Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026
Sejak Berdiri Sudah 4 Kali Ganti Lantai

Truk Perkebunan dan Lemahnya Pengawasan Bina Marga Dituding Biang Kerok Rusaknya Lantai Jembatan Negeri Lama

- Senin, 20 Februari 2017 18:43 WIB
374 view
Truk Perkebunan dan Lemahnya Pengawasan Bina Marga Dituding Biang Kerok Rusaknya Lantai Jembatan Negeri Lama
Fadli Hasibuan SPdI
Negeri Lama (SIB) -Lemahnya pengawasan Bina Marga UPT. Jalan dan Jembatan Rantauprapat dan puluhan truk setiap hari melintasi jalan provinsi kelas III B sekaligus  jembatan Negeri Lama  dituding menjadi penyebab rusaknya lantai jembatan tersebut di dua  titik di Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu.

Truk perusahaan raksasa itu mulai dari tronton hingga trinton serta truk tangki Crude Palm Oil (CPO = minyak mentah kelapa sawit) mengangkut 30  ton setiap trip.
Demikian diungkapkan Ketua Badan Kerjasama Pemuda-Pemudi Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) Kecamatan Bilah Hilir  Fadli Hasibuan, SPdI ketika berbincang dengan beberapa wartawan di kedai kopi di kota  Negeri Lama, Senin kemarin.

"Ini fakta, truk perkebunan penyebab rusaknya lantai jembatan itu, logikanya kalau tidak over tonase maka sopir tidak dapat gaji," tegasnya.

Dikatakannya, jalan provinsi kelas III B sesuai dengan  Undang Undang Lalulintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009 pasal 19 Ayat 2 C menyebutkan sumbu muatan terberat adalah 8 (delapan) ton.

Selain itu lanjutnya, pasal 258 undang-undang itu menyebutkan masyarakat wajib berperan serta dalam pemeliharaan sarana dan prasarana jalan, pengembangan disiplin dan etika berlalulintas, dan berpartisipasi dalam pemeliharaan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan.

Bukan hanya itu, ungkap mantan Ketua SPSI, salah satu perkebunan swasta itu, ketentuan Pidana pasal 274 ayat (1) menyebutkan setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan/atau gangguan fungsi jalan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.24.000.000, (Dua puluh empat jutas rupiah).

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Persatuan Wartawan Bilah Hilir Labuhanbatu (Perwabih) Sofyan Ritonga, lemahnya pengawasan Dinas Bina Marga UPT. Jalan dan Jembatan Rantauprapat  'menyumbang' percepatan atas kerusakan lantai jembatan dimaksud.

"Bulan puasa tahun lalu, warga sudah lakukan demo atas situasi ini, bahkan surat protes sudah dilayangkan ke  Bina Marga Provinsi namun tak ada respon, Dinas Bina Marga kenapa tutup mata?" ungkap Sofyan.

Pihaknya meminta Bina Marga Provinsi jangan tutup mata atas situasi ini, sebab bila tidak ada reaksi maka Bina Marga Provinsi dituding telah 'main mata'  dengan pengusaha angkutan.

Pantauan wartawan truk tronton dan trinton  perusahaan perkebunan  raksasa yang setiap hari melintasi jembatan dimaksud adalah milik PT Hari Sawit Jaya anak perusahaan Asian Agri Group mengangkut tanah gunung guna menimbun lahan perkebunan, truk  tangki CPO hasil dari dua pabrik, TBS, Pupuk, beras. Kemudian tronton PT. Cisadane Sawit Raya (CSR) mengangkut TBS dan Tangki CPO, Tronton PT. Daya Labuhan Indah (DLI) mengangkut CPO dan TBS, Truk Tangki CPO, tronton mengangkut pupuk milik kontraktor  PTPN 4 Unit Ajamu 1, Tronton mengangkut pupuk untuk PTPN 4 Unit MEP, Lalu Trinton pabrik PT. SUJ mengangkut CPO dan TBS, Trinton milik PT. LTS dari Sei Rakyat Kecamatan Panai Tengah mengangkut TBS.

Selasa (14/2) pukul 14.30 WIB,  beberapa wartawan mencoba konfirmasi dengan mendatangi kantor Bina Marga UPT. Jalan dan Jembatan, namun tak tampak satu pegawai di ruangan itu. Pantauan wartawan hanya ada parkir satu unit sepedamotor namun pemiliknya entah kemana.

Humas PT. Hari Sawit Jaya  (HSJ) Gregorius Bangun ketika dikonfirmasi minggu kemarin melalui selularnya kepada wartawan menolak berkomentar. "Terkait hal tersebut jangan lah dulu," ungkapnya.

Saat ini, Perusahaan Asian Agri Group berencana membangun satu Unit Pabrik Kelapa sawit lagi  di Desa Sidomulyo menambah dua unit pabrik yang sudah beroperasi.

Humas PT.DLI Chairul Abdi kepada wartawan melalui selularnya minggu kemarin  mengatakan anak perusahaan Group Wilmar itu siap membantu pemerintah terkait jembatan Negeri Lama. "Kemarin dipenuhi permintaan tanah untuk menimbun lantai jembatan itu dan sudah dipenuhi," ungkapnya.

Sementara itu, Humas PT.CSR Safrizal Harahap  ketika dikonfirmasi melalui selularnya mengatakan dirinya masih sedang di tengah perjalanan. "Saya masih di perjalanan menuju kebun, pak," ungkapnya.

R Azwan akrab disapa Toto (59) warga Negeri Lama Lingkungan Titi Panjang kepada wartawan mengatakan lantai jembatan Negeri Lama itu sudah empat kali diganti. "Lantainya sudah empat kali diganti semenjak jembatan itu berditi," ungkapnya.

Dirinya yang sering terlibat di dalam pembangunan jembatan di berbagai daerah itu menyarankan bila dilakukan penggantian lantai jembatan itu agar nantinya memakai pilar tengah. Hal itu didukung dengan lebar yang mencapai 6 meter, kalau lebar jembatannya 5 meter tidak perlu pakai pilar. (D17/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru