,†ujarnya.
Disinggung rencana lokasi relokasi oleh Pemkab Karo terhadap sejumlah desa yang rawan bencana, khususnya ancaman bahaya aliran lava pijar dan awan panas, Dan Satgas, juga belum dapat memastikan tempat perpindahan.
Sesuai keterangannya, saat ini masih dalam kajian Bapedda Pemkab Karo.
Sehubungan lahan, rumah warga, dan fasilitas pemerintah yang rusak di radius 3-4 kilometer akibat badai abu vulkanik tiga hari belakangan di pekan lalu, Sabrina Br Tarigan menyatakan akan membuat solusi.
“Akan kita perhatikan nantinya. Sekarang belum dapat kita paparkan secara rinci, mengingat kawasan itu merupakan zona terlarang. Kalau diperbaiki juga tentunya mengancam nyawa para pekerja (tukang),†paparnya.
Back Up Pemkab Karo
Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membantu Pemkab Karo untuk menangani bencana erupsi Gunung Sinabung.
“Bantuan dari pusat akan datang dan sekarang masih di perjalanan,†ujar Komandan Tanggap Darurat Gunung Sinabung, dr Saberina Br Tarigan, di poskonya, Minggu (12/1).
Wanita yang juga Plt Asisten II Pemkab Karo ini menyebutkan, hasil pertemuannya dengan Kemenkokesra dan BNPB di Jakarta bahwa Pemkab Karo tidak sendiri. Pemerintah pusat akan mem-back up penanganan erupsi Gunung Sinabung.
“Mereka berpesan agar memberikan hal-hal yang terbaik ke masyarakat. Anak-anak harus sekolah. Pengungsi tidak boleh tidak makan dan harus memiliki tempat tinggal. Semua harus di-handle,†katanya.
Sebelumnya, logistik makanan di posko utama yang digunakan untuk menampung bantuan sebelum disalurkan ke posko pengungsian mengalami krisis. Dalam beberapa hari terakhir, posko yang ditangani Pemkab Karo ini tidak melakukan aktivitas masak memasak untuk kebutuhan para relawan dan sejumlah petugas yang berada di posko.
Namun, Saberina membantah jika itu disebabkan oleh krisis logistik makanan di posko tersebut. Menurutnya, dapur umum yang dalam beberapa hari terakhir tidak beraktivitas karena petugasnya yang enggan untuk memasak.
“Itu hanya karena orang ini yang malas masak. Waktu ditelpon ada masalah di sini, saya langsung bilang beli saja,†katanya.
Saberina menambahkan, badan jalan penghubung yang sempat menutup akses menuju Sinabung juga sudah dibersihkan. Dia juga membantah adanya rumah permanen milik warga yang rubuh lantaran terkena erupsi gunung.
“Rumah yang rubuh itu rumah di ladang, beratap tepas. Nanti kita akan perbaiki itu. Tapi, yang runtuh bukan rumah yang ditinggali warga,†pungkasnya. (B1/d)